expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Saturday, 8 April 2017

When Mommy Back to Campus Part #7 (Berdamai Dengan Semua)

sumber: www.earlymam.com
Banyak orang yang menganggap saya sangat enjoy dengan "aktivitas nyambi saya" (baca: studi). Katanya kuliahnya berat, katanya tugasnya banyak, katanya kerjaan juga banyak, kok tampaknya hepi-hepi saja? Kok masih bisa ketawa ketiwi? Kok masih sempet jalan-jalan? Kok masih sempet nonton? Kok masih sempet karaokean? Kok masih sempet selfie-selfie? hahaha. Dan biasanya kalau ada yang mengatakan seperti itu, saya hanya tertawa saja, tanpa berkomentar panjang lebar.

Apakah saya enjoy dengan studi saya? Rasanya ini sudah saya jawab di part #6. Ya, saat ini saya menikmatinya. Namun  ini tentu saja ini tidak muncul begitu saja, butuh proses. Di awal semester satu, bisa dibilang masa-masa terberat saya. Sering muncul perasaan menyesal dan menganggap sekolah lagi adalah suatu kesalahan. Saat itu saya stres berat. Dan itu sangat terlihat pada penampilan fisik saya. Bisa bayangin 'kan orang stres kayak apa? Pucat, kuyu, muka lelah, gitu deh pokoknya. Ditambah rasanya pengen nangis, dan emosi saja ketika semua tugas menumpuk dan banyak hal lain yang harus dipikirkan. Sempurna sekali.

Semester 1, saya beradaptasi dengan aktivitas baru yang sangat mengubah ritme hidup saya secara drastis ini. Jam tidur berkurang. Waktu untuk santai dan jalan-jalan juga berkurang. Tidak bisa hepi-hepi. Berkali-kali saya menganggap ini suatu pilihan yang salah. Menjelang ujian akhir semester 1 adalah puncak kestresan saya. Tugas akhir dan ujian yang super wow. Ditambah Juno saat itu sedang sakit, pekerjaan menumpuk, yang ada cuma pengen nangis saja rasanya.

Saya tidak pernah memasang target pada diri saya harus dapat nilai A, harus dapat IPK sekian. Ya, siapa sih yang tidak mau dapat nilai bagus? Saya juga mau. Tapi dengan kondisi sekolah adalah aktivitas "nyambi", dengan segala pontang-pantingnya, tidak mungkin 'kan saya pasang target terlalu tinggi? Ya, saya selalu tekankan pada diri saya, lakukan yang terbaik semampu kamu, tapi jangan ngoyo. Turunkan sedikit ekspektasimu, supaya kamu tidak mudah kecewa dengan apa yang kamu dapat. And it works for me. Saya bersyukur dengan apa yang saya dapat, dan justru kejutan-kejutan indah muncul. Kok bisa ya saya dapat nilai B, padahal saya sudah membayangkan bakal dapat C? Begitu contohnya.

Semester 2, mulai masuk pada kuliah konsentrasi. Kembali ke alasan saya sekolah lagi. Saya tertarik dengan SDM. Dan saya ingin mempelajari SDM lebih dalam lagi. TERLEPAS dengan bidang kerja saya, saya memang "jatuh cinta" dengan SDM. Bersyukur dengan kuliah mandiri, saya bisa memilih jurusan yang memang minat saya. Mungkin ini yang membuat saya "tampak" enjoy. Saya mempelajari apa yang menjadi minat saya, dan atas keinginan sendiri.

Pelan-pelan, saya mulai menikmati proses ini. Walaupun pontang panting dan terseok-seoknya masih tetap ada, tapi saya berusaha menikmatinya setiap prosesnya. Setiap minggu ada hari-hari tertentu di mana saya "hampir gila" karena tidak tidur semalaman nglembur tugas dengan deadline harus diemail jam sekian, paginya kerja, dan dilanjut kuliah. Bisa dibayangkan. Rasanya mungkin seperti sedang melakukan olah raga yang memacu adrenalin, menantang, hehehe.

Selain minat saya di SDM, apa yang membuat saya semangat menjalani proses (panjang) ini? Saya teringat sebelum kami mulai perkuliahan semester 1, seorang dosen yang juga pengelola prodi "menyambut" kami dengan "pesan-pesan mendalam" yang kalau menurut saya terdengar seperti "gambaran mengerikan" kuliah S3. Saat itu beliau berpesan kepada kami, calon mahasiswa, kuliah S3 itu anda harus berdamai dengan semuanya, berdamai dengan diri anda sendiri, berdamai dengan keluarga dan berdamai dengan organisasi tempat anda bekerja sekarang. Saya ingat sekali pesan ini. Beliau menambahkan, banyak mahasiswa yang gagal, karena dia tidak bisa berdamai dengan salah satunya. Serem banget sih, pikir saya waktu itu. Dan ternyata setelah mulai kuliah, memang serem beneran, hehehe.

Berdamai dengan semuanya. Saya tidak mau gagal. Saya ingin menyelesaikan proses ini. Ini berarti saya juga harus berdamai dengan semuanya. 

Saya mulai dengan diri saya sendiri. Banyak hal yang harus saya "kalahkan" untuk menjalani proses ini. Dan semuanya berurusan dengan tiga hal ini, time, energy, money. Waktu menjadi sangat berharga, jangan sampai terbuang untuk urusan nggak penting. Tapi bukan berarti jadi nggak ada waktu untuk keluarga, sekedar jalan-jalan atau ngobrol sama teman ya. Nggak segitunya juga 'kali. Seminggu ada 7 hari, kan masih ada weekend. Ya paling nggak dari jumat-minggu, harus adalah waktu untuk hepi-hepinya. Otak juga harus beristirahat, 'kan? Energi juga harus dihemat, jangan sampai kecapekan, apalagi sakit. Duhh, bisa runyam semua urusan. Jaga kesehatan yang paling penting lah pokoknya.

Well, kuliah mandiri itu selain pontang panting bagi waktu, juga berat di ongkos. Ya iyalah, wong bayar sendiri. Ya mau nggak mau harus berhemat, banyak keinginan yang harus ditunda dulu. Kalau dulu punya planning mau ini itu, travelling ke sana, ke sini....hemm, itu ditunda dulu semuanya. Tunggu 2 tahun lagi, hehehe. Trade off, ketika kita memilih satu hal, hal yang lain harus dikesampingkan. Bagaimana tidak, lha tiap 5 bulan harus bayar semesteran yang jumlahnyan woww, gimana nggak stres mikirnya? hehehe. Jujur, bagi kami (saya dan suami) ini berat bangettt. Tapi udah diniati ya udah mau gimana lagi, ya dijalani aja tho, walaupun harus megap-megap. Positifnya, jadi makin termotivasi untuk bekerja keras. Thanks for your support, honey!

Berdamai dengan keluarga. Ini sangat penting. Dua tahun lalu saya pernah ngobrol dengan seorang teman, yang menceritakan kisah 2 orang temannya yang melanjutkan studi S3, namun di tengah prosesnya mereka mengalami kegagalan dalam rumah tangganya. Sedih banget dengernya. Ya memang sih, masalahnya belum tentu karena studinya, bisa jadi karena masalah yang lain. Tapi itu bisa jadi pelajaran bagi para emak-emak yang kembali ke kampus seperti saya, ingat ya, keluarga tetap nomor 1. Tanpa dukungan keluarga, hal ini mustahil.

Yang ketiga tadi apa ya? Saya kok lupa, hehehe. Oh ya berdamai dengan organisasi tempat bekerja ya. Hemmm, saat ini saya sedang berproses :)

Tidak mudah memang bagi kita para emak yang kembali ke kampus. Harus membagi otak, waktu dan tenaga. Harus mikir keluarga, anak, pekerjaan dan studi. Bagaimana supaya bisa enjoy? Ya harus berdamai dengan semuanya. Diri sendiri, keluarga dan tentu saja organisasi. Tanpa itu semua, hal ini mustahil. Selamat berakhir pekan.


Monday, 3 April 2017

A note for a 35 years old man

Selamat pagi, sayang. 
Khusus hari ini boleh ya aku panggil kamu sayang. Emmm...btw kapan ya terakhir aku panggil kamu "sayang"? Guess it's been a long time, rasanya udah lama banget. Jaman pacaran ya kayaknya. Ah sudahlah, yang jelas, khusus hari ini aku akan memanggilmu "sayang", titik.

Usia 35. Selamat, sayang. Berarti sejak jam 00.00 dini hari tadi kamu bukan lagi masuk kategori orang muda. Hari minggu kemarin adalah hari terakhir kamu menjadi orang muda. Eiitts, jangan ngeyel, sayang. Walaupun kamu ngotot masih merasa muda, tapi penelitian terbaru menyebutkan bahwa seseorang berhenti menjadi muda di usia 35 tahun. Dan kamu sekarang masuk dalam kategori usia pertengahan (middle age) atau paruh baya. OMG...paruh baya sayang. Can you imagine that? Kesannya tua banget. Hehehe.

Kalau dulu usia paruh baya dimulai ketika seseorang mencapai usia 40an, nah kalau sekarang usia paruh baya maju 5 tahun. Jangan dikira aku ngawur ya, ini serius loh, dan ada dasarnya, yaitu penelitian Professor Dominic Abrams yang membuat kategori ini berdasarkan survei kepada 40.000 orang di seluruh Eropa untuk kategori usia paruh baya. Menurut Profesor Abrams, pelabelan usia ini sangat penting untuk memperlakukan seseorang dengan lebih jelas. Oke ya, jadi fix, kamu sekarang masuk kategori middle age alias paruh baya.

Usia 35 tahun ini bisa dibilang usia yang cukup sensitif. Memang sih, angka ya cuma angka saja, namun sebenarnya angka 35 juga menjadi ukuran bagi seseorang atas banyak hal. Sayang, kali ini ijinkan aku memberimu beberapa catatan di usiamu yang sudah termasuk paruh baya ini. Sekali lagi, paruh baya, sayang, hehehe.

Usia 35 itu bukan waktunya untuk senang-senang. Sudah jelas, fase itu sudah lewat, it was so yesterday. Dan sekarang saatnya berjuang untuk mencapai tujuan hidup. Setuju 'kan sayang? You're a family man. Terima kasih, kamu selama ini sudah menunjukkannya, dan tetaplah seperti itu. Maaf sayang, kalau waktu untuk dirimu sendiri saat ini menjadi sangat berkurang, karena harus mensupport aku dan aktivitasku. Maaf ya di saat kamu pengin main futsal atau badminton dengan teman-temanmu, ada saja yang "menahanmu", aku yang harus lemburlah, tugas kuliahku yang wow dan kadang-kadang bikin aku "hampir gila", atau Juno yang rewel. Maafkan aku, sayang. But once, you need to take your time.

Usia 35, sayang, kamu harus bisa mengungkapkan perasaan dengan baik. Well, selama ini aku selalu belajar darimu. Bagaimana tetap "cool" dalam segala situasi termasuk ketika menghadapi masalah. Kamu tetap juaranya untuk urusan yang satu ini. Tapi sayang, kamu tidak cukup pintar untuk mengungkapkan perasaanmu. Entahlah, atau memang itu caranya mengatasi setiap masalah. Tapi kamu tak perlu harus selalu seperti itu. Sesekali kamu boleh marah sama aku. Tegur aku kalau aku salah. Kamu boleh cemburu. Kamu boleh mangkel. Kamu boleh apa saja. Show your feelings. Kita pasangan yang demokratis bukan? Just let me know.

Usia 35, fighter outside, peaceful inside. Tidak seperti ketika kita berusia 20an yang cenderung bergelora, meledak-ledak, emosian nggak jelas, di usia 35 kita harus lebih "adem". Kurasa untuk urusan yang satu ini memang aku yang harus banyak belajar dari kamu, dan kamu juaranya. Dalam kondisi terberat, terpahit, dan tersulit apapun yang kita hadapi, hati tetap harus damai. Jangan lelah untuk mengajariku, sayang.

Usia 35, a wise decision maker. Tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan, namun juga harus hati-hati dan tidak asal dalam mengambil keputusan. Nahhh, kayaknya untuk urusan yang satu ini kamu harus banyak belajar lagi untuk lebih detil dan wellplanned. Kamu masih sering unwellplanned, sayang. Maaf ya kalau aku selalu bawel, rempong, sering marah-marah nggak jelas. Karena kadang kamu terlalu santai, bikin aku gemes, kamu tau 'kan, aku orangnya nggak sabaran. Tapi ya ada untungnya juga aku seperti itu, biar kamu ada yang ngingetin. That's what I'm for.

Usia 35, kata orang identik dengan mapan. Well, mapan itu relatif dan subyektif, sayang. Bisa jadi bagi kita cukup, menurut orang lain tidak seberapa. Atau bisa juga menurut kita belum cukup, tapi menurut mereka cukup. Aku yakin, untuk hal yang satu ini kita sepakat. Mapan tidak selalu identik dengan jabatan, materi, investasi atau travelling sejauh mungkin. Kita sepakat, mapan itu ketika kita bisa menikmati hidup dengan apa yang kita punya, semeleh, sak madyo, dan syukur-syukur ketika kita sudah bisa memikirkan "orang lain" selain kita sendiri. Bismillah, saat ini kita sedang berproses untuk itu, sayang.

Usia 35, ayah, teman, dan teladan bagi anaknya. Dad is a superhero for every kids. Begitu juga Juno, kamu adalah idolanya, kamu segalanya bagi dia. Apapun yang kamu lakukan, itulah yang diikutinya. Kamu ingat, beberapa hari lalu Juno mengambil shaver mu dan menirukan caramu mencukur jenggot. Atau lihatlah betapa girangnya Juno saat kamu ajak jumatan di masjid. Jadi sebagai orang tua, sudah seharusnya kita berhati-hati dalam bertutur kata dan berperilaku. Dan lagi-lagi aku harus belajar banyak darimu yang super sabar menghadapi Juno. Memang, tak ada orang tua yang sempurna, but at least we can do the best for him.

Usia 35, matang menantang. Kata orang usia 35 itu usia yang sangat sexy. Kalau cowok, sebutannya "hot daddy". Sudah pasti yang "hot" dan "sexy" itu lebih menggoda daripada yang unyu-unyu kayak boyband. As for me, you're  hot. Percayalah, di mataku kamu tetaplah yang paling sexy, dan semoga begitu juga aku di matamu. You know what I mean. I'm yours and you're mine. I trust you, you trust me, that's enough. 

Oke sayang, itu tadi beberapa catatan untuk kamu yang hari ini memasuki fase baru dalam hidupmu. Ingat, kamu tidak lagi muda, you're middle aged now. Perbaiki yang kurang baik, teruslah lebih baik, untuk kamu sendiri, untuk aku, untuk Juno, dan untuk kita. 

Without birthday cake, let me say, you're not just my man, you're the father of my son. You're not just my husband and my life partner, you're also the soulmate who gives my life meaning. Happy birthday.

Aku mengenal dikau
Tak cukup lama separuh usiaku
Namun begitu banyak...
pelajaran yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Kan terwujud harmony...

Segala kebaikan...Takkan terhapus oleh kepahitan
Kulapangkan resah jiwa
Karna kupercaya...Kan berujung indah

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai

Kan terwujud harmony... (Harmony-Padi)



 Yogyakarta, April 3rd 2017
 Love you as always, Heny



Saturday, 25 March 2017

Poligami Menurut Saya

Beberapa tahun lalu yang lalu, saat saya masih bekerja di sebuah perusahaan swasta, siang itu seperti biasa saya makan siang dengan beberapa teman perempuan, makan sambil ngobrol. Biasalah obrolan cewek, mulai dari hal yang penting, sampai hal yang nggak penting sama sekali. Kalau para cewek udah ngumpul, yang diobrolin pasti nggak jauh-jauh dari kosmetik, fashion, salon, cowok, ya kayak-kayak gitulah. Maklum, waktu itu kami masih single semua, jadi ya belum ada obrolan soal keluarga atau anak. Girl's talk bangetlah pokoknya.

Hingga akhirnya obrolan kami sampai pada masalah poligami. Well, kok poligami sih? Saya lupa juga kenapa obrolan kami bisa sampai ke soal poligami, padahal saat itu di antara kami belum ada yang menikah. Saat itu kami memiliki argumen masing-masing soal poligami,namun pada dasarnya kami sepakat tidak setuju dengan poligami, karena sebagai akibat dari poligami,biasanya pihak yang dirugikan adalah kaum perempuan, entah itu istri pertama atau istri kedua,biasanya.

Namun ada satu teman saya yang punya argumen yang "berbeda". Menurut teman saya tersebut, tak ada yang salah dengan poligami, bahkan dia dengan sangat yakin menyatakan bersedia dipoligami jika memang begitu yang digariskan Tuhan kepadanya.Beberapa tahun berlalu, dan persepsi saya terhadap poligami tidak berubah. Saya tidak setuju dengan poligami, apapun bentuknya. 

Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan berita poligami yang dilakukan seorang ustadz yang cukup populer karena termasuk ustadz seleb (sering masuk tv & infotainment).Ditambah wajah ganteng, wajar kalau ustadz tersebut populer dan digemari kaum hawa. Emang ganteng sih, tapi bukan itu ya yang mau saya bahas. Jujur, saya termasuk orang yang cukup nyinyir dengan berita ini. Bukan soal poligaminya sebenarnya yang bikin saya nyinyir, toh banyak public figure lain yang berpoligami, walaupun kurang begitu diekspos. Namun yang bikin saya nyinyir adalah karena pak ustadz tersebut berpoligami tanpa sepengetahuan istri ataupun keluarganya, tak tanggung-tanggung, sudah selama 7 tahun. Hemmm...

Jujur, pengetahuan agama saya memang tidak banyak, sepengetahuan saya, menurut syariat Islam, poligami ataupun menikah lagi tanpa izin istri pertama itu diperbolehkan atau sah-sah saja. Namun hal tersebut tidak dibenarkan menurut hukum negara, karena tanpa izin istri yang pertama, pernikahan tidak dapat didaftarkan di Kantor Urusan Agama (KUA), sehingga nikahnya hanya bisa dilakukan secara siri, yang pada akhirnya lemah dalam hal perlindungan hak-hak istri dan anak yang lahir dari pernikahan siri tersebut. 

Jadi poligami yang dilakukan "diam-diam" tanpa sepengetahuan istri pertama memang dibolehkan, tapi alangkah lebih baik jika hal tersebut tetap dibicarakan dengan istri pertama, syukur-syukur atas ijinnya. Seperti kata pepatah better to get hurt by the truth than comforted with a lie. Lebih baik jujur walaupun menyakitkan, daripada bermanis-manis dengan kebohongan, itu akan lebih menyakitkan loh mas bro. Seperti kasus pak ustadz tadi.

Jadi dalam agama Islam, memang poligami itu diperbolehkan atau sah-sah saja, asalkan memenuhi beberapa syarat, sebagaimana disebutkan oleh beberapa ulama, antara lain (1) laki-laki yang perpoligami harus mampu berlaku adil, (2) tidak menyebabkan dia lalai beribadah kepada Allah, (3) mampu menjaga istri-istrinya, dan (4) mampu memberikan nafkah lahir kepada istri-istrinya. (sumber: https://muslim.or.id/12664-4-syarat-poligami.html). Atau mungkin masih ada syarat lain? 

Nah, poligami memang diperbolehkan, namun tetap ada syarat-syaratnya yang harus dipenuhi kan. Yukkk kita ulas satu-satu syaratnya.

1. Harus mampu berlaku secara adil
Suami yang berpoligami, nantinya tidak hanya "dimiliki" oleh istri pertamanya saja, namun, istri pertama juga harus ikhlas "berbagi" suami dengan perempuan lain yang dinikahi suaminya. Dan suami yang berpoligami harus mampu berlaku adil kepada istri-istrinya tersebut, tidak boleh condong kepada salah satu istrinya. Well, apakah para lelaki mampu seperti itu? Berlaku adil itu tidak mudah loh mas bro, dan menurut saya "adil" itu sangat subyektif. 

Oke, misalnya si suami mampu membagi "dirinya" dengan sangat adil menurut dia, namun belum tentu loh adil juga menurut si istri pertama, belum tentu adil juga menurut si istri kedua. Itu kalau istrinya dua, kalau tiga atau empat...ckckckck pusing kan, hehehe.

Dan tidak boleh condong ke salah satu istri saja. Contoh saja, kita punya beberapa pasang sepatu,tentu saja kita suka semuanya,namun pasti ada satu yang paling kita sukai kan? Atau baju, pasti sama juga, ada satu yang paling kita sukai.

Saya pernah mendengar satu pepatah Jawa yang kalau diterjemahkan kira-kira artinya begini "perempuan yang cemburu, ketika badannya bersandar pada pohon pisang, maka batang pisangnya akan "matang" karena panas". Ungkapan ini secara implisit menyampaikan bahwa seikhlas-ikhlasnya seorang perempuan yang dipoligami, pasti tetap memiliki perasaan cemburu, dan ketika dia cemburu, rasa sakitnya luar biasa, diibaratkan sangat panas hingga dapat "membakar" pohon pisang. Well, kalau menurut saya tidak ada manusia yang mampu berlaku benar-benar adil pada orang lain. Hanya Allah SWT Sang Maha Adil.

2. Tidak menyebabkan dia lalai beribadah kepada Allah
Kalau yang ini mungkin tidak perlu dibahas ya. Saya rasa para lelaki yang berpoligami, dan memiliki tingkat keimanan tinggi, syarat ini tidak akan menjadi masalah, dan seharusnya justru semakin meningkatkan keimanannya kepada Allah SWT dan ibadahnya juga semakin baik.

3. Mampu Menjaga istri-istrinya dan anak-anaknya
Tanggung jawab suami adalah menjaga istrinya, agar terjaga agama dan kehormatannya. Ketika dia berpoligami, maka istri yang dia jaga tidak hanya satu, tapi dua atau tiga.Nahhh, dia bisa nggak tuh seperti itu. Dan tidak hanya istri saja yang wajib dijaga oleh suami, dia juga bertanggung jawab menjaga dan mendidik anak-anaknya. Kalau dia baru bisa menjaga satu istri saja dan anak-anak dari istri pertama saja, sedangkan istri yang lain dan anak-anak dari istri yang lain belum bisa dijaganya, hemmm pikir-pikir dulu lah kalau mau berpoligami. Sekali lagi, ini tidak mudah, kalau dalam bahasa Jawa abot sanggane, alias berat tanggung jawabnya lho mas bro, hehehe.

4. Mampu memberi nafkah lahir
Nahhh, ini juga penting, jangan hanya kebutuhan batin saja yang dipenuhi, hehehe. Lelaki bertanggung jawab untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Kalau dia berpoligami, artinya dia tidak hanya bertanggung jawab mencukupi kebutuhan satu istri dan anak-anaknya saja, namun juga kebutuhan istri dan anak-anak yang lain. Bagi para lelaki yang bisa dibilang mapan atau tajir alias harta banjir mungkin tidak jadi masalah. Mau menghidupi dua atau tiga keluarga mah gampang aja, tajir bo', harta nggak bakal habis buat tujuh turunan. Jadi istri-istri dan anak-anaknya bisa hidup nyaman dan tidak kekurangan sedikitpun. 

Namun, bagaimana dengan lelaki yang secara financial pas-pasan? Ibarat kata buat hidup sekeluarga aja masih kurang, eh lha kok pede banget mau poligami. Jangan sampai ya dengan berpoligami, istri dan anak-anak jadi tidak terurus, sekolahnya berantakan, atau istri harus kerepotan cari nafkah. Malah jadi dosa kan. Nahhh, kalau memenuhi kebutuhan satu keluarga saja belum mampu, masa sih mas bro mau berpoligami, aduhhh apa kata dunia dong mas bro. Shame for you.

Itu tadi beberapa syarat poligami menurut para ulama. Mungkin ada syarat lain lagi? Supaya makin berat gitu syaratnya?hehehe.

Ternyata tema poligami tidak hanya menarik untuk didiskusikan, namun juga menarik bagi penulis skenario untuk mengangkat tema poligami ke dalam film. Ada yang pernah nonton film Indonesia yang cukup hits pada tahun 2006 yang judulnya "Berbagi Suami"? Sebuah film yang disutradarai oleh Nia Dinata, menceritakan kisah tiga wanita dari budaya dan latar belakang berbeda, namun sama-sama memiliki suami yang berpoligami. Film yang cukup rumit menurut saya, namun dengan sangat jelas menggambarkan berbagai kisah poligami dari sudut pandang perempuan. Saya tidak akan membahas panjang lebar film ini, yang penasaran silahkan ditonton, hehehe.

Memang sih tidak semua kisah poligami berakhir menyedihkan, ada juga yang berakhir dengan bahagia, setidaknya "tampaknya" bahagia. Saya pernah membaca kisah poligami seorang pengusaha yang menikahi 4 wanita, bahkan istri pertama turut serta "menyeleksi" istri kedua, ketiga, dan keempat, dan bahkan keempatnya hidup rukun, damai, sejahtera. Well, I'm  spechless. Yang pasti, si bapak ini "pasti" mampu memenuhi semua syarat poligami. Mungkin seperti itu.

Setiap orang punya argumen masing-masing tentang poligami, begitu pula setiap istri, mau menolak ataupun menerima poligami, itu hak masing-masing. Apapun bentuknya, sampai sekarang persepsi saya tentang poligami masih sama. Sebagai seorang perempuan, istri dan ibu, saya tidak setuju dengan yang namanya poligami.

Kembali lagi ke syarat-syarat di atas. Secara financial, mungkin banyak laki-laki yang sanggup memenuhinya, namun apakah dia sanggup berlaku adil? Apakah dia sanggup menjaga istri-istri dan anak-anaknya? Itu sangat subyektif. Sekali lagi adil menurut seseorang, belum tentu adil bagi orang lain. Menurut si suami dia sudah berlaku adil, seadil-adilnya, namun bagaimana menurut istri dan anak-anaknya? Apakah adil juga? Bisa jadi tidak. 

Sekali lagi ini hanyalah persepsi poligami dari kacamata saya, sebagai seorang perempuan, istri dan ibu. Saya sangat menghormati pendapat perempuan- perempuan, istri-istri dan ibu-ibu yang lain tentang persepsinya tentang poligami. 

Lalu pertanyaannya, bagaimana kalau itu terjadi pada saya? Ahh saya tidak mau berandai-andai. Saya juga tidak mau membayangkan. Sedikitkan tidak pernah terpikirkan. Have a nice weekend.







Thursday, 2 February 2017

When Mommy Back To Campus Part# 6

http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/
Libur telah usai. Saatnya kembali ke dunia nyata. Tak terasa 1,5 bulan berlalu begitu cepat. Kayaknya baru kemarin Ujian Akhir Semester (UAS), eh sekarang sudah mulai kuliah lagi. Kalau soal libur, kayaknya semua sama aja deh, mau anak SD sampai mahasiswa S3 pun paling senang saat libur sekolah atau kuliah. Tak terkecuali saya. Libur 1.5 bulan itu rasanya udah kayak terbebas dari 'beban hidup'. Lohhh kok beban hidup sih?

Well, pada part sebelumnya saya sudah ceritakan suka dukanya menjadi mahasiswi di saat sudah menyandang status sebagai seorang ibu. Apalagi ditambah status 'bekerja'. Bukan hal yang mudah membagi peran menjadi ibu, istri, pekerja, sekaligus mahasiswi dalam waktu yang sama. Tidak mudah membagi waktu menjalani masing-masing peran. Semuanya penting dan sama-sama harus diselesaikan.

Walaupun saya pernah mengalaminya 2 tahun lalu, tapi sekarang sangatlah berbeda. Totally different. Pada awal kuliah pertengahan tahun lalu, saya sempat shock dengan perubahan ritme hidup saya yang luar biasa drastis. Jam tidur berkurang. Waktu santai berkurang. Me time apalagi. Saya tidak sempat lagi ke salon, ngemall, ngegym, atau hangout dengan teman-teman. Waktu saya habis. Energi saya tak tersisa. Habis untuk bekerja, kuliah, mengerjakan tugas kuliah, dan mengurus keluarga. 

Kuliah lagi mengubah hidup saya. Sangat. Bahkan saya sempat berpikir, memutuskan kuliah lagi bukanlah hal yang tepat, namun sebuah kesalahan, hanya menambah beban saja. Cari masalah, buang waktu, tenaga, dan tentu saja uang. Tugas-tugas yang menurut saya berat banget cukup membuat saya depresi. Ujian bikin saya stres, apalagi jika bersamaan dengan pekerjaan kantor yang sedang full juga. Seperti saat ujian akhir semester lalu, beberapa hari Juno panas, tugas kuliah banyak banget, kerjaan kantor juga menumpuk, ditambah harus persiapan ujian. Komplit sudah. Sempurna sekali. Rasanya pengin nangis dan teriak.

Di satu sisi kuliah lagi bisa berarti 'menambah masalah', namun bukan berarti saya tidak menikmatinya. Saya menikmatinya. Saya menyukainya. Banyak hal yang hanya bisa saya peroleh, saya alami, dan saya pelajari di sini. Saya bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, dengan berbagai latar belakang. Saya belajar. Belajar untuk membuka mata, hati dan pikiran. Saya juga menemukan passion. Sesuatu yang saya sukai, yang membuat saya semakin bersemangat menjalani kehidupan.

Itu beberapa bulan lalu. Satu semester sudah terlewati. Bukan hal yang mudah memang. Dari awal saya sudah menanamkan dalam benak saya. It's not easy being an employed student mom. Peranmu banyak, jadi tak usah ngoyo. Jalani semampunya. Prinsip ini yang saya pegang teguh. Dan saya memang tidak pernah ngoyo, semampunya saja. Turunkan sedikit ekspektasi, supaya tidak mudah kecewa. Turunkan sedikit saja. Begitu pesan salah satu dosen saya.

Liburan kemarin saya benar-benar refreshing. Melepaskan dan melupakan beban sejenak. Menghabiskan waktu bersama keluarga (baca: Juno dan papinya), diri sendiri dan beberapa teman. Well, tapi sepertinya saya refreshingnya kebablasan. Karena tak ada tugas kuliah, tidak lembur, tidak begadang, jam tidur cukup, berimbas pada berat badan saya. Saya belum nimbang sih, tapi saya rasa dalam 1,5 bulan ini, berat badan saya naik sekitar 2-3 kg. Baju-baju mulai tidak nyaman dipakai. Dan hal ini semakin diyakinkan dengan komentar beberapa orang, "Mbak Heny gemukan ya?". Oughh, sumpah itu sangat menyakitkan. Membuktikan kalau kuliah tidak hanya berpengaruh pada hidup saja, tapi juga berat badan. Hehehe. 

Minggu ini adalah minggu pertama kuliah di semester 2. Jujur, berat banget rasanya kembali ke kampus setelah libur cukup lama. Sama aja lah kayak anak SD yang habis libur panjang. Pasti males banget mau masuk sekolah. Belum bisa move on dari liburan kemarin. "Pi, aku males banget mau kuliah lagi, tugas-tugas lagi, begadang lagi," beberapa kali saya mengatakan ini pada Papi Juno. Gini-gini saya juga bisa manja loh, hehehe. Begini kata Papi Juno," Halahh, nanti kalau sudah masuk seminggu juga udah terbiasa lagi kayak kemarin." Huhh, sayapun manyun. 

Hari ini kuliah pertama di semester ini, dan sudah mulai mengambil mata kuliah pilihan sesuai jurusan yang diminati. Saya berencana mengambil konsentrasi Sumber Daya Manusia (SDM), bersama 3 orang teman saya yang lain. Jadi sekelas hanya 4 orang. Teman-teman saya yang lain terpecah menjadi beberapa kelas konsentrasi lainnya. Saya memilih SDM karena sesuai minat saya dan bidang kerja saya. Kuliah pertama hari ini sangat menarik minat saya. Dengan dosen seorang ibu muda yang sangat smart dan penyampaiannya sangat 'enak', kuliah pertama hari ini sangat fun, di luar tugas-tugas berat yang tetap harus kami kerjakan. 

Dengan Bismillah saya memulai semester ini, semoga seterusnya juga tetap fun. Tugas-tugas berat sudah menanti. Welcome 2nd semester. Siap-siap begadang, lembur, wira-wiri, bahkan 'membelah diri'. Satu lagi, siap-siap langsing lagi yaaa, hehehe. Tetap semangat ya teman-temanku seperjuangan, jaga kesehatan, enjoy the process.





Wednesday, 1 February 2017

Wisata Gunung Kidul Part #3 Gunung Api Purba Nglanggeran dan Embung Nglanggeran

Sekitar jam 14.00 kami keluar dari lokasi Air Terjun Sri Gethuk. Perut sudah kenyang karena sudah terganjal gorengan panas di lokasi air terjun tadi. Tujuan kami selanjutnya adalah Gunung Api Purba Nglanggeran. Menurut beberapa teman yang pernah ke sana, katanya viewnya bagus banget. Pernah juga iseng googling foto-fotonya, memang bagus banget sih. Sayapun penasaran. Dan kemarin Minggu (29/1) memang sudah kami rencanakan, tujuan kedua setelah Air Terjun Sri Gethuk adalah Gunung Api Purba Nglanggeran.

Gunung Api Purba Nglanggeran

Arah menuju Nglanggeran
Selama perjalanan menuju Nglanggeran, hujan masih turun, namun tidak terlalu deras. Gunung Api Purba Nglanggeran berada di Patuk Gunung Kidul. Kalau dari arah Jogja, setelah melewati Bukit Bintang Patuk, di kiri jalan ada petunjuk bertuliskan NGLANGGERAN, masuk ke kiri, ikuti saja jalan itu. Tapi masuknya lumayan jauh juga lho, kurang lebih 10 km dan menanjak. Kalau saya pribadi, males banget nyetir di medan yang seperti ini, bikin merinding. Berhubung kali ini ada 'driver pribadi', it's ok lahhh, walau saya tetap masih merinding juga. Setelah melewati beberapa tower stasiun televisi, kita akan tiba di lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran. Dalam perjalanan mendekati lokasi, tampak beberapa batu besar di tepi jalan. Mungkin batu-batu tersebut merupakan bagian dari Gunung Api Purba yang tersisa, begitu pikir saya.


Gunung Api Purba Nglanggeran dilihat dari pemukiman penduduk

Lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran di Patuk Gunung Kidul


Tiba di lokasi, gerimis masih rintik-rintik, sisa hujan tadi. Tidak banyak pengunjung di sana, hanya tampak beberapa sepeda motor di tempat parkir dan 1 mobil van. Tampak beberapa pemuda Karang Taruna desa setempat, berseragam hitam, yang merupakan pengelola dari tempat wisata ini. Setibanya di sana, kami diarahkan untuk membeli tiket masuk di loket. Harga tiket 15 ribu/orang untuk siang hari, 20 ribu/orang untuk malam hari. Harga tiket masuk berbeda untuk wisatawan asing. Kami membeli 2 tiket masuk, karena Juno tidak perlu tiket. Tampak di atas sana gunung batu yang tinggi menjulang ditumbuhi pepohonan hijau. Pasti ini yang disebut Gunung Api Purba Nglanggeran, pikir saya.





Dua mata air di pintu masuk Gunung Api Purba Nglanggeran
Kalau saya perhatikan, obyek wisata Gunung Api Purba Nglanggeran pengelolaannya sudah rapi, tampak dari bangunan-bangunannya, termasuk toiletnya yang terlihat baru dan bersih. Di sana juga terdapat pendopo yang dapat digunakan untuk acara pertemuan atau kumpul-kumpul. Kami masuk melewati pintu masuk di samping pendopo. Begitu masuk, tampak 2 mata air yang terlihat seperti sumur berbentuk kotak. Kami melanjutkan masuk ke dalam. Terlihat batu-batu besar yang tidak beraturan. Semakin masuk, batu-batunya semakin besar dan banyak. Saya membayangkan, kira-kira seperti apa ya tempat ini jutaan tahun yang lalu?

Batu-batu besar di dalam lokasi gunung api purba
Saya sempat googling tentang Gunung Api Purba Nglanggeran. Gunung Api Nglanggeran merupakan gunung api purba yang pernah aktif puluhan juta tahun lalu. Terletak di kawasan karst Baturagung, gunung yang litologinya tersusun oleh fragmen material vulkanik tua ini memiliki dua puncak yakni puncak barat dan puncak timur, serta sebuah kaldera ditengahnya. 
Saat ini Gunung Nglanggeran berupa deretan gunung batu raksasa dengan pemandangan eksotik serta bentuk dan nama yang unik dengan beragam cerita rakyat sebagai pengiringnya. Gunung-gunung tersebut biasanya dinamakan sesuai dengan bentuknya, seperti Gunung 5 Jari, Gunung Kelir, dan Gunung Wayang. (sumber: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/nature-and-outdoor/gunung-nglanggeran/)

Gunung Api Purba dilihat dari Embung Nglanggeran, tertutup kabut
Di dalam tampak beberapa gazebo dan taman yang sengaja dibuat. Beberapa kali kami beristirahat di gazebo, karena kami membawa Juno, dan dia menolak untuk jalan sendiri, minta digendong. Hadehhh, Juno hari ini tidak kooperatif. Mungkin bagi dia tempat ini kurang menarik dan familiar. Saya sempat bertanya kepada seorang petugas di sana, "Mas, lokasi konser Katon kemarin di mana?". Ya, bulan lalu ada sebuah acara musik dengan bintang tamu Katon Bagaskara, dan lokasinya di Nglanggeran. "Oww, kalau itu lokasinya di embung, Mbak. 

Salah satu batu besar yang ada dalam
  
Sekitar 3 km dari sini, nanti dari sini bisa terus ke sana," jawab si Mas petugas. Kami bertemu beberapa pengunjung lain yang juga sedang 'mendaki' Gunung Nglanggeran ini. Makin naik, jalannya semakin sempit dan sulit. Kami semakin ngos-ngosan. Papi Juno menggendong Juno di belakang, saya mengikuti di belakang sambil menjaga mereka, karena jalannya penuh batu dan licin karena hujan. Sampai di tengah, kami mulai kesulitan untuk mendaki. Terutama saya yang bisa dibilang hampir tidak pernah mendaki gunung, tentu saja sangat kerepotan ketika melewati medan yang seperti ini. Ditambah Juno minta digendong pula. 

Naik ke puncak
Kami berpapasan dengan seorang pria dengan 2 putrinya yang turun. "Sudah sampai puncak, Pak?", tanya saya. Pria tersebut menjawab sambil terkekeh, "Belum Mbak, kalau mau sampai atas butuh sekitar 1 jam lagi." Ucapan pria tersebut 'meyakinkan' kami bahwa sangat sulit untuk mencapai puncak dengan kondisi saat itu, jalan licin habis hujan, membawa Juno, ditambah tidak membawa bekal minuman. "Sudah Pi, turun saja yukk, nggak mungkin kalo naik dengan membawa Juno begini," kata saya. Akhirnya kami berhenti di pertengahan, dan kembali turun. Lumayan capek juga walau belum sampai di puncak. Kami beristiraht di gazebo, sebelum akhirnya keluar dari lokasi. Setidaknya sudah sempat mencoba naik, walaupun tidak sampai puncak. Setidaknya bisa melihat keindahannya dari bawah sini, begitu pikir saya. Hehehe.

Mendaki sambil menggendong Juno



Hemm, naik gunung bikin lapar. Kami lihat di luar tadi ada penjual bakwan kawi. Kami beristirahat di tempat parkir sambil menikmati bakwan kawi. Saya bertanya kepada Mas penjual bakwan kawi, "Mas, kalau embungnya jauh tidak dari sini?". "Nggak Mbak, paling 15 menit, terus saja ikuti jalan ini, dari tempat parkir jalannya tidak jauh kok," jawab si Mas penjual bakwan kawi. Selesai makan bakwan kawi, kami menuju lokasi selanjutnya, yaitu Embung Nglanggeran. Meninggalkan lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran kokoh menjulang dan menyimpan sejuta misteri.

Embung Nglanggeran

Harus menaiki tangga untuk mencapai embung
Jalan menuju Embung agak 'kurang bersahabat', menanjak dan berbatu. Tampak beberapa batu besar di tepi jalan. Semakin naik, pemandangan Gunung Nglanggeran tampak semakin jelas. Eksotik dan seakan menyimpan berjuta misteri. Sekitar 15 menit kami tiba di tempat parkir Embung Nglanggeran. Tiba di sana, hujan tidak terlalu deras, namun cukup bikin basah. Kami berteduh sejenak sambil melihat foto-foto 'sejarah' pembuatan embung. Di sinilah lokasi acara musik yang bintang tamunya Katon Bagaskara bulan lalu. Ga kebayang nonton Katon nyanyi, malam-malam di tempat seperti ini dengan background Gunung Api Purba Nglanggeran. Romantis sekali. Sayang sekali saat itu kami tidak menontonnya.




Embung Nglanggeran, penampung air untuk mengairi kebun buah
Dulunya Nglanggeran hanyalah sebuah perbukitan. Pemerintah dan masyarakat sekitar menyulapnya menjadi sebuah embung yang berada tepat di atas bukit. Saat ini Embung Nglanggeran merupakan salah satu obyek wisata di Gunung Kidul yang sedang hits. Embung Nglanggeran telah diresmikan oleh Raja Jogja yaitu HB X pada tanggal 19 Februari 2013. Selain sebagai tempat wisata, Embung Nglanggeran berfungsi sebagai penampung atau penyimpan air untuk mengairi kebun-kebun buah yang ada di bawah bukit Nglanggeran. Oleh sebab itu tempat ini juga disebut Kebun Buah Nglanggeran. (sumber: http://lookjogja.blogspot.co.id/2016/02/embung-nglanggeran-gunung-kidul-jogja.html)

Untuk masuk ke Embung Nglanggeran, pengunjung harus membayar tiket masuk 10 ribu/orang dan parkir mobil 5 ribu. Tiba di sana pengunjung tidak begitu ramai karena cuacanya tidak bersahabat, hujan belum berhenti juga. Untuk mencapai embung, pengunjung harus menaiki anak tangga terlebih dahulu, kurang lebih 5 menit lah kalau naiknya dengan penuh semangat. Kalau naiknya hujan-hujan sambil gendong Juno ya butuh waktu sekitar 15 menit untuk mencapai puncak. Dengan membawa payung, kami menaiki tangga. Naik ke puncak cukup membuat kami ngos-ngosan. Kurang olah raga nih kayaknya.

Pemandangan dari Embung Nglanggeran
Sampai di puncak, tampak sebuah 'kolam' berukuran sangat besar berbentuk oval dengan pagar besi di tepinya. Di sudut-sudutnya terdapat gazebo. Namun sayang, saat kami di sana masih gerimis, sehingga kami tidak bisa berlama-lama di sana. Padahal pemandangan dari atas indah sekali. Tampak jelas Gunung Api Purba Nglanggeran dan pemandangan di sekitar bukit. Eksotik dan penuh misteri. Jika cuaca cerah, pengunjung bisa jalan ke ujung embung, dari kejauhan tampak beberapa gazebo yang memang sengaja disediakan bagi pengunjung untuk menikmati pemandangan dari sisi yang lain.

Gunung Api Purba Nglanggeran dilihat dari Embung

Gedung Taman Teknologi Pertanian Klanggeran


Hujan semakin deras, ditambah angin. Juno mulai panik dan mangajak turun. Sayang sekali cuaca hari itu sangat tidak bersahabat. Kalau cerah, pasti kami betah berlama-lama di sana, berjalan mengelilingi embung untuk menikmati pemandangan dari setiap sisi bukit. Kami menuruni tangga untuk kembali ke tempat parkir. Hujan semakin deras. Kami beranjak meninggalkan lokasi Embung Nglanggeran. Di jalan keluar kami melihat sebuah bangunan megah bertuliskan Taman Teknologi Pertanian Nglanggeran, yang merupakan bentuk kerjasama antara Pemda DIY, Kementerian Pertanian dan UGM. Kolaborasi pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan penampungan air yang tidak hanya bermanfaat bagi perkebunan, namun juga memiliki nilai ekonomis, dan tentu saja, cantik. Besok kalau sudah tidak musim hujan, saya ingin ke sana lagi. Have a nice day.







Tuesday, 31 January 2017

Wisata Gunung Kidul Part #2 Air Terjun Sri Gethuk Yang Eksotik

Life goes on. It gets so heavy. The wheel breaks the butterfly. Every tear, a waterfallin the night, the stormy night. She closed her eyes in the night, the stormy night. Away she flied.

She dreamed of para-para-paradise. Para-para-paradise. Para-para-paradise. Whoa-oh-oh-oooh oh-oh-oh. (Paradise-Coldplay)

Pulang dari Pantai Drini pada hari Sabtu (28/1) lalu kami terjebak macet yang sangat parah, menggagalkan rencana kami untuk mampir ke Air Terjun Sri Gethuk. Agak kecewa sih karena seharian hanya dapat mengunjungi 1 lokasi, dan waktu terbuang di perjalanan karena macet. Untuk mengobati kekecewaan, besok paginya (Minggu, 29/1) kami bertiga kembali  'piknik' ke Gunung Kidul, tentu saja dengan tujuan utama adalah Air Terjun Sri Gethuk. Sebenarnya saya sudah pernah ke sana 2 tahun lalu, namun waktu itu hanya 'mampir' sebentar, sedangkan Papi Juno belum pernah ke sana sama sekali.

Jam 07.00 pagi kami berangkat dari rumah menuju Gunung Kidul, langsung ke tujuan pertama, yaitu Air Terjun Sri Gethuk yang terletak di Jalan Air Terjun Sri Gethuk, Bleberan, Playen, Gunung Kidul. Dari jalan raya, untuk mencapai lokasi Air Terjun yang cukup ndelik alias tersembunyi, sepanjang perjalanan kami melalui pemandangan yang indah, yaitu persawahan, kebun sayur, dan hutan pohon kayu putih yang asri. Setelah melewati jalan di tengah pemukiman penduduk, kami melewati hutan jati yang cukup rapat, sebelum akhirnya tiba di lokasi Air Terjun Sri Gethuk. Perjalanan lancar karena belum begitu padat. Kami tiba di lokasi sekitar jam 09.30. 




Tangga turun menuju Sungai Oya
Sampai di sana belum begitu ramai pengunjung, mungkin baru sekitar 30 an orang. Oiya, obyek wisata Air Terjun Sri Gethuk dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 s/d 16.00. Untuk masuk ke lokasi, pengunjung harus membayar tiket masuk seharga 10 ribu/orang dan parkir mobil 5 ribu. Kami hanya membayar 2 tiket masuk, karena anak kecil seusia Juno tidak perlu tiket.

Menyusuri sungai dengan gethek 
Di lokasi Air Terjun Sri Gethuk terdapat sebuah kolam pemancingan yang berada di area parkir. Dari tempat parkir pengunjung harus berjalan kaki sekitar 100 meter menuju ke lokasi. Di sepanjang jalan terdapat kios-kios yang menjual berbagai dagangan, mulai makanan hingga suvenir. Setelah berjalan sekitar 100 meter, pengunjung harus berjalan melewati tangga untuk menuju Sungai Oya yang kira-kira jaraknya sekitar 100 meter juga. Ada 2 pilihan untuk mencapai air terjun, yaitu jalan kaki menyusuri jalan setapak yang terletak di sisi kanan atas sungai, atau naik gethek atau rakit yang tebuat dari papan kayu dan drum bekas. Tentu saja kami memilih alternatif yang kedua, yaitu naik gethek, karena kelihatannya lebih seru daripada jalan kaki.

Yeiii, Juno naik gethek
Untuk naik gethek, pengunjung harus membayar tiket seharga 10 ribu/orang PP. Tak perlu menunggu lama, kami bertiga naik ke gethek yang dikemudikan seorang pria muda ditemani seorang rekannya. Saat itu air Sungai Oya terlihat tenang berwarna coklat. Seingat saya, 2 tahun lalu saat ke sana, air sungainya berwarna hijau. Mungkin karena sedang musim hujan, saat kami ke sana kemarin, air sungainya jadi berwara coklat seperti susu. Kami naik ke gethek, suara mesin diesel mulai terdengar. Saya lihat wajah Juno tegang, sepertinya dia agak takut. Tanpa bersuara dia duduk merapat ke papinya. Gethek berjalan pelan melawan arus sungai. Pemandangan di sisi kanan dan kiri adalah tebing yang ditumbuhi pepohonan hijau, indah sekali seperti lukisan. Suara mesin gethek memecah keheningan di sepanjang sungai.

Hingga saat ini ada mitos yang dipercayai oleh penduduk sekitar terkait nama Air Terjun Sri Gethuk. Konon nama ini berasal dari  kata kethuk yang merupakan salah satu instrumen gamelan milik Jin Anggo Meduro, sehingga air terjun tersebut dinamakan Air Terjun Sri Gethuk. Konon, pada saat-saat tertentu, masyarakat sekitar masih sering mendengar suara gamelan mengalun dari arah air terjun. Percaya atau tidak? Wallahualam.






Air Terjun Sri Gethuk yang eksotik
Sekitar 10 menit kami menyusuri sungai Oya, hingga akhirnya tiba di lokasi Air Terjun Sri Gethuk. Gethek berhenti, kami turun dan menapaki bebatuan yang dibuat menyerupai tangga. Suara air terjun memecah keheningan dan menggoda siapa saja untuk mandi di bawahnya. Terlihat beberapa abege mandi dan bermain di kolam yang berada tepat di bawah air terjun. Beberapa terlihat duduk di bebatuan dan membiarkan kakinya di dalam air yang jernih dan dingin. Beberapa lagi tampak asyik berfoto. Sayangnya Juno terlihat kurang enjoy di sana. Dia masih enggan  bermain air di sana. Jadi kami memilih untuk berfoto saja.

Sekitar 30 menit kami berada di air terjun. Makin siang pengunjung semakin ramai, dan kebanyakan berasal dari luar Jogja. Kami kembali menaiki gethek untuk kembali ke tempat ketika kami naik tadi. Lagi-lagi wajah Juno terlihat tegang. Dia takut. Merapat ke papinya. Tiba di tepi sungai kami turun dan menaiki tangga, di mana di sisi kanan terdapat kios-kios penduduk yang menjual berbagai makanan dan minuman. 



Mampir menikmati gorengan panas dulu
Namun yang paling menarik tentu saja gorengan panasnya. Kami berhenti di sebuah warung dan beristirahat dengan beralaskan tikar di bawah pohon kelapa. Sambil menyuapi Juno bekal yang kami bawa dari rumah, kami menikmati gorengan panas. Mendoan dan tahu isi. Untuk minumnya kami memesan 1 kelapa muda utuh yang dibakar. Hemmm, kedengarannya lucu ya. Masa kelapa muda dibakar. Setelah dicoba ternyata enak juga. Rasanya tidak beda dari air kelapa muda biasanya, hanya karena dibakar jadi hangat. Hemmm, cocok sekali dengan gorengan panasnya. 


Tak lama kemudian gerimis turun, dan disusul hujan deras, kami beranjak berteduh di warung. Thanks God, hujan turun setelah kami dari air terjun. Bagaimana jadinya kalau hujan turun ketika kami masih di air terjun? Di sana 'kan tidak ada tempat berteduh. Kemarin banyak pengunjung yang basah kuyup, kasihan juga ya, acara liburannya jadi agak sedikit terganggu karena hujan. 

Kami berteduh sekitar 1jam di warung tersebut. Jam 12 an setelah hujan lumayan reda kami beranjak keluar menuju tempat parkir. Hujan masih rintik-rintik dan kelihatannya akan 'awet'. Puas sekali bisa menikmati keindahan Air Terjun Sri Gethuk yang eksotik dan penuh misteri. Kami masih punya tujuan selanjutnya sekalian arah pulang. Gunung Purba Nglanggeran dan Embung Nglanggeran, akan saya tulis di postingan saya selanjutnya.