expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Monday, 3 July 2017

Wisata Selfie di Taman Lampu Sindu Kusuma Edupark Yogyakarta

Ada kabar gembira nih bagi kalian yang hobi selfie. Saat ini di Yogyakarta sudah dibuka tempat wisata baru yang dijamin bakal memanjakan para penyuka selfie. Sindu Kusuma Edupark atau yang biasa disingkat SKE, belum lama ini resmi membuka wahana taman lampu seluas 1,2 hektar dengan nama Light Festival Spektakuler, pertama di Yogyakarta. Saat ini taman lampu SKE menjadi salah satu tempat wisata malam yang ngehits di Yogyakarta. Dilengkapi jutaan lampu LED yang gemerlap dan wow, taman lampu SKE dijamin akan memanjakan para penyuka selfie. Taman lampu ini terletak di Sindu Kusuma Edupark, Mlati, Jambon, Yogyakarta atau tepatnya di Jalan Magelang Km.2, Jambon Yogyakarta. Ada sekitar 18 tema lampu dalam festival tersebut, konon teknologinya didatangkan dari Korea loh, keren banget 'kan. Masuk ke taman lampu ini, pengunjung akan takjub dengan berbagai kreasi jutaan lampu LED dalam berbagai bentuk yang semakin gemerlap karena efek cahaya.

antrian tiket tadi malam
Menghabiskan sisa libur lebaran yang tinggal satu hari, tadi malam (Sabtu, 1/7), saya dan keluarga mengunjungi taman lampu SKE. Kami tiba di sana sekitar jam 19.00, dan pengunjung sudah sangat ramai. Saya lihat antrian tiketnya cukup panjang. Pada banner yang ada di depan loket tertera harga tiket dan paket terusan di SKE, tapi sayangnya saya lupa untuk foto. Kurang lebih harga tiket masuk dan paket terusannya sebagai berikut:

1. Tiket masuk adalah 15 ribu/orang, namun harga ini tidak termasuk tiket masuk ke taman lampu dan wahana bermain. Untuk bisa masuk ke taman lampu, pengunjung minimal harus membeli paket seharga 45 ribu/orang. 
Harga ini meliputi tiket masuk SKE, tiket masuk taman lampu, dan gratis 2 wahana yang ada di dalam taman lampu, yaitu kursi terbang dan kereta mini. 

2. Selain paketan tersebut ada pula paket terusan seharga 70ribu/orang, yang meliputi tiket masuk SKE, tiket masuk taman lampu dan dapat mencoba semua wahana permainan yang ada di dalam taman lampion. 

3. Selain itu ada juga paket seharga 100 ribu/orang, dengan paket tersebut selain bisa mencoba semua wahana yang ada di taman lampu, pengunjung juga bisa menikmati wahana yang ada di luar taman lampu, yaitu rumah teror (rumah hantu), bioskop dan bianglala raksasa. 

Memang kalau melihat harga tiketnya agak mahal ya, tapi jangan salah menilai dulu sebelum melihat langsung taman lampunya, karena dengan harga tiket segitu, menurut saya sebanding dengan pemandangan yang bisa kita lihat di dalam. Kami membeli tiket paket harga 45 ribu, karena tujuan utama kami ke sini adalah untuk menyaksikan taman lampunya. Ada pengkhususan bagi pengunjung lansia yang berusia di atas 65 tahun, gratis tiket masuk SKE, namun tidak termasuk tiket masuk ke taman lampu. Kami membeli 5 paket seharga 45 ribu, tidak termasuk Juno, karena dia belum setinggi 90 cm, jadi tidak perlu tiket masuk. Dengan membeli tiket masuk pengunjung juga mendapatkan teh gelas gratis. Saat membeli tiket, pengunjung akan mendapatkan struk pembayaran. Struk ini jangan sampai hilang, karena struk ini digunakan sebagai tanda masuk ke taman lampu.

Saat memasuki pintu masuk SKE, struk pembelian tiket tadi akan diperiksa dan distempel oleh petugas, begitu pula tangan kita. Selepas pintu masuk, pengunjung akan melalui sebuah lorong terbuka, di mana pada dinding di sisi kanan terpasang beberapa poster informasi seperti sejarah media sosial, macam-macam bendungan terkenal yang ada di seluruh dunia, dll

food court yang ada di dalam
Ada beberapa wahana bermain yang berada di luar taman lampu, antara lain bom-bom car, komidi putar, trampolin dan sepeda terbang (sepeda yang jalannya ada di atas). Memasuki taman lampu, petugas akan meminta struk pembelian tiket tadi. Begitu memasuki taman lampu, kita sudah dibuat takjub dengan keindahan warna-warni lampu di pintu masuk, dan selanjutnya mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang semakin indah. Sebelum melanjutnya melihat berbagai tema lampu, kami mencoba wahana kursi terbang yang lokasinya tidak jauh dari pintu masuk taman lampu. Wahana kursi terbang ini termasuk dalam paket.

sepeda terbang

Setelah mencoba wahana kursi terbang, kami melanjutkan langkah untuk melihat tema-tema lampu lainnya. Nah, kalau sudah sampai di sini, jangan lupa disiapkan kamera, handphone, tongsis, dan power banknya ya, karena sepanjang jalan nanti dijamin kalian nggak akan berhenti selfie. Silahkan selfie sepuasnya, nggak bakal ada yang melarang, paling kalau  banyak yang mau foto, tinggal gantian dengan pengunjung lainnya. Berikut ini beberapa tema lampu yang ada di Taman Lampu SKE, semuanya cantik. Chek it out.


Bagi yang ingin duduk santai sambil menikmati keindahan lampu, bisa duduk di bangku yang disediakan di setiap sudut SKE. Tadi malam saya sempat mencoba wahana kursi terbang ini, tidak setinggi yang ada di BNS Malang, tapi nggak kalah seru kok. Yang jelas, di wahana ini kita bisa teriak sekencang-kencangnya untuk melepaskan stres, hehehe.

wahana kursi terbang


propose road
Yang ini namanya propose road. Buat para cowok, kayaknya tema lampu yang ini cocok nih buat nembak cewek, atau ngelamar ceweknya. Pasti akan menjadi unforgotable moment banget deh kalau ditembak atau dilamar di sini. Karena tampilannya yang cute dengan nuansa pink, tak heran jika propose road ini menjadi salah satu tema yang menjadi favorit pengunjung. Tuh banyak yang selfie 'kan?

couple zone


Kalau yang ini namanya couple zone, nggak kalah cantik dengan cupid road tadi ya. Ini baru beberapa loh, masih banyak yang lainnya yang nggak kalah cantik. Melihatnya jadi gemes pengin selfie 'kan. Pesan saya buat para cowok, jangan ngeluh ya kalau pasangannya minta difotoin berkali-kali sampai dapat gambar yang paling bagus. Pengalaman pribadi sih, hehehe.


Setelah couple zone, tema selanjutnya yang tak kalah cantik adalah tema bernuansa biru ini. Saya lupa namanya apa, tapi kayaknya sih temanya laut biru. Coba dihitung ada berapa biji tuh lampunya. Cantik banget 'kan. Dengan backsound lagu-lagu Korea yang syahdu, berada di tempat ini serasa berada di negerinya Mas Lee Min Ho. Sekarang tak perlu jauh-jauh ke sana, cukup di Jogja saja kita bisa menikmati keindahan light festival seperti di Korea.





pohon lampu hampir di seluruh area 

Kalau kalian penggemar bunga mawar dan ingin melihat bunga mawar yang bisa menyala, di sini tempatnya. Tapi jangan dipetik ya, karena yang ini bukan bunga mawar sungguhan, melainkan hamparan lampu berbentuk mawar merah dan putih yang menjadi salah satu tema di taman lampu SKE. Sangat cantik dan cute, sayang untuk dilewatkan 'kan. Yuk, selfie dulu di sini.






Kalau yang ini temanya apa ya, agak-agak mirip Xmas tree ya. Untuk berfoto di sini saya sempat mengantri loh. Tak heran banyak yang ingin berfoto di sini, bentuknya cute banget sih. Rumput yang ada di dalam taman lampu KSE, hampir seluruhnya adalah sintetis, jadi tak perlu kuatir rusak kalau diinjak. Tak jauh dari Xmas Tree ini ada wahana salju buatan, jadi di wahana ini pengunjung bisa menikmati salju buatan, serasa di Korea beneran ya.





wahana salju buatan

ajak pasanganmu untuk foto di sini

Yang ini namanya rain road. Sesuai namanya, saat melewatinya kita akan menikmati indahnya hujan lampu warna warni yang cantik ini. Tema ini juga menjadi salah satu tema favorit pengunjung, termasuk saya. Tuh, banyak sekali 'kan yang berfoto di sana. Kalau nungguin sepinya kayaknya harus bersabar deh. Tak hanya satu atau dua warna saja, tema itu juga bisa berganti warna lho. Cantik sekali ya.





Selain mencoba wahana kursi terbang, kami juga mencoba kereta mini untuk mengelilingi taman lampu. Kereta mini juga termasuk dalam paket. Namun karena jumlah kursinya terbatas, pengunjung harus antri untuk naik kereta mini ini. Kereta ini berjalan dengan sangat lambat karena memang tujuannya supaya pengunjung bisa berkeliling sambil menikmati pemandangan di taman lampu, dalam waktu sekitar 15 menit. Setelah berkeliling dengan kereta mini, kami memilih untuk beristirahat dengan duduk di atas rumput sintetis yang ada di depan wahana salju buatan. Juno senang sekali bermain di sana. 

bianglala raksasa
 puas menyaksikan berbagai kreasi tema lampu LED yang memukau, sekitar jam 22.00 kami keluar dari taman lampu. Tak terasa sekitar 3 jam kami di sana. Meskipun demikian masih banyak pengunjung yang masih ingin menikmati keindahan taman lampu, bahkan saya lihat ada beberapa pengunjung yang baru masuk ke taman lampu. Tak hanya puas menyaksikan berbagai kreasi lampu LED yang sangat menawan, tapi pengunjung juga puas untuk berselfie di sana. Pokoknya nggak rugi deh beli tiket seharga 45 ribu, sebanding dengan pemandangan yang bisa kita saksikan. Nah, penasaran dengan keindahan taman lampu SKE? Atau gemes pengin selfie juga? Yukk, kunjungi Light Festival Spektakuler di Sindu Kusuma Edupark, yang berlokasi di Jalan Magelang Km.2, Jambon, Sleman, buka setiap hari jam 15.00-23.00. Jangan lupa bawa perlengkapan selfienya ya. Selamat beraktivitas.




rumah teror










Saturday, 1 July 2017

Menikmati Keheningan Pagi Telaga Sarangan Magetan Jawa Timur

Lebaran kali ini kami memutuskan untuk berlibur di Telaga Sarangan, Magetan, Jawa Timur seperti pada saat liburan tahun baru yang lalu. (baca:http://ceritamamijuno2.blogspot.co.id/2017/01/wisata-alam-magetan-jawa-timur-part-1.html dan http://ceritamamijuno2.blogspot.co.id/2017/01/wisata-alam-magetan-part-2-air-terjun.html). Kami menyukai suasana di Telaga Sarangan yang sejuk dan tenang, itulah alasan kami memilih Telaga Sarangan lagi sebagai tujuan liburan kali ini. Kami berangkat pada hari kedua lebaran, dari Jogja jam 05.30 pagi. Jalanan kota Jogja yang biasanya masih lengang pada jam tersebut, kemarin tampak mulai ramai kendaraan berplat luar yang sedang melakukan perjalanan mudik melewati Kota Jogja. Kami berangkat dengan kecepatan sedang, karena memang tujuan kami adalah liburan, jadi santai saja. 

Warung Idjo di Jalan Karanganyar-Tawangmangu
Memasuki Solo jalan mulai padat. Sekitar jam 08.00 kami tiba di Karanganyar dan berhenti untuk sarapan di sebuah warung makan di tepi jalan, namanya Warung Idjo. Warung ini berada di tepi jalan Karanganyar-Tamangwangu, tak jauh dari Alun-Alun Kabupaten Karanganyar. Kalau dilihat banyaknya pengunjung di warung tersebut, sepertinya warung makan ini cukup populer di daerah Karanganyar. Pengunjungnya tidak hanya orang lokal saja, namun kebanyakan adalah orang dari luar kota yang mampir untuk beristirat dan sarapan.


sop iga
Sesuai namanya, Warung Idjo, warung makan ini bercat warna hijau, dengan menu yang cukup komplit, mulai dari soto, rawon, sop iga, hingga berbagai macam sayur dan lauk. Kami memesan sop iga dan soto sapi. Ternyata memang benar, masakannya maknyus alias enak, pantes saja pengunjungnya sangat ramai. Bagi kalian yang akan melewati Jalan Karanganyar-Tawangmangu, silahkan mampir ke Warung Ijo ya, sop iganya recommended banget, lokasinya tak jauh dari Alun-Alun Kabupaten Karanganyar.

pemandangan selepas Tawangmangu
Jam 09.00 kami melanjutkan perjalanan. Jalanan ramai lancar, mungkin karena masih pagi atau kebanyakan orang masih sibuk berlebaran bersama keluarga. Mendekati Tawangmangu udara mulai dingin dan pemandangan di sepanjang jalan adalah hamparan kebun sayur hijau yang sangat indah. Pemandangan kebun sayur hijau terus berlanjut hingga Cemara Kandang dan Cemara Sewu, yaitu dua pos pendakian Gunung Lawu. Kalau Cemara Kandang masuk wilayang Jawa Tengah, Cemara Sewu masuk wilayah Jawa Timur.



pemandangan di sekitar Cemara Kandang


kebun sayur hijau di kawasan Sarangan

sepanjang jalan masuk ke Telaga Sarangan
Selepas itu pemandangan berubah menjadi hutan tropis dengan pohon-pohon tinggi sepanjang jalan yang tak kalah indahnya dibandingkan hamparan kebun sayur hijau yang sebelumnya. Jam 12.00 kami tiba di Sarangan, tapi kami tidak langsung menuju ke obyek wisatanya. Awalnya kami bermaksud mencari penginapan terlebih dulu, dan pikiran kami tertuju pada Hotel Purbaya di Jalan Ngerong, tempat kami menginap saat malam tahun baru yang lalu. Kami sempat turun ke bawah ke daerah Ngerong, tempat Hotel Purbaya berada, namun kemudian kami berubah pikiran untuk mencari suasana berbeda dengan mencari penginapan di dalam kawasan Telaga Sarangan. 

kios oleh-oleh dan suvenir di Telaga Sarangan

naik speed boat, 60ribu/2 kali putaran, bisa untuk 5 orang
Untuk masuk ke obyek wisata Telaga Sarangan, harga tiket masih sama, yaitu 10ribu/orang, dan parkir 10 ribu/mobil, dan tiba di sana pengunjung sudah ramai sekali. Kami memutuskan untuk berjalan berkeliling sambil melihat-lihat penginapan. Beberapa kali kami ditawari kamar hotel yang berada tak jauh dari pintu masuk ke Telaga Sarangan, rata-rata mulai harga 500 ribu-1 juta/malam. 

pulau kecil di tengah telaga yang berkabut
Maklum, namanya juga musim liburan, pasti harga penginapan sudah mulai naik. Yang berbeda dengan saat libur tahun baru yang lalu adalah air telaga yang naik hingga mendekati batas tepi. Saat tahun baru yang lalu, airnya tidak setinggi itu, bahkan pengunjung bisa menikmati keindahan telaga tepat di tepinya sambil menikmati sate ayam atau sate kelinci karena para pedagang juga bisa menjajakan dagangannya di tepi telaga. Namun sekarang airnya sangat tinggi, mendekati batas tepi, sehingga pengunjung hanya bisa menikmati keindangan telaga di luar batas tepi (dari atas). Kami sempat menaiki speed boat untuk mengelilingi telaga dengan harga sewa 60ribu/2 kali putaran. Well, sebenarnya saya takut sekali naik kapal, perahu, ataupun speed boat, namun karena penasaran, sayapun mencoba, walaupun harus melawan ketakutan. Dua kali putaran ditempuh sekitar 15 menit, rasanya lama sekali bagi saya yang sudah gemetaran.

Wisma Puspa di Telaga Sarangan
Setelah naik speed boat, kami jalan lagi untuk mencari penginapan. Hingga di ujung di mana setelahnya tidak ada lagi penginapan, kami ditawari oleh seorang bapak, kamar di sebuah wisma, namanya Wisma Puspa. Terlihat di halaman wisma yang cukup luas ini terdapat umbul-umbul (bendera) Perhutani, mungkin memang dikelola oleh Perhutani, pikir saya. Petugas hotel mengantar kami untuk melihat kamar, kebetulan tersisa 2 kamar yang tepat menghadap ke telaga dengan harga 300ribu/malam. 

kamar di Wisma Puspa, 300ribu/malam

salah satu sudut telaga
Kamarnya cukup bersih. Karena kami bertujuh, kami memang berencana menyewa 2 kamar. Kata petugas wisma, saat ini harga sewa kamar sudah naik 30%, dan besok pagi harga naik 100%. Karena cocok dengan kamar dan viewnya, kami ambil kedua kamar tersebut dengan harga 300 ribu/kamar untuk 1 malam. Kamarnya cukup luas dengan queen bed, kamar mandi air panas, televisi, dan almari, dan viewnya yang langsung menghadap ke telaga, saya rasa harga tersebut sudah lumayan murah. Setelah mendapat penginapan, kami melanjutkan mengelilingi telaga dengan berjalan kaki. Kami menawari Juno untuk naik kuda berkeliling namun dia menolak, alhasil ketika dia capek jalan kaki, kami berdua bergantian menggendongnya. Lumayan juga jalan kaki sekitar 1 jam, setidaknya piknik sekalian membakar lemak, hehehe. 


jalan santai mengelilingi telaga


pemandangan di salah satu sudut telaga


memetik stroberi
Selesai mengelilingi telaga kami tidak langsung ke wisma, namun kami keluar dari dari kawasan Telaga Sarangan menuju ke telaga kecil yang berada di desa Ngerong, tak jauh dari Telaga Sarangan, yaitu Telaga Wahyu. Berbeda dengan Telaga Sarangan yang merupakan telaga alam, Telaga Wahyu adalah telaga buatan dengan maksud sebagai sumber pengairan perkebunan sayur di sekitarnya, dengan ukuran yang tidak begitu luas. Tampak beberapa pria sedang memancing di tepi telaga. 



ini dijual di depan kebun, seger banget ya
Tujuan utama kami ke sini adalah menuruti permintaan Juno untuk naik perahu kayuh berbentuk bebek. Saat liburan tahun baru lalu kami naik perahu bebek, dan sekarang dia ingin naik lagi. Dengan membayar 40ribu pengunjung bebas menyewa perahu bebek ini untuk mengelilingi telaga sepuasnya. Setelah puas mengelilingi telaga, kami menepi dan menuju ke salah satu warung makan di sana. Warung makan tersebut berada di tengah kebun kacang tanah yang subur, membuat kami betah berlama-lama di sana. Setelah makan, tujuan selanjutnya adalah ke kebun stroberi yang tak jauh dari Telaga Wahyu. Seperti saat liburan yang lalu, kali ini kami juga belum beruntung karena stroberinya sudah habis dipanen, hanya tinggal buah yang belum begitu matang, meskipun demikian kami tetap turun ke kebun stroberi supaya Juno tidak kecewa.


Telaga Wahyu tak jauh dai Telaga Sarangan, naik perahu bebek 40ribu sepuasnya

makan sate kelinci di Telaga Wahyu, di tengah kebun kacang



pemandangan dari wisma saat petang
Setelah puas bermain di kebun Telaga Wahyu dan kebun stroberi, kami kembali ke wisma sekitar jam 17.00. Rencananya setelah beristirahat sejenak, malamnya kami berencana untuk jalan-jalan di sekitar telaga, karena saya lihat banyak kuliner yang sayang untuk dilewatkan, ada sate kelinci, sate ayam, bakso, jagung bakar, gorengan panas atau sekedar ngopi. Menunya sih biasa saja, tapi jarang-jarang 'kan makan bakso atau gorengan panas sambil ngopi di tepi telaga? Sayang beribu sayang, selepas magrib hujan deras mengguyur Sarangan membuat rencana kami batal. Udara di Sarangan yang sudah dingin menjadi semakin dingin karena hujan, telaga sudah tidak tampak lagi karena tertutup kabut. Begitu pula lampu-lampu hotel dan warung di sepanjang telaga, gelap bukan karena lampunya tidak dinyalakan, namun karena tertutup kabut. Kami menunggu hingga jam 20.00, namun hujan tak juga berhenti, akhirnya  kami keluar dengan payung untuk mencari makanan. Ternyata di dekat pintu masuk telaga masih ramai wisatawan dan pedagang makanan. Karena wisma kami paling ujung, jadi di sekitar wisma sudah tidak ada lagi pedagang makanan, ditambah hujan deras, otomatis tidak ada warung di sekitar wisma yang buka. Kami membeli jagung bakar, bakso, dan gorengan panas untuk dimakan di wisma. Harganya relatif murah, meskipun musim liburan, naiknya tidak begitu signifikan, misalnya bakso 11ribu/porsi, gorengan 2 ribu/3 biji, jagung bakar 8ribu/biji. 

pemandangan di depan wisma selepas subuh


kabut mulai berangsur naik

menyiapkan speed boat
Selepas subuh kami keluar wisma, udaranya masih dingin tapi tidak sedingin tadi malam, dan dinginnya pagi itu tak menyurutkan niat kami untuk menikmati keindahan Telaga Sarangan di pagi hari. Kami bisa menyaksikan matahari terbit tepat di depan wisma. Asli...indah banget. Belum banyak orang saat itu, hanya 1-2 orang lokal yang memandikan kudanya untuk bersiap mengais rejeki hari itu, 1 orang mulai membuka penutup speed boat dan mulai membersihkannya, dan 3-5 orang wisatawan jogging mengelilingi telaga dan tampak pula beberapa anak kecil yang mengelilingi telaga dengan menaiki kuda. 


suasana pagi hari di Telaga Sarangan di pagi hari




cantik sekali ya
Saya takjub dengan pemandangan telaga di pagi itu, hening dan damai, pemandangan yang luar biasa indah. Bukit di sekeliling telaga yang tadinya tertutup kabut mulai berangsur terlihat berwarna coklat keemasan terkena sinar matahari. Hanya ada satu kata yang bisa menggambarkan pemandangan pagi itu, menakjubkan. Dan ita hanyalah butiran debu di hadapan lukisan Tuhan yang Masya Allah indah luar biasa ini. Saya masih berdiri di sana hingga sang surya membuat pemandangan ini terlihat jelas dengan sempurna. Setelah kabut hilang, pemandangan menakjubkan ini semakin terlihat jelas. Air telaga yang tenang berkilau karena sinar matahari, bukit berwarna coklat keemasan dan tampak di kejauhan Gunung Lawu yang tinggi menjulang. Saya suka sekali pemandangan ini, rasanya tenang dan damai. Coba ya lokasinya tidak jauh dari Jogja, pasti saya sering ke tempat ini pada pagi hari.


pedagang tanaman di Telaga Sarangan

Pedagang sate ayam dan sate kelinci

Suasana di sekitar telaga

Kios buah dan sayur di Telaga Sarangan
Setelah puas menikmati pemandangan yang sempurna ini, kami menyusuri jalan di sepanjang telaga. Aktivitas mulai tampak, pedagang-pedagang mulai menjajakan dagangannya. Yang paling banyak adalah pedagang nasi pecel. Tampak pula beberapa wisatawan mulai menyewa speed boat untuk mengelilingi danau, memecah keheningan yang sempat saya nikmati beberapa saat sebelumnya. Kios-kios buah, sayur dan tanaman mulai buka. Suasananya berbeda sekali dengan beberapa saat sebelumnya yang begitu hening, kini mulai berangsur ramai, ditambah deru suara mesin speed boat. Suasana hening dan damai tadi sudah berganti dengan rutinitas pagi para pedagang yang memanfaatkan musim liburan untuk mengais rejeki. Hemmm, thanks God tadi kami bisa bangun pagi sehingga tidak melewatkan pemandangan yang indah tadi. 


ibu penjual nasi pecel
Saat menyusuri jalan tadi kami berpapasan dengan seorang ibu penjual nasi pecel yang menawari kami, dan kami meminta ibu tersebut untuk ke wisma kami, dengan maksud pasti dagangan si ibu akan laris karena di sana banyak tamu. Dan benar, saat kami kembali ke wisma, tampak si ibu tadi sedang sibuk melayani pembeli yang merupakan tamu wisma. Tak ketinggalan kamipun memesan pecel untuk sarapan. Hemmm...so yummy, top markotop deh pokoknya. Makan nasi pecel, dengan sayuran segar yang dipetik dari kebun langsung, dengan pemandangan Telaga Sarangan yang tak lagi hening karena sudah banyak speed boat di tengahnya. Ahh, saya jadi teringat lagu jadul saat saya masih kecil dulu, "Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu...Kemesraan ini ingin ku kenang selalu...Hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu...Hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu". Lagunya Rafika Duri ya kalau tidak salah. Dari lagunya bisa ketebak nih usia saya berapa, hehehe. Nah, penasaran 'kan dengan keindahan Telaga Sarangan di pagi hari? Silahkan dijadwalkan ya.

See you next time Telaga Sarangan, I'm falling in love with your morning beauty, so quiet and peaceful. Surely, I will visit you again.


Thursday, 29 June 2017

Sensasi Minum Teh di Kaki Gunung Lawu: Rumah Teh Ndoro Donker Karanganyar

Saya yakin di antara kalian pasti banyak yang suka minum teh seperti saya. Selain mudah membuatnya, teh merupakan minuman yang cocok di segala suasana, mau disajikan dingin atau panas, teh tetap menjadi favorit. Saya pribadi paling suka minum teh di pagi hari, saat hendak mulai bekerja. Maklum, kalau pagi 'kan terburu-buru, jadi sudah tidak sempat lagi untuk bikin teh di rumah, jadi ngetehnya di kantor. Biasanya, pada malam hari sepulang kantor saya juga menyempatkan untuk bikin segelas teh hangat, dengan sedikit gula. Kalau sehari saja belum minum teh, rasanya ada yang kurang. Yes, I'm a tea lover.

Minum teh di rumah atau di rumah makan mungkin sudah biasa ya. Lalu apa jadinya ya kalau menikmati secangkir teh hangat di tengah kebun teh yang berada di kaki gunung? Wahh, sounds so romantic, pasti nikmat sekali ya. Pada postingan kali ini saya akan menulis pengalaman saya menikmati sensasi minum teh di tengah kebun teh yang berada di kaki Gunung Lawu, tepatnya di Jalan Karangpandan-Ngargoyoso, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar Jawa Tengah, yaitu Rumah Teh (Tea House) Ndoro Donker. Sebenarnya sudah lama saya ingin mengunjungi Ndoro Donker, namun belum ada kesempatan. Akhirnya pada libur lebaran kali ini, saya menyempatkan ke sana bersama keluarga sepulang dari berwisata di Telaga Sarangan, Magetan, Jawa Timur. Sekitar jam 13.00 kami tiba di Ndoro Dongker, dan saat itu hujan deras mengguyur wilayah Karanganyar dan sekitarnya. Ndoro Donker merupakan sebuah restoran di sebuah bangunan kuno berarsitektur Belanda warna putih. Tiba di sana, terlihat pengunjung penuh sekali, bahkan kami harus menunggu pengunjung lain yang sudah selesai untuk bisa duduk, karena semua meja di dalam restoran penuh. Sebenarnya meja-meja di taman kosong, tapi karena hujan deras sekali, terpaksa kami menunggu. Setelah menunggu sekitar 15 menit, seorang waitress mengantarkan kami ke sebuah meja kosong yang berada di dekat kebun teh.


Antri menunggu meja yang kosong

Ndoro Donker saat musim liburan

menu lainnya

salah satu sudut di Ndoro Donker
Oiya, restoran ini semi outdoor, di bagian belakang terbuka, sehingga kita bisa melihat pemandangan di luar, yaitu kebun teh yang hijau dan tampak perbukitan di kejauhan. Terlihat di buku menu, banyak pilihan menu yang ditawarkan, mulai dari makanan ringan, makanan berat, dan tentu saja yang paling utama adalah teh nya. Namun kami masih kenyang karena belum lama makan siang, jadi di sini kami hanya memesan teh panas. Lagipula, melihat banyaknya pengunjung di sana, saya agak kuatir jika memesan makanan, akan membutuhakan waktu yang lama. Kami memesan 1 teko honey tea panas yang bisa untuk 4 orang dan 2 jasmine tea. Sambil menunggu pesanan kami datang, saya berkeliling untuk melihat-lihat dan tak lupa memotret.


area indoor
area outdoor




harganya standar
Selain menyediakan berbagai varian teh dan menu makanan, Ndoro Donker juga menjual produk teh kemasan dan suvenir-suvenir cantik berupa mug, cangkir, dan toples berada di sekitar kasir. Di sana tampak pula beberapa foto jaman Belanja yang dipajang di area kasir. Di sana juga tedapat spot-spot selfie yang cantik bagi pengunjung. Tempatnya bersih, luas dan sejuk, sayangnya saat itu hujan sangat deras, sehingga kami tidak bisa berkeliling di tamannya. Setelah menunggu sekitar 15 menit, pesanan kami datang, 1 teko honey tea seharga 35 ribu dan 2 cangkir jasmine tea panas seharga 10 ribu/cangkir. Sebelum meminumnya kami harus menambahkan gula pasir sesuai selera. Hemmm...honey tea nya berasa sekali aroma madunya, begitu juga jasmine teanya, harum melatinya sangat terasa. Badan kami yang tadinya terasa dingin karena cuaca hujan deras, kini berangsur hangat. Sekitar 1 jam kami berada di sana. Dan selama kami di sana, pengunjung terus berdatangan, ramai sekali.




kebun teh di sekeliling Ndoro Donker
Setelah hujan mulai reda kami beranjak dari meja kami dan melanjutkan perjalanan pulang ke Yogyakarta, namun tidak lupa kami menyempatkan untuk foto-foto terlebih dulu di Ndoro Donker dan kebun teh. Mengenai nama Ndoro Donker ternyata ada sejarahnya. Pada jaman dulu ada seorang Belanda bernama Donker yang tinggal di daerah Kemuning. Sedangkan "ndoro" dalam Bahasa Jawa berarti tuan. Tuan Donker merupakan seorang ahli tanaman yang memilih hidup di desa untuk mengembangkan perkebunan teh di daerah tersebut, dan memang benar saat ini sektor perkebunan di Desa Kemuning, khususnya perkebunan teh bisa dikatakan maju. Apalagi dengan adanya restoran Ndoro Donker ini, banyak wisatawan yang mengunjungi daerah ini. 


teh kemasan yang dijual

mugnya lucu ya

yang ini juga teh kemasan

Oiya, tak jauh dari Rumah Teh Ndoro Donker terdapat obyek wisata candi, yaitu Candi Cetho yang merupakan salah satu situs candi Hindu, yang berlokasi di daerah Karang Pandan, sekitar 6 km dari Ndoro Donker. Jadi kalau mau ke Candi Cetho, pasti melewati Rumah Teh Ndoro Donker. Nahh, jika kalian ingin merasakan sensasi minum teh yang tidak biasa di tengah kebun teh yang sejuk dan asri, jangan lupa mampir ke Rumah Teh Ndoro Donker yang berlokasi di Jalan Karangpandan-Ngargoyoso, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar Jawa Tengah. Selamat berlibur.