expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Thursday, 2 February 2017

When Mommy Back To Campus Part# 6

http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/
Libur telah usai. Saatnya kembali ke dunia nyata. Tak terasa 1,5 bulan berlalu begitu cepat. Kayaknya baru kemarin Ujian Akhir Semester (UAS), eh sekarang sudah mulai kuliah lagi. Kalau soal libur, kayaknya semua sama aja deh, mau anak SD sampai mahasiswa S3 pun paling senang saat libur sekolah atau kuliah. Tak terkecuali saya. Libur 1.5 bulan itu rasanya udah kayak terbebas dari 'beban hidup'. Lohhh kok beban hidup sih?

Well, pada part sebelumnya saya sudah ceritakan suka dukanya menjadi mahasiswi di saat sudah menyandang status sebagai seorang ibu. Apalagi ditambah status 'bekerja'. Bukan hal yang mudah membagi peran menjadi ibu, istri, pekerja, sekaligus mahasiswi dalam waktu yang sama. Tidak mudah membagi waktu menjalani masing-masing peran. Semuanya penting dan sama-sama harus diselesaikan.

Walaupun saya pernah mengalaminya 2 tahun lalu, tapi sekarang sangatlah berbeda. Totally different. Pada awal kuliah pertengahan tahun lalu, saya sempat shock dengan perubahan ritme hidup saya yang luar biasa drastis. Jam tidur berkurang. Waktu santai berkurang. Me time apalagi. Saya tidak sempat lagi ke salon, ngemall, ngegym, atau hangout dengan teman-teman. Waktu saya habis. Energi saya tak tersisa. Habis untuk bekerja, kuliah, mengerjakan tugas kuliah, dan mengurus keluarga. 

Kuliah lagi mengubah hidup saya. Sangat. Bahkan saya sempat berpikir, memutuskan kuliah lagi bukanlah hal yang tepat, namun sebuah kesalahan, hanya menambah beban saja. Cari masalah, buang waktu, tenaga, dan tentu saja uang. Tugas-tugas yang menurut saya berat banget cukup membuat saya depresi. Ujian bikin saya stres, apalagi jika bersamaan dengan pekerjaan kantor yang sedang full juga. Seperti saat ujian akhir semester lalu, beberapa hari Juno panas, tugas kuliah banyak banget, kerjaan kantor juga menumpuk, ditambah harus persiapan ujian. Komplit sudah. Sempurna sekali. Rasanya pengin nangis dan teriak.

Di satu sisi kuliah lagi bisa berarti 'menambah masalah', namun bukan berarti saya tidak menikmatinya. Saya menikmatinya. Saya menyukainya. Banyak hal yang hanya bisa saya peroleh, saya alami, dan saya pelajari di sini. Saya bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, dengan berbagai latar belakang. Saya belajar. Belajar untuk membuka mata, hati dan pikiran. Saya juga menemukan passion. Sesuatu yang saya sukai, yang membuat saya semakin bersemangat menjalani kehidupan.

Itu beberapa bulan lalu. Satu semester sudah terlewati. Bukan hal yang mudah memang. Dari awal saya sudah menanamkan dalam benak saya. It's not easy being an employed student mom. Peranmu banyak, jadi tak usah ngoyo. Jalani semampunya. Prinsip ini yang saya pegang teguh. Dan saya memang tidak pernah ngoyo, semampunya saja. Turunkan sedikit ekspektasi, supaya tidak mudah kecewa. Turunkan sedikit saja. Begitu pesan salah satu dosen saya.

Liburan kemarin saya benar-benar refreshing. Melepaskan dan melupakan beban sejenak. Menghabiskan waktu bersama keluarga (baca: Juno dan papinya), diri sendiri dan beberapa teman. Well, tapi sepertinya saya refreshingnya kebablasan. Karena tak ada tugas kuliah, tidak lembur, tidak begadang, jam tidur cukup, berimbas pada berat badan saya. Saya belum nimbang sih, tapi saya rasa dalam 1,5 bulan ini, berat badan saya naik sekitar 2-3 kg. Baju-baju mulai tidak nyaman dipakai. Dan hal ini semakin diyakinkan dengan komentar beberapa orang, "Mbak Heny gemukan ya?". Oughh, sumpah itu sangat menyakitkan. Membuktikan kalau kuliah tidak hanya berpengaruh pada hidup saja, tapi juga berat badan. Hehehe. 

Minggu ini adalah minggu pertama kuliah di semester 2. Jujur, berat banget rasanya kembali ke kampus setelah libur cukup lama. Sama aja lah kayak anak SD yang habis libur panjang. Pasti males banget mau masuk sekolah. Belum bisa move on dari liburan kemarin. "Pi, aku males banget mau kuliah lagi, tugas-tugas lagi, begadang lagi," beberapa kali saya mengatakan ini pada Papi Juno. Gini-gini saya juga bisa manja loh, hehehe. Begini kata Papi Juno," Halahh, nanti kalau sudah masuk seminggu juga udah terbiasa lagi kayak kemarin." Huhh, sayapun manyun. 

Hari ini kuliah pertama di semester ini, dan sudah mulai mengambil mata kuliah pilihan sesuai jurusan yang diminati. Saya berencana mengambil konsentrasi Sumber Daya Manusia (SDM), bersama 3 orang teman saya yang lain. Jadi sekelas hanya 4 orang. Teman-teman saya yang lain terpecah menjadi beberapa kelas konsentrasi lainnya. Saya memilih SDM karena sesuai minat saya dan bidang kerja saya. Kuliah pertama hari ini sangat menarik minat saya. Dengan dosen seorang ibu muda yang sangat smart dan penyampaiannya sangat 'enak', kuliah pertama hari ini sangat fun, di luar tugas-tugas berat yang tetap harus kami kerjakan. 

Dengan Bismillah saya memulai semester ini, semoga seterusnya juga tetap fun. Tugas-tugas berat sudah menanti. Welcome 2nd semester. Siap-siap begadang, lembur, wira-wiri, bahkan 'membelah diri'. Satu lagi, siap-siap langsing lagi yaaa, hehehe. Tetap semangat ya teman-temanku seperjuangan, jaga kesehatan, enjoy the process.





Wednesday, 1 February 2017

Wisata Gunung Kidul Part #3 Gunung Api Purba Nglanggeran dan Embung Nglanggeran

Sekitar jam 14.00 kami keluar dari lokasi Air Terjun Sri Gethuk. Perut sudah kenyang karena sudah terganjal gorengan panas di lokasi air terjun tadi. Tujuan kami selanjutnya adalah Gunung Api Purba Nglanggeran. Menurut beberapa teman yang pernah ke sana, katanya viewnya bagus banget. Pernah juga iseng googling foto-fotonya, memang bagus banget sih. Sayapun penasaran. Dan kemarin Minggu (29/1) memang sudah kami rencanakan, tujuan kedua setelah Air Terjun Sri Gethuk adalah Gunung Api Purba Nglanggeran.

Gunung Api Purba Nglanggeran

Arah menuju Nglanggeran
Selama perjalanan menuju Nglanggeran, hujan masih turun, namun tidak terlalu deras. Gunung Api Purba Nglanggeran berada di Patuk Gunung Kidul. Kalau dari arah Jogja, setelah melewati Bukit Bintang Patuk, di kiri jalan ada petunjuk bertuliskan NGLANGGERAN, masuk ke kiri, ikuti saja jalan itu. Tapi masuknya lumayan jauh juga lho, kurang lebih 10 km dan menanjak. Kalau saya pribadi, males banget nyetir di medan yang seperti ini, bikin merinding. Berhubung kali ini ada 'driver pribadi', it's ok lahhh, walau saya tetap masih merinding juga. Setelah melewati beberapa tower stasiun televisi, kita akan tiba di lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran. Dalam perjalanan mendekati lokasi, tampak beberapa batu besar di tepi jalan. Mungkin batu-batu tersebut merupakan bagian dari Gunung Api Purba yang tersisa, begitu pikir saya.


Gunung Api Purba Nglanggeran dilihat dari pemukiman penduduk

Lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran di Patuk Gunung Kidul


Tiba di lokasi, gerimis masih rintik-rintik, sisa hujan tadi. Tidak banyak pengunjung di sana, hanya tampak beberapa sepeda motor di tempat parkir dan 1 mobil van. Tampak beberapa pemuda Karang Taruna desa setempat, berseragam hitam, yang merupakan pengelola dari tempat wisata ini. Setibanya di sana, kami diarahkan untuk membeli tiket masuk di loket. Harga tiket 15 ribu/orang untuk siang hari, 20 ribu/orang untuk malam hari. Harga tiket masuk berbeda untuk wisatawan asing. Kami membeli 2 tiket masuk, karena Juno tidak perlu tiket. Tampak di atas sana gunung batu yang tinggi menjulang ditumbuhi pepohonan hijau. Pasti ini yang disebut Gunung Api Purba Nglanggeran, pikir saya.





Dua mata air di pintu masuk Gunung Api Purba Nglanggeran
Kalau saya perhatikan, obyek wisata Gunung Api Purba Nglanggeran pengelolaannya sudah rapi, tampak dari bangunan-bangunannya, termasuk toiletnya yang terlihat baru dan bersih. Di sana juga terdapat pendopo yang dapat digunakan untuk acara pertemuan atau kumpul-kumpul. Kami masuk melewati pintu masuk di samping pendopo. Begitu masuk, tampak 2 mata air yang terlihat seperti sumur berbentuk kotak. Kami melanjutkan masuk ke dalam. Terlihat batu-batu besar yang tidak beraturan. Semakin masuk, batu-batunya semakin besar dan banyak. Saya membayangkan, kira-kira seperti apa ya tempat ini jutaan tahun yang lalu?

Batu-batu besar di dalam lokasi gunung api purba
Saya sempat googling tentang Gunung Api Purba Nglanggeran. Gunung Api Nglanggeran merupakan gunung api purba yang pernah aktif puluhan juta tahun lalu. Terletak di kawasan karst Baturagung, gunung yang litologinya tersusun oleh fragmen material vulkanik tua ini memiliki dua puncak yakni puncak barat dan puncak timur, serta sebuah kaldera ditengahnya. 
Saat ini Gunung Nglanggeran berupa deretan gunung batu raksasa dengan pemandangan eksotik serta bentuk dan nama yang unik dengan beragam cerita rakyat sebagai pengiringnya. Gunung-gunung tersebut biasanya dinamakan sesuai dengan bentuknya, seperti Gunung 5 Jari, Gunung Kelir, dan Gunung Wayang. (sumber: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/nature-and-outdoor/gunung-nglanggeran/)

Gunung Api Purba dilihat dari Embung Nglanggeran, tertutup kabut
Di dalam tampak beberapa gazebo dan taman yang sengaja dibuat. Beberapa kali kami beristirahat di gazebo, karena kami membawa Juno, dan dia menolak untuk jalan sendiri, minta digendong. Hadehhh, Juno hari ini tidak kooperatif. Mungkin bagi dia tempat ini kurang menarik dan familiar. Saya sempat bertanya kepada seorang petugas di sana, "Mas, lokasi konser Katon kemarin di mana?". Ya, bulan lalu ada sebuah acara musik dengan bintang tamu Katon Bagaskara, dan lokasinya di Nglanggeran. "Oww, kalau itu lokasinya di embung, Mbak. 

Salah satu batu besar yang ada dalam
  
Sekitar 3 km dari sini, nanti dari sini bisa terus ke sana," jawab si Mas petugas. Kami bertemu beberapa pengunjung lain yang juga sedang 'mendaki' Gunung Nglanggeran ini. Makin naik, jalannya semakin sempit dan sulit. Kami semakin ngos-ngosan. Papi Juno menggendong Juno di belakang, saya mengikuti di belakang sambil menjaga mereka, karena jalannya penuh batu dan licin karena hujan. Sampai di tengah, kami mulai kesulitan untuk mendaki. Terutama saya yang bisa dibilang hampir tidak pernah mendaki gunung, tentu saja sangat kerepotan ketika melewati medan yang seperti ini. Ditambah Juno minta digendong pula. 

Naik ke puncak
Kami berpapasan dengan seorang pria dengan 2 putrinya yang turun. "Sudah sampai puncak, Pak?", tanya saya. Pria tersebut menjawab sambil terkekeh, "Belum Mbak, kalau mau sampai atas butuh sekitar 1 jam lagi." Ucapan pria tersebut 'meyakinkan' kami bahwa sangat sulit untuk mencapai puncak dengan kondisi saat itu, jalan licin habis hujan, membawa Juno, ditambah tidak membawa bekal minuman. "Sudah Pi, turun saja yukk, nggak mungkin kalo naik dengan membawa Juno begini," kata saya. Akhirnya kami berhenti di pertengahan, dan kembali turun. Lumayan capek juga walau belum sampai di puncak. Kami beristiraht di gazebo, sebelum akhirnya keluar dari lokasi. Setidaknya sudah sempat mencoba naik, walaupun tidak sampai puncak. Setidaknya bisa melihat keindahannya dari bawah sini, begitu pikir saya. Hehehe.

Mendaki sambil menggendong Juno



Hemm, naik gunung bikin lapar. Kami lihat di luar tadi ada penjual bakwan kawi. Kami beristirahat di tempat parkir sambil menikmati bakwan kawi. Saya bertanya kepada Mas penjual bakwan kawi, "Mas, kalau embungnya jauh tidak dari sini?". "Nggak Mbak, paling 15 menit, terus saja ikuti jalan ini, dari tempat parkir jalannya tidak jauh kok," jawab si Mas penjual bakwan kawi. Selesai makan bakwan kawi, kami menuju lokasi selanjutnya, yaitu Embung Nglanggeran. Meninggalkan lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran kokoh menjulang dan menyimpan sejuta misteri.

Embung Nglanggeran

Harus menaiki tangga untuk mencapai embung
Jalan menuju Embung agak 'kurang bersahabat', menanjak dan berbatu. Tampak beberapa batu besar di tepi jalan. Semakin naik, pemandangan Gunung Nglanggeran tampak semakin jelas. Eksotik dan seakan menyimpan berjuta misteri. Sekitar 15 menit kami tiba di tempat parkir Embung Nglanggeran. Tiba di sana, hujan tidak terlalu deras, namun cukup bikin basah. Kami berteduh sejenak sambil melihat foto-foto 'sejarah' pembuatan embung. Di sinilah lokasi acara musik yang bintang tamunya Katon Bagaskara bulan lalu. Ga kebayang nonton Katon nyanyi, malam-malam di tempat seperti ini dengan background Gunung Api Purba Nglanggeran. Romantis sekali. Sayang sekali saat itu kami tidak menontonnya.




Embung Nglanggeran, penampung air untuk mengairi kebun buah
Dulunya Nglanggeran hanyalah sebuah perbukitan. Pemerintah dan masyarakat sekitar menyulapnya menjadi sebuah embung yang berada tepat di atas bukit. Saat ini Embung Nglanggeran merupakan salah satu obyek wisata di Gunung Kidul yang sedang hits. Embung Nglanggeran telah diresmikan oleh Raja Jogja yaitu HB X pada tanggal 19 Februari 2013. Selain sebagai tempat wisata, Embung Nglanggeran berfungsi sebagai penampung atau penyimpan air untuk mengairi kebun-kebun buah yang ada di bawah bukit Nglanggeran. Oleh sebab itu tempat ini juga disebut Kebun Buah Nglanggeran. (sumber: http://lookjogja.blogspot.co.id/2016/02/embung-nglanggeran-gunung-kidul-jogja.html)

Untuk masuk ke Embung Nglanggeran, pengunjung harus membayar tiket masuk 10 ribu/orang dan parkir mobil 5 ribu. Tiba di sana pengunjung tidak begitu ramai karena cuacanya tidak bersahabat, hujan belum berhenti juga. Untuk mencapai embung, pengunjung harus menaiki anak tangga terlebih dahulu, kurang lebih 5 menit lah kalau naiknya dengan penuh semangat. Kalau naiknya hujan-hujan sambil gendong Juno ya butuh waktu sekitar 15 menit untuk mencapai puncak. Dengan membawa payung, kami menaiki tangga. Naik ke puncak cukup membuat kami ngos-ngosan. Kurang olah raga nih kayaknya.

Pemandangan dari Embung Nglanggeran
Sampai di puncak, tampak sebuah 'kolam' berukuran sangat besar berbentuk oval dengan pagar besi di tepinya. Di sudut-sudutnya terdapat gazebo. Namun sayang, saat kami di sana masih gerimis, sehingga kami tidak bisa berlama-lama di sana. Padahal pemandangan dari atas indah sekali. Tampak jelas Gunung Api Purba Nglanggeran dan pemandangan di sekitar bukit. Eksotik dan penuh misteri. Jika cuaca cerah, pengunjung bisa jalan ke ujung embung, dari kejauhan tampak beberapa gazebo yang memang sengaja disediakan bagi pengunjung untuk menikmati pemandangan dari sisi yang lain.

Gunung Api Purba Nglanggeran dilihat dari Embung

Gedung Taman Teknologi Pertanian Klanggeran


Hujan semakin deras, ditambah angin. Juno mulai panik dan mangajak turun. Sayang sekali cuaca hari itu sangat tidak bersahabat. Kalau cerah, pasti kami betah berlama-lama di sana, berjalan mengelilingi embung untuk menikmati pemandangan dari setiap sisi bukit. Kami menuruni tangga untuk kembali ke tempat parkir. Hujan semakin deras. Kami beranjak meninggalkan lokasi Embung Nglanggeran. Di jalan keluar kami melihat sebuah bangunan megah bertuliskan Taman Teknologi Pertanian Nglanggeran, yang merupakan bentuk kerjasama antara Pemda DIY, Kementerian Pertanian dan UGM. Kolaborasi pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan penampungan air yang tidak hanya bermanfaat bagi perkebunan, namun juga memiliki nilai ekonomis, dan tentu saja, cantik. Besok kalau sudah tidak musim hujan, saya ingin ke sana lagi. Have a nice day.







Tuesday, 31 January 2017

Wisata Gunung Kidul Part #2 Air Terjun Sri Gethuk Yang Eksotik

Life goes on. It gets so heavy. The wheel breaks the butterfly. Every tear, a waterfallin the night, the stormy night. She closed her eyes in the night, the stormy night. Away she flied.

She dreamed of para-para-paradise. Para-para-paradise. Para-para-paradise. Whoa-oh-oh-oooh oh-oh-oh. (Paradise-Coldplay)

Pulang dari Pantai Drini pada hari Sabtu (28/1) lalu kami terjebak macet yang sangat parah, menggagalkan rencana kami untuk mampir ke Air Terjun Sri Gethuk. Agak kecewa sih karena seharian hanya dapat mengunjungi 1 lokasi, dan waktu terbuang di perjalanan karena macet. Untuk mengobati kekecewaan, besok paginya (Minggu, 29/1) kami bertiga kembali  'piknik' ke Gunung Kidul, tentu saja dengan tujuan utama adalah Air Terjun Sri Gethuk. Sebenarnya saya sudah pernah ke sana 2 tahun lalu, namun waktu itu hanya 'mampir' sebentar, sedangkan Papi Juno belum pernah ke sana sama sekali.

Jam 07.00 pagi kami berangkat dari rumah menuju Gunung Kidul, langsung ke tujuan pertama, yaitu Air Terjun Sri Gethuk yang terletak di Jalan Air Terjun Sri Gethuk, Bleberan, Playen, Gunung Kidul. Dari jalan raya, untuk mencapai lokasi Air Terjun yang cukup ndelik alias tersembunyi, sepanjang perjalanan kami melalui pemandangan yang indah, yaitu persawahan, kebun sayur, dan hutan pohon kayu putih yang asri. Setelah melewati jalan di tengah pemukiman penduduk, kami melewati hutan jati yang cukup rapat, sebelum akhirnya tiba di lokasi Air Terjun Sri Gethuk. Perjalanan lancar karena belum begitu padat. Kami tiba di lokasi sekitar jam 09.30. 




Tangga turun menuju Sungai Oya
Sampai di sana belum begitu ramai pengunjung, mungkin baru sekitar 30 an orang. Oiya, obyek wisata Air Terjun Sri Gethuk dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 s/d 16.00. Untuk masuk ke lokasi, pengunjung harus membayar tiket masuk seharga 10 ribu/orang dan parkir mobil 5 ribu. Kami hanya membayar 2 tiket masuk, karena anak kecil seusia Juno tidak perlu tiket.

Menyusuri sungai dengan gethek 
Di lokasi Air Terjun Sri Gethuk terdapat sebuah kolam pemancingan yang berada di area parkir. Dari tempat parkir pengunjung harus berjalan kaki sekitar 100 meter menuju ke lokasi. Di sepanjang jalan terdapat kios-kios yang menjual berbagai dagangan, mulai makanan hingga suvenir. Setelah berjalan sekitar 100 meter, pengunjung harus berjalan melewati tangga untuk menuju Sungai Oya yang kira-kira jaraknya sekitar 100 meter juga. Ada 2 pilihan untuk mencapai air terjun, yaitu jalan kaki menyusuri jalan setapak yang terletak di sisi kanan atas sungai, atau naik gethek atau rakit yang tebuat dari papan kayu dan drum bekas. Tentu saja kami memilih alternatif yang kedua, yaitu naik gethek, karena kelihatannya lebih seru daripada jalan kaki.

Yeiii, Juno naik gethek
Untuk naik gethek, pengunjung harus membayar tiket seharga 10 ribu/orang PP. Tak perlu menunggu lama, kami bertiga naik ke gethek yang dikemudikan seorang pria muda ditemani seorang rekannya. Saat itu air Sungai Oya terlihat tenang berwarna coklat. Seingat saya, 2 tahun lalu saat ke sana, air sungainya berwarna hijau. Mungkin karena sedang musim hujan, saat kami ke sana kemarin, air sungainya jadi berwara coklat seperti susu. Kami naik ke gethek, suara mesin diesel mulai terdengar. Saya lihat wajah Juno tegang, sepertinya dia agak takut. Tanpa bersuara dia duduk merapat ke papinya. Gethek berjalan pelan melawan arus sungai. Pemandangan di sisi kanan dan kiri adalah tebing yang ditumbuhi pepohonan hijau, indah sekali seperti lukisan. Suara mesin gethek memecah keheningan di sepanjang sungai.

Hingga saat ini ada mitos yang dipercayai oleh penduduk sekitar terkait nama Air Terjun Sri Gethuk. Konon nama ini berasal dari  kata kethuk yang merupakan salah satu instrumen gamelan milik Jin Anggo Meduro, sehingga air terjun tersebut dinamakan Air Terjun Sri Gethuk. Konon, pada saat-saat tertentu, masyarakat sekitar masih sering mendengar suara gamelan mengalun dari arah air terjun. Percaya atau tidak? Wallahualam.






Air Terjun Sri Gethuk yang eksotik
Sekitar 10 menit kami menyusuri sungai Oya, hingga akhirnya tiba di lokasi Air Terjun Sri Gethuk. Gethek berhenti, kami turun dan menapaki bebatuan yang dibuat menyerupai tangga. Suara air terjun memecah keheningan dan menggoda siapa saja untuk mandi di bawahnya. Terlihat beberapa abege mandi dan bermain di kolam yang berada tepat di bawah air terjun. Beberapa terlihat duduk di bebatuan dan membiarkan kakinya di dalam air yang jernih dan dingin. Beberapa lagi tampak asyik berfoto. Sayangnya Juno terlihat kurang enjoy di sana. Dia masih enggan  bermain air di sana. Jadi kami memilih untuk berfoto saja.

Sekitar 30 menit kami berada di air terjun. Makin siang pengunjung semakin ramai, dan kebanyakan berasal dari luar Jogja. Kami kembali menaiki gethek untuk kembali ke tempat ketika kami naik tadi. Lagi-lagi wajah Juno terlihat tegang. Dia takut. Merapat ke papinya. Tiba di tepi sungai kami turun dan menaiki tangga, di mana di sisi kanan terdapat kios-kios penduduk yang menjual berbagai makanan dan minuman. 



Mampir menikmati gorengan panas dulu
Namun yang paling menarik tentu saja gorengan panasnya. Kami berhenti di sebuah warung dan beristirahat dengan beralaskan tikar di bawah pohon kelapa. Sambil menyuapi Juno bekal yang kami bawa dari rumah, kami menikmati gorengan panas. Mendoan dan tahu isi. Untuk minumnya kami memesan 1 kelapa muda utuh yang dibakar. Hemmm, kedengarannya lucu ya. Masa kelapa muda dibakar. Setelah dicoba ternyata enak juga. Rasanya tidak beda dari air kelapa muda biasanya, hanya karena dibakar jadi hangat. Hemmm, cocok sekali dengan gorengan panasnya. 


Tak lama kemudian gerimis turun, dan disusul hujan deras, kami beranjak berteduh di warung. Thanks God, hujan turun setelah kami dari air terjun. Bagaimana jadinya kalau hujan turun ketika kami masih di air terjun? Di sana 'kan tidak ada tempat berteduh. Kemarin banyak pengunjung yang basah kuyup, kasihan juga ya, acara liburannya jadi agak sedikit terganggu karena hujan. 

Kami berteduh sekitar 1jam di warung tersebut. Jam 12 an setelah hujan lumayan reda kami beranjak keluar menuju tempat parkir. Hujan masih rintik-rintik dan kelihatannya akan 'awet'. Puas sekali bisa menikmati keindahan Air Terjun Sri Gethuk yang eksotik dan penuh misteri. Kami masih punya tujuan selanjutnya sekalian arah pulang. Gunung Purba Nglanggeran dan Embung Nglanggeran, akan saya tulis di postingan saya selanjutnya.


Wisata Gunung Kidul Part # 1 Pantai Drini, Pasir Putih, Pulau Karang dan Kuliner

Some say better things will come our way No matter what they try to say, you were always there for me 
Some way, when the sun begins to shine I hear a song from another time and fade away  And fade a way
Just close your eyes and I'll take you there This place is warm and without a care
We'll take swim in the deep blue sea I go to leave and you reach for me 
(Someday - Sugar Ray)

Sabtu (28/1) yang lalu bertepatan dengan libur Tahun Baru Imlek, kami mengajak Juno jalan-jalan. Sebenarnya kami tidak ada rencana sebelumnya, ide spontan saja. Lagipula minggu lalu adalah minggu terakhir libur kuliah, minggu ini saya sudah mulai masuk kuliah lagi, sudah dipastikan waktu untuk piknik sangat terbatas, jadi saya mengajak Papi Juno untuk menghabiskan liburan dengan piknik. Jadi mungkin lebih tepatnya kali ini bukan ngajak Juno jalan-jalan, tapi ngajak emaknya Juno jalan-jalan, hehehe.

Kali ini kami memilih Gunung Kidul sebagai tujuannya, dengan alasan lokasinya tidak terlalu jauh, ditambah saat ini pariwisata Gunung Kidul sedang ngehits alias naik daunnya, banyak pilihan obyek wisata alam yang instagramable alias menarik. Kami memilih pantai. Sebenarnya bukan tanpa alasan kami memilih pantai. Alasannya tentu saja ada hubungannya dengan Juno.


Pantai Drini dengan pulau kecilnya
Begini, sebulan sekali sekolah Juno mengadakan kegiatan berenang untuk anak usia di atas 2 tahun. Jadi anak-anak, tanpa wali murid, hanya didampingi oleh ibu-ibu gurunya, naik bis ke kolam renang yang lokasinya berada di seputaran Jogja. Kolam renangnya pindah-pindah, yang jelas ada kolam renang untuk anak-anaknya. Dulu waktu berusia 2 tahun, Juno selalu enjoy ketika mengikuti kegiatan outbond ataupun berenang bersama  teman-teman sekolahnya, begitu  juga ketika perjalanan naik bis, dia happy sekali ketika akan naik bis. Namun entah mengapa dalam 6 bulan terakhir Juno tidak mau ikut berenang bersama teman-temannya. Beberapa kali dia memilih untuk tinggal di sekolah bersama adek-adek bayi, ketika teman-temannya pergi berenang. Sampai sekarangpun kami masih belum tahu alasan Juno menolak berenang.

Mau santai di gazebo juga bisa, harga sewa 50 ribu/gazebo
Karena alasan itulah, kali ini kami mengajak Juno jalan-jalan ke obyek wisata air, supaya dia tidak takut air dan mau berenang lagi. Tujuan pertama adalah Pantai Drini. Pantai Drini merupakah salah satu pantai di pesisir Gunung Kidul yang sederetan dengan pantai-pantai yang lain, seperti yaitu Pantai Indrayanti, Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Kukup dan Pantai Watu Kodok dan lain-lain. Ada 2 alasan mengapa kami memilih Pantai Drini. Pertama, saya belum pernah ke sana. Kedua, bulan lalu Papi Juno ke sana untuk pengambilan gambar, katanya pemandangan di Pantai Drini bagus, ditambah dia membawakan saya kepiting asam manis yang sumpah, rasanya enak banget. Kedua alasan ini yang membuat saya 'penasaran' dengan Pantai Drini.

Mau ber-kano ria juga bisa
Jam 07.00 pagi kami berangkat dari rumah. Kami memang berangkat pagi untuk menghindari macet, karena tanggal merah sudah pasti jalan bakalan macet. Ketika berangkat Juno masih tidur, dan terbangun ketika kami memasuki Jalan Wonosari. Dia excited sekali, "Yeiii, kita mau ke pantai," begitu soraknya kegirangan. Seperti biasa, dia mengomentari setiap hal yang menarik menurutnya. Dengan kecepatan santai, sekitar jam 10.00 kami baru tiba di Pantai Drini. 


Pantai Drini terletak di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunung Kidul. Untuk masuk ke Pantai Drini, pengunjung harus membayar tiket seharga 19 ribu/2 orang, ditambah asuransi Rp 1.000,-, jadi total 20 ribu+ parkir mobil 5 ribu. Sampai di sana pengunjung sudah cukup ramai. Cuaca sangat cerah, dan cukup panas. Begitu masuk lokasi pantai, terlihat gazebo-gazebo berjajar di sepanjang pantai yang berpasir putih ini. Sayang sekali ketika kami tiba di sana, gazebonya sudah terisi semua, padahal pasti asyik banget menikmati keindahan pantai sambil bersantai di gazebo yang berada di tepi pantai ini. Karena gazebonya tidak ada yang kosong, kami memilih sebuah warung yang berada di belakang gazebo-gazebo untuk memesan minuman. Kami memesan es kelapa muda utuh, seharga 15 ribu/buah. Segar sekali panas-panas begini minum es kelapa muda.

Ke Pantai, tidak lengkap rasanya kalau tidak main air. Setelah menghabiskan es kelapa muda kami beranjak untuk menyusuri pantai. Pantai Drini merupakan pantai yang unik karena di tengahnya terdapat sebuah pulau kecil. Konon di pulau tersebut banyak ditumbuhi pohon drini, sehingga pantainya dinamakan Pantai Drini. Pada saat kami di sana, air laut sedang surut sehingga pengunjung dapat menyeberangi air setinggi perut untuk naik ke atas pulau karang. Sayang sekali, berhubung saya tidak membawa baju ganti, kami tidak naik ke atas. Saya menyewa sebuah payung berjemur seharga 20 ribu dan memilih untuk bermain pasir di bawah payung bersama Juno. Sedangkan Papi Juno, hunting foto seperti biasanya.




Mau santai di bawah payung juga bisa


Jalan naik ke pulau karang


Bermain pasir dengan Juno
Beruntung saat itu cuaca sangat cerah. Langit biru, pasir putih, pulau karang yang hijau dan angin yang sepoi-sepoi, melengkapi keindahan Pantai Drini. Dibandingkan pantai-pantai di Gunung Kidul yang lain, pengunjung di Pantai Drini tergolong tidak sebanyak pengunjung di pantai-pantai yang lain. Selain bisa mandi di pantai, pengunjung yang suka ber-kano ria, bisa menyewa kano yang disewakan di sana. 


Sekitar 1 jam kami menemani Juno bermain pasir. Sayang sekali langit mendadak mendung dan tak lama kemudian hujan turun, padahal Juno masih asyik bermain pasir. Karena hujan turun tiba-tiba, kami berlari ke tepi untuk berteduh. Hujan cukup deras. Sekitar 30 menitan kami menunggu hujan reda. Setelah reda, tujuan selanjutnya adalah makan siang. Dari pagi memang kami sengaja hanya ngemil kue untuk sarapan, karena salah satu tujuan utama kami adalah menikmati kuliner di Pantai Drini. Saya memang penasaran dengan kulinernya sejak dibawain oleh Papi Juno, kepiting asam manis yang menurut saya rasanya enak banget.


Kepiting asam manis, so yummy
Setelah hujan reda, kami beranjak menuju warung-warung makan yang terletak di dekat tempat parkir. Kami memilih warung makan tempat Papi Juno beli kepiting asam manis waktu itu. Namanya warung makan Pangestu. Kami memesan 1/5 kilo kepiting asam manis seharga dan 1 ikan tongkol bakar. Sekitar 15 menit pesanan kami datang, 1/5 kilo kepiting asam manis berisi 4 kepiting ukuran sekepalan tangan orang dewasa, dan 1 ekor ikan tongkol bakar ukuran sedang. Hemmm, kepitingnya mantap. Saya memang penggemar kepiting, namun karena harganya cukup mahal, jadi jarang juga makan kepiting. Tapi kepiting asam manis yang ini, beneran deh, enakkkk. Ikan tongkol bakarnya juga enak, manisnya pas banget, apalagi ditambah sambal mentah. Mantap deh pokoknya. Untuk semua pesanan kami tersebut, kami hanya membayar 45 ribu, murah 'kan.





Kurang lebih jam 13.30 kami meninggalkan Pantai Drini. Rencananya, pulangnya kami mau mampir ke Air Terjun Sri Gethuk, tapi sayang sekali, di perjalanan pulang kami terjebak macet yang sangat parah. Sudah dipastikan setiap liburan, hampir semua obyek wisata di Gunung Kidul dipadati pengunjung, jadi jalan dipenuhi bis-bis pariwisata yang bikin macet panjang. Sekitar 2 jam kami baru bisa keluar dari lokasi Pantai Drini. Dan sepertinya kali ini kami harus mengurungkan niat untuk mampir ke Air Terjun Sri Gethuk karena tiba di Playen sudah sekitar jam 16.30, tidak mungkin untuk melanjutkan ke Air Terjun Sri Gethuk. Kami melanjutkan perjalanan pulang dan tiba di rumah menjelang magrib. Rekor terlama Gunung Kidul- Jogja, hehehe.

Pengalaman yang luar biasa, terjebak macet marah di jalan. Tapi terbayar dengan keindahan Pantai Drini yang eksotis, puas bermain pasir putih dengan Juno, dan kepiting asam manisnya yang sumpah enak banget. Nggak percaya? Just try. Have a nice day