expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Friday, 13 April 2018

Wisata Edukatif: Museum Kereta Api Ambarawa

Hai, ketemu lagi dengan Mami Juno. Jangan bosan mampir ke blog ini yah. Setelah dua bulan lebih "cuti" ngeblog, karena alasan "klise", sok sibuk, kali ini saya mau posting pengalaman liburan saya dua minggu lalu. Bukan liburan banget sih sebenarnya. Kalo liburan kan kesannya lama ya, kalo yang ini cuma dua hari aja pas weekend. Jadi mungkin lebih tepat disebut jalan-jalan kali ya. 

Setelah sebulanan lebih "bersemedi" untuk persiapan menghadapi ujian komprehensif, akhirnya saya punya waktu juga untuk refreshing. Yes, bulan lalu saya menghadapi ujian komprehensif. Mata kuliah yang diujikan "cuma" tiga sih sebetulnya, tapi persiapannya itu lohhh, bener-bener kayak anak SMU mau menghadapi UN deh. Stres, takut, panik, deg-degan, campur jadi satu. Mungkin dari sekian banyak ujian yang saya hadapi selama ini, ujian inilah yang paling saya "takutkan", selain ujian hidup tentu saja, hehehe. Yang jelas, ujian ini bukan ujian biasa,  karena ujian ini akan menentukan kelanjutan studi dan saya hanya punya satu kali lagi kesempatan untuk mengulang. Itulah salah satu alasan mengapa saya sempat "cuti" ngeblog untuk fokus pada persiapan ujian ini. Dan akhirnya ujian selesai juga. Eh belum selesai ding, karena hasilnya belum keluar. Jadi sebenarnya saya masih dag dig dug menunggu hasilnya. Tinggal doanya aja yang dikuatin. Mohon doanya juga ya.

Okey, akhirnya saya bisa refreshing setelah sebulan lebih menghabiskan sebagian besar waktu saya di depan laptop dan membaca artikel. Bosen banget, sumpah. Tepat beberapa hari setelah ujian selesai, sebenarnya saya sudah refreshing juga dengan rekan-rekan kantor di Bandung selama tiga hari. Yang ini akan saya tulis pada postingan saya selanjutnya. Nah, yang akan saya tulis di sini adalah cerita jalan-jalan saya ke Ambarawa dan Bandungan, Kabupaten Semarang, dua minggu yang lalu bersama Juno dan Papinya.

Soto Kudus Tempuran Jambon Ambarawa
Jumat pagi jam 06.00 kami berangkat dari Jogja. Tujuan pertama kami adalah Museum Kereta Api Ambarawa. Tahun lalu saat perjalanan pulang dari liburan di Semarang, kami melewati Museum Kereta Api Ambarawa, dan ingin sekali mampir sebenarnya, namun karena waktunya yang tidak memungkinkan, jadi kunjungan ke Museum Kereta Api kami tunda (baca juga: http://ceritamamijuno2.blogspot.co.id/2016/10/weekend-santai-di-semarang.html).  Perjalanan menuju Ambarawa ramai lancar, cukup padat karena weekend tapi Alhamdulilah tidak macet. Tiba di Ambarawa sekitar jam 09.00. Memasuki Ambarawa, kami menyempatkan untuk sarapan Soto Kudus Tempuran di daerah Jambu Ambawara. Rumah makan berlantai dua dan berarsitektur klasik tersebut tampak ramai. Pasti enak, pikir kami. Dan memang benar, Soto Kudusnya mantap banget, apalagi ditambah Kopi Kelir khas Ambarawa, sempurna sekali. Harganya cukup murah, Soto Kudus pisah 12 ribu dan Kopi Kelir 5 ribu. Silahkan mampir jika sedang berada di Ambarawa, Soto Kudus Tempuran Jambu, Ambarawa. 

Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan. Lokasi Museum Kereta Api tidak jauh dari Soto Kudus Tempuran tadi. Sekitar 15 menit kemudian kita akan menjumpai pertigaan Tugu Palagan (ada monumen tank di tengahnya). Nah dari situ tinggal belok kanan sekitar 0.5 km, sampailah kita di Museum Kereta Api Ambarawa (Indonesian Railways Museum), yang berlokasi di Jalan Stasiun Panjang No.1 Ambarawa.

Harga Tiket

Tiba di sana pengunjung sudah cukup ramai. Kami langsung menuju loket untuk membeli tiket masuk. Harga tiket masuk dewasa 10 ribu/orang dan anak-anak 5 ribu/anak. Selain bisa melihat segala hal yang berkaitan dengan sejarah kereta api di Indonesia, pengunjung juga bisa mencoba lokomotif uap pada yang hanya ada di jam-jam tertentu dengan membeli tiket seharga 50 ribu/orang. Rute Ambarawa-Tuntang ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Seru sekali ya. Sayangnya saat kami di sana, hanya tersisa beberapa tiket  jam 13.00, dan itu berarti harus menunggu sekitar 3 jam lagi. Hemmm, akhirnya kami melewatkan kesempatan untuk naik lokomotif uap. Sayang sekali ya. Semoga nanti ada kesempatan kami kesana lagi, dan tentu saja kami akan mencobanya.


Memasuki area Museum pengunjung disuguhi foto-foto sejarah kereta api di Indonesia di sepanjang dinding menuju ke dalam. Museum Kereta Api Ambarawa merupakan stasiun kereta api peninggalan Hindia Belanda, dan sekarang dialihfungsikan sebagai museum. Dua lokomotif uap yang hingga sekarang masih aktif digunakan sebagai kereta api wisata dengan nomor B 2502 dan B 2503 merupakan buatan Maschinenfabriek Esslingen.

Apa saja sih yang ada di Museum Kereta Api Ambarawa?

Di sini pengunjung bisa melihat beberapa tipe kereta api yang pernah digunakan sejak pertama kali ada di Indonesia, yaitu kereta api berbahan bakar kayu, yang diproduksi tahun 1900. Kereta ini merupakan kereta paling tua dan menjadi favorit pengunjung untuk selfie. Lalu ada juga kereta api berbahan bakar Residu dengan ukuran lebih panjang dan lebih lebar dibandingkan kereta api yang berbahan kayu bakar.





Selain melihat sejarah perkembangan kereta api secara fisik, pengunjung juga bisa melihat stasiun kereta api yang digunakan pada jaman Hindia Belanda, karena museum tersebut dulunya merupakan sebuah stasiun. Dan hingga sekarang bangunan dan perlengkapannya tetap dibiarkan seperti aslinya, termasuk di antaranya mesin pembuat tiket penumpang jaman dulu yang digunakan sejak tahun 1840. Mesin ini diciptakan oleh Thomas Edmunson yang merupakan seorang ahli pembuat lemari, dan ketika dia menciptakan mesin tiket, Thomas Edmunson kemudian diangkat sebagai Kepala Stasiun di New Castle dan Carlisie di Manchester dan Leeds, Inggris. Wahhh, keren sekali ya.  Mesin tiket ini juga digunakan pada jaman Hindia Belanda pada tahun 1867 untuk mencetak tiket kereta api Semarang-Solo-Yogyakarta, Batavia-Bogor, dan Surabaya-Pasuruan, dan digunakan di Indonesia hingga tahun 2009. 

Stasiun Peninggalan Hindia Belanda
  
Stasiun Tampak Samping

Mesin Cetak Tiket


Ruang Petugas Stasiun

Loket Penjualan Tiket

Topi petugas stasiun dan mesin hitung

Selain mesin tiket juga terdapat mesin hitung yang digunakan pada masanya, yang fungsinya kurang lebih sama dengan kalkulator saat ini. Juga terdapat alat komunikasi berupa telepon, telegraf, dan perlengkapan petugas stasiun, seperti topi dan peluit. Di ujung stasiun tampak beberapa bangunan dari kayu yang merupakan halte pemberhentian kereta di stasiun-stasiun kecil pada jaman dulu. Sekitar 1 jam saya duduk di kursi panjang yang ada di samping stasiun, menikmati semilir angin dan pemandangan perbukitan. Saat duduk di sana, terlintas dalam benak saya suasana pada masa itu. Halte kecil yang sederhana, yang mungkin hanya dijaga oleh satu atau dua orang petugas, dan sepi karena kereta api pada masa itu merupakan alat transportasi yang "mewah"  dan tidak semua orang mampu untuk membeli tiketnya. Ahh imajinasinya saya tiba-tiba "terlempar" ke masa itu.


Halte pemberhentian kereta

Pemandangan dari "halte" kereta yang dipindahkan ke museum
Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12.00 siang. Sebelum mengakhiri "petualangan" kami di museum ini, Juno mengajak kami untuk melihat mesin putar dan mesin timbang berwarna kuning yang berada tak jauh dari pintu keluar. Juno excited sekali. Dia sangat menyukai kereta api. Thomas dan Chuggington adalah salah satu tontonan favoritnya. Dia lari kesana-kemari dan berkali-kali dia teriak kegirangan. "Mami, ini kayak yang ada di Chuggington," katanya. Sayang sekali kali ini kami belum mencoba naik kereta api wisata. Hemm, kayaknya kami harus kembali lagi ke sana nih untuk naik kereta api wisatanya.

Mesin putar rel, kata Juno sama seperti di Chuggington

Petualangan yang seru sekali. Berada di museum ini seakan membawa kita ke masa itu. Masa dimana kereta api membangun sejarahnya di dunia transportasi Indonesia. Lokasi yang mudah dijangkau dan tempat parkir yang luas menjadikan Museum Kereta Api Ambarawa menjadi tempat wisata edukatif yang sangat recommended, tidak hanya bagi anak-anak tapi juga bagi orang dewasa. Bagi kalian yang ingin mengunjungi museum, saran saya datang awal jam 8 atau 9, supaya kebagian tiket kereta api wisata. Tunggu cerita jalan-jalan saya di Ambarawa dan Bandungan, Semarang pada postingan selanjutnya ya. Happy weekend.

Museum Kereta Api Ambarawa
Jalan Stasiun Panjang No.1 Ambarawa
Harga tiket : 
Anak-anak : Rp 5.000/anak
Dewasa       : Rp 10.000/orang


Wednesday, 11 April 2018

Staycation Review: Indies Heritage Hotel Yogyakarta

Kayaknya udah agak lama ya saya tidak "menyentuh" blog, kurang lebih dua bulanan. Lagi-lagi karena alasan "sok sibuk", blog ini jadi jarang disentuh. Baiklah, (lagi-lagi) saya akan berkomitmen lagi untuk menulis secara rutin. Harap maklum ya, namanya juga partimer blogger, hehehe. Setelah sekitar 2 bulan "cuti" ngeblog, kali ini saya akan posting staycation review. Dan yang akan saya review kali ini adalah Indies Heritage Hotel Yogyakarta, yang baru saja saya "cicipi" minggu lalu. Minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk staycation di Indies Heritage Hotel Yogyakarta. Hemmm, staycation di hotel yang bagus dan di tengah kota pula, seems so fun. Sebenarnya hotel ini tidak tergolong baru, karena kalau tidak salah sudah ada sejak tahun 2013. Namun karena lokasinya yang agak "nyempil" jadi mungkin banyak yang belum kenal. Okey, jadi saya akan perkenalkan di sini ya.


Indies Heritage Hotel berlokasi di Jalan Prawirotaman III No. 625 Yogyakarta. Bagi yang asli Jogja atau yang udah sering ke Jogja, pasti tidak asing dengan Jalan Prawirotaman. Jalan ini sangat familiar bagi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara, karena memang di lokasi inilah banyak berdiri hotel dan penginapan dengan rate bervariasi, mulai  kelas backpackeran hingga yang suit ada. Nah, jalan Prawirotaman ini ada tiga, yaitu Prawirotaman I, II, dan III. Prawirotaman I adalah jalan utamanya, bisa dibilang semacam Legian di Bali deh. Karena tidak hanya banyak hotel, tapi di sepanjang jalan ini juga banyak cafe. Dan kalau malam, nuansanya emang bener-bener kayak di daerah Legian Bali gitu. Tampak turis-turis mancanegara yang sedang menikmati liburannya di Jogja, bersliweran di jalan ini. Sedangkan Jalan Prawirotaman II dan III ada di selatan Jalan Prawirotaman I. Jalan Prawirotaman II berada sebelum Pasar Prawirotaman dan Jalan Prawirotaman III di sebelah selatan Pasar. Dan Indies Heritage Hotel berada di Jalan Prawirotaman III. Tepat di selatan Pasar Prawirotaman, terdapat gang ke arah timur dan di situ terdapat plang bertuliskan "Indies Heritage Hotel".


Indies Heritage Hotel. Hampir tiap pagi saya melewatinya setiap berangkat ke kantor. Sebuah bangunan berlantai tiga yang didominasi warna putih, dilengkapi jendela-jendela berukuran besar, khas gaya arsitektur Belanda. Dari depan hotel ini memang tampak tidak terlalu luas, karena bangunannya memanjang ke belakang. 

Jam 3 sore kami check in. Tentu saja saya tidak sendiri, saya bersama suami, dan si kecil Juno. Sejak dua hari sebelumnya Juno sudah saya beri tahu kalau kami akan menghabiskan weekend di hotel, dan seperti biasa dia sangat excited. Selepas check in, kami bergegas menuju kamar kami di lantai 2. Kamar kami adalah deluxe room dengan king size bed. Kamar berukuran sekitar 6 x 4 meter ini, didominasi oleh warna putih, cream dan coklat. Menurut saya sih desain interiornya perpaduan yang harmonis antara klasik dan modern. Klasik terlihat dari model lemari, meja, kursi dan cerminnya. Sedangkan lainnya menurut saya sangat modern. Kesan pertama begitu saya masuk ke kamar adalah very clean. Yup, menurut saya kamarnya sangat bersih, sesuai seperti review tamu yang saya baca di Google review. Kamar deluxe yang kami tempati memiliki fasilitas sebagai berikut: LED TV dengan saluran TV kabel (saluran lokal dan internasional), full set bathroom set, AC, wifi (wifi nya asli kenceng), fasilitas membuat kopi/teh, telepon dan safety box. Untuk deluxe room memang tidak tersedia kulkas, but it's ok. Ini saja sudah cukup komplit kok.

kamar yang bersih dan cantik

Juno asyik nonton kartun, kids friendly banget kan.

Perpaduan klasik dan modern
Setelah beres-beres sebentar, kami turun menuju kolam renang di lantai 1. Karena saat itu sedang tidak ada tamu lain yang berenang, saat itu serasa kolam renang jadi milik kita bertiga deh, hehehe. Sama seperti kamarnya yang bersih, kolam renangnya juga bersih loh. Nggak terlalu besar sih, tapi lumayan lah untuk berenang bolak-balik. Kedalamannya antara 0.8 - 1.5 meter. Di tepi kolam tersedia kursi-kursi untuk ngobrol santai. Juga tersedia ruang bilas dan ganti, dan handuk tertata rapi di salah satu sudutnya. Berhubung tidak ada kolam khusus anak-anak, jadi bagi tamu yang membawa anak kecil berenang, anak-anaknya harus diawasi ya. Saat kami berenang hujan turun dan cukup deras. Karena kuatir Juno masuk angin, sekitar jam 6 kami selesai berenang dan kembali ke kamar.






Karena tujuannya adalah staycation, jadi kami memang tidak ada rencana kemana-mana selain menghabiskan malam minggu di kamar yang sangat nyaman ini. Walaupun hotel ini berada di tengah kota dan mau kemanapun sebenarnya tidak ada yang jauh, namun kami memutuskan untuk tetap di kamar, nonton TV sambil ngobrol. Untuk makan malam, kami memilih untuk memesan makanan melalui **Food. Ahh, memang di era digital ini, semua jadi terasa mudah ya. Mau apa saja tinggal pesan online, tunggu sebentar saja pesanan sudah di depan mata. Oiya, sekitar jam 8 malam, seorang staf hotel mengetuk pintu kamar kami dengan membawa coklat, hemmm yummy. Setelah itu, saya menyempatkan untuk membuka laptop membaca beberapa artikel jurnal, dan entah jam berapa kami terlelap, karena tau-tau udah subuh. 


Coklat, hemm yummy :)

Jam 7 pagi kami kami turun lagi untuk berenang. Pagi itu tampak beberapa tamu sedang berenang, dan beberapa lagi duduk di tepi kolam renang. Saya memilih untuk untuk duduk di tepi kolam sambil mengawasi Juno yang berenang dengan papinya. Namun karena airnya cukup dalam, Juno agak takut untuk "dilepas" meskipun dia sudah memakai pelampung. Sekitar 1 jam kami berenang. 

Setelah puas berenang, kami menuju restoran yang berada tidak jauh dari kolam renang. Hemmm, ternyata menu breakfastnya cukup komplit. Mulai dari salad (favorit saya), segala macam roti, puding, telur, bubur ayam, sosis, nasi goreng dan beberapa macam sayur dan lauk. Untuk menu breakfastnya, jujur ya, masakannya enak. Saya penggemar salad, sering saya menemui salad yang disajikan di hotel, sayurannya kurang segar atau saus saladnya kurang enak. Tapi salad yang ini bener-bener enak, sayurannya juga segar. Begitu juga dengan menu lainnya seperti nasi goreng dan gulai ayamnya. Dan kali ini Papi Juno juga sepakat dengan saya, masakannya enak dan menunya bervariasi. Satu yang menurut saya kurang oke adalah menu terong yang dimasak seperti bistik, itu saja, yang lainnya sih oke. Silahkan dicek di Google review, banyak juga tamu yang menilai makanannya enak, sama seperti kami.


restoran

Salad favorit saya, yang disamping itu terong dimasak seperti bistik gitu
Setelah sarapan kami kembali ke kamar nonton TV dan papi Juno memilih untuk tidur lagi, hari Minggu gitu loh, bebasss, hehehe. Dan sekitar jam 11.30 kami check out, walaupun sebenarnya masih pengen stay di sini, hehehe. Yang jelas, weekend kali ini quality time banget bagi kami, staycation di hotel yang nyaman banget, di tengah kota tapi tenang,  tidak bising, fasilitas lengkap, staf yang ramah dan tentu saja pelayanannya oke banget. Jadi bagi kalian yang mau liburan di Jogja, hotel ini sangat recommended, karena berada di tengah kota, dekat dengan Malioboro, Keraton, Tamansari dan Alun-Alun. Ratenya? Terjangkau banget. Silahkan dicek di situs resmi Indies Heritage Hotel atau situs-situs pencarian hotel. Friendly and worth price, really. For me, it's such a perfect place for staycation. Thank you Indies Heritage Hotel, see you on another occasion.

Indies Heritage Hotel

Jalan Prawirotaman III No. 625 Yogyakarta
Telp (0274) 2870999
www.indiesheritagehotel.com


Saturday, 20 January 2018

A Note to Our 6th Anniversary: They Are Us

24 Desember 2008. Untuk pertama kalinya kamu mengajakku "kencan". Tampak seperti kencan biasa saja sebetulnya. Nonton, makan. Tapi siapa yang menyangka itu akan menjadi awal dari segalanya. Awal dari kehidupan kita. Kamu hadir dengan cara yang sederhana,  tidak muluk-muluk, dan tidak banyak janji. Mungkin saja caramu tidak benar. Mungkin juga aku salah. Tapi kuyakin, kamu punya alasan. Seperti halnya aku juga punya alasan untuk memilihmu saat itu. Dan BUKAN alasan yang sederhana tentu saja.

Tak seperti cerita dongeng puteri yang indah tanpa cela. Begitu juga perjalanan kita. Banyak kerikil. Banyak batu. Dan tak jarang karang terjal. Satu persatu kita lalui dengan tidak mudah. Pernah ku menanyaimu, mengapa kamu memilihku. Aku tau aku bukan tipemu. Sebaliknya, kamu juga bukan tipeku. Kita berbeda. Dunia kita tak sama. Aku idealis. Sedangkan kamu ngeflow abis. Lalu apa jawabmu? Aku suka spiritmu. Aku suka semangatmu. Kamu seperti matahari, selalu bersinar. Ahh kalau yang ini pasti kamu sedang menggombal.

Tak sepertiku yang selalu mempertanyakan perasaanmu, kamu tak pernah mempertanyakan perasaanku. Apakah semua pria seperti itu. Entahlah. Mungkin kamu terlalu yakin dengan perasaanku. Atau kamu kuatir aku akan mengatakan yang tidak sesuai dengan harapanmu. Sudah benar, kamu tak perlu menanyaiku. Aku memilihmu. Itulah jawabanku. Itu saja.

Tapi jika kamu menanyaiku, tentu saja aku akan menjawabnya. Kalau kamu menanyaiku dulu dan sekarang, mungkin jawabannya akan sedikit berbeda. Aku masih menyukai kamu yang sipit. Aku masih menyukai kamu yang tak pernah berkata kasar. Aku masih menyukai kamu yang sabar dan tak pernah marah. Tapi sekarang aku lebih menyukaimu lagi. Aku menyukai kamu yang menerimaku tanpa syarat. Aku menyukaimu yang selalu mendukungku. Aku menyukaimu yang selalu memberiku kebebasan untuk melakukan apapun yang aku sukai, dan aku menyukaimu yang selalu membiarkanku bahagia dengan caraku sendiri. Dan kurasa, ini tak akan kutemukan pada siapapun, di manapun.

21Januari 2012. Keputusan terbesar dalam hidupku. Begitu juga kamu. Jalan kita tidak mudah. Proses kita juga tidak sederhana. Tidak serba ada. Tidak juga semua tersedia. Kita berdua memulainya tanpa apa-apa. Kerikil dan batu sudah biasa. Bahkan tak jarang karang pun kita hadapi bersama. Tak selalu indah. Kita tak selalu saling memuja. Tak jarang kita berdebat, tak jarang kita bertahan dengan ego kita. Aku pernah menyakitimu. Kamupun pernah menyakitiku. Yang kutahu, itu karena aku mencintaimu, dan kamu mencintaiku. Kita berproses. Kita berproses dengan iringan tangis dan tawa bocah kecil bermata bulat, yang "memaksa" kita untuk selalu belajar dan belajar, menjadi orang tua. 

Enam tahun kini. Dan itu belum seberapa. Lihatlah bapak dan ibu kita. Tak hanya enam tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun. Hampir lima puluh tahun mereka bersama. Bayangkan, setengah abad menghadapi orang yang sama. Apakah mereka tidak bosan? Apakah mereka tidak lelah? Apakah mereka pernah menyerah? Aku yakin mereka pernah melalui semuanya. Tapi lihatlah mereka sekarang. Tak lagi muda, tapi tetap saling menerima dan setia. Tampak tua dan lelah, tapi tetap saling menjaga. Aku melihat mereka. Dan aku melihat kita. Mereka adalah kita.

Kita akan tetap berdebat, tapi kita juga akan saling memuja. Kita akan tetap saling mengkritik, tapi kita akan saling membanggakan. Kita akan menua dan tak lagi berdaya. Tapi kita akan  saling setia. Seperti Bapak dan Ibu. Karena mereka adalah kita. 

Terima kasih Bapak, Ibu telah menunjukkan padaku, kepada kami, apa itu cinta yang sesungguhnya. Cinta itu menerima. Cinta itu menjaga. Dan menikah itu tak hanya setahun, dua tahun, atau enam tahun, tapi selamanya. Ingatkan aku saat ku lelah. Dan saat kamu lelah, aku juga akan mengingatkanmu. Masa itu. Perjuangan kita. Baca juga http://ceritamamijuno2.blogspot.co.id/2017/01/dear-husband-on-our-5th-wedding.html

Happy 6th anniversary dear husband, my best friend, my everything.
 love you as always, me

This is for you:


Monday, 25 December 2017

Museum Gunung Merapi: Mengenal Sang Mahaguru Merapi

Masih seputar tempat wisata di Yogyakarta yang bisa dijadikan referensi untuk mengisi liburan, setelah sebelumnya saya posting Merapi Park, postingan kali ini juga masih tentang tempat wisata yang tidak jauh dari Merapi Park. Tepatnya dari Merapi Mark, naik sedikit sekitar 500 meter, yes, Museum Gunung Merapi. Jujur saja ya, saya yang sejak lahir tinggal di Jogja, masih banyak tempat wisata di Jogja yang belum saya kunjungi. Salah satunya ya Museum Gunung Merapi ini. Minggu lalu kami memang merencanakan untuk menghabiskan weekend di Kaliurang, jadi kami menginap semalam di  salah satu penginapan di Kaliurang. Hari Sabtunya kami mengunjungi Merapi Park dan menikmati makan siang di Gubug Coklat, hari Minggunya sebelum pulang kami menyempatkan untuk mengunjungi Museum Gunung Merapi (MGM). 





Hari Minggu Jam 08.00 kami sudah tiba di MGM, karena hari Sabtunya kami sudah survey lebih dulu, bahwa MGM buka jam 08.00. Jadi kami memang sengaja datang pagi-pagi supaya pengunjung belum terlalu padat. Maklum hari Minggu, sudah dipastikan pengunjungnya bakalan padat. Benar, tiba di sana sudah tampak beberapa bis pariwisata yang kebanyakan membawa rombongan anak-anak sekolah yang sedang study tour. MGM merupakan bangunan dua lantai yang megah dan unik berbentuk trapesium dengan salah satu puncaknya berbentuk segitiga, diresmikan pada tahun 2010 silam. Tampak jauh di belakangnya adalah Gunung Merapi yang tinggi menjulang.

Kami langsung menuju loket untuk membeli tiket. Harga tiket 5 ribu/orang, anak-anak usia 3 tahun ke atas juga harus membeli tiket. Saat di depan loket, saya melihat poster film dengan judul " Mahaguru Merapi", kemudian saya menanyakan kepada petugas tiket jam tayang filmnya. Ternyata saat itu film sudah mau tayang, jadi kami sekalian membeli 3 tiket film, seharga 5 ribu/orang, dan segera menuju ke theater di lantai 2 karena film akan tayang sebentar lagi.

Tiba di theater, pengunjung sudah penuh. Film berdurasi sekitar 30 menit itu menceritakan tentang kondisi Gunung Merapi dari jaman dulu hingga erupsi terakhir tahun 2010 lalu. Film dibuat dengan sangat serius dan profesional, yang membuat kita berdecak kagum saat menyaksikannya. Daripada saya jadi spoiler dengan menceritakan filmnya di sini, mending langsung nonton aja yah di MGM, hehehe. Setelah menyaksikan filmnya, kami mengikuti rombongan study tour untuk mengelilingi museum, maksudnya biar sekalian dengerin penjelasan dari petugas pemandunya, hehehe. Nah berikut ini beberapa gambar yang saya ambil di dalam museum.


Yang ini namanya gerbang lava. Tuhh warnanya merah menyala seperti lava yang mengalir dari kubah Gunung Merapi saat erupsi beberapa tahun lalu ya. Mau foto di sini juga boleh kok.




Di MGM terdapat beberapa monior yang terhubung dengan semua pos pemantauan merapi yang ada, sehingga dari sini kita bisa melihat kondisi Gunung Merapi dilihat dari seluruh pos pemantauan. Tampak petugas pemandu sedang menjelaskan kondisi yang tampak di monitor.






Kalau yang ini adalah miniatur yang menggambarkan  tipe-tipe  erupsi dari tahun 1930, meliputi bentuk kubahnya, tipe awan panasnya, dan arah dari awan panas tersebut. Ternyata kondisinya berbeda lho dari masa ke masa. Setelah berkeliling melihat perubahan kondisi Gunung Merapi dari masa ke masa, di MGM kita juga bisa menyaksikan simulasi letusan  Gunung Merapi. 



Dan setelah  menyaksikan filmnya dan mengelilingi museum, banyak yang bisa kita pelajari dari Gunung Merapi. Bagaimana Gunung Merapi memberikan manfaat dan penghidupan yang sangat besar bagi masyarakat sekitarnya, berapa ribu orang menggantungkan hidupnya dengan keberadaan gunung Merapi. Namun sebaliknya, dalam kondisi tertentu, Gunung Merapi dengan sekejap dapat meluluhlantakkan kehidupan di sekitarnya. Itulah maka diperlukan adanya keselarasan antara alam, bumi dan manusia.

Nah penasaran 'kan, langsung ke sana aja yah. Pas banget kan buat ngisi liburan anak-anak. Selamat berlibur ya.

Merapi Park Kaliurang Yogyakarta: Wisata Selfie di Landmark Dunia

Hai, terima kasih ya sudah mampir di blog mamijuno. Setelah beberapa minggu absen, baru bisa update sekarang. Maklum namanya juga emak-emak seksi sibuk merangkap seksi wira-wiri. Masih di edisi liburan akhir tahun nih. Sudah pada jalan-jalan kemana aja? Atau malah masih bingung mau kemana? Nah kali ini saya akan posting tempat asyik di Yogyakarta yang mungkin bisa jadi referensi untuk mengisi liburan kali ini. Tempatnya masih tergolong baru, karena baru diresmikan tahun ini juga. Namun dijamin instagramable banget. Namanya The World Landmarks Merapi Park, yang terletak di Jalan Kaliurang Km.25 Pakembinangun, Sleman.

Minggu lalu kami bertiga ke sana setelah sebelumnya sempat kepo dengan foto-fotonya yang wira-wiri di timeline medsos Berhubung lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota Jogja, bagi kalian yang akan ke sana, saya sarankan untuk berangkat pagi-pagi, yah paling tidak jam 08.00 gitu sudah masuk Jalan Kaliurang. Karena pengalaman saya kemarin, Sabtu jam 09.00 pagi kami berangkat dan baru tiba di lokasi sekitar jam 11.30, karena Jalan Kaliurang  Km.5 hingga Km.14 sangat macet, apalagi sekarang musim liburan, sudah pasti makin macet. Dan tiba di sana hujan deras. Untuk lokasinya, dari arah Jogja ke utara hingga Jalan Kaliurang Km. 25, dari RS.Panti Asih Pakem, belok kiri sekitar 2 km, ikuti saja petunjuk arahnya.

Lokasi Merapi Park ini berdekatan dengan Museum Gunung Merapi, tepatnya di bawah museum. Berhubung tiba di sana hujan saat deras, kami memutuskan untuk menunggu hujan reda dengan makan siang tak jauh dari lokasi Landmarks Merapi, namanya Gubug Coklat, yang lokasinya berada 1 km sebelum Merapi Park. Sesuai namanya, warung makan ini memiliki menu utama tentu saja minuman coklat dengan berbagai varian. Selain itu untuk snacknya ada jadah goreng dan pisang goreng. Hemm cocok sekali kan dinikmati saat hujan. Dan untuk menu utamanya, diberi nama yang unik, yaitu nasi lahar merapi. Yaitu nasi putih dengan kuah rending, sayuran, kering temped dan ayam bakar. Menurut saya nasi lahar merapinya cukup enak, hanya sayang, pengunjung harus menunggu pesanan agak lama. Overall, baik minuman maupun makanannya enak, dengan harga yang terjangkau mulai 10 ribuan untuk minuman coklat dan 20 ribuan untuk nasi lahar merapi.

nasi lahar merapi, saya lupa harganya, kalau nggak salah 20rb 

pisang goreng, jadah goreng, coklat panas...sempurna

Setelah hujan reda, kami menuju ke Merapi Park sekitar jam 15.00. Mungkin karena cuaca yang kurang bersahabat, jadi pengunjung saat itu tidak begitu ramai. Harga tiket 15rb/orang, dan untuk anak-anak usia 2 tahun ke atas dikenakan tiket. Karena tempatnya tergolong baru, beberapa wahana masih dalam tahap pembangunan. Tampak juga pohon-pohonnya yang belum tinggi. Namun jangan kuatir, di sini banyak terdapat gazebo dan warung makan, jadi pengunjung bisa beristirahat setelah mengelilingi landmark.


tiket masuk 15rb/orang



Apa sih yang ditawarkan oleh Merapi Park? Sesuai namanya, The World Landmarks Merapi Park, di sini pengunjung bisa berfoto di beberapa landmark  terkenal dunia, seperti Menara Eiffel, Menara Pisa, Patung Liberty, Jam Big Ben, dan beberapa landmark lain. Yang hobi selfie, silahkan dipuas-puasin deh selfie di sini. Namun karena banyak pengunjung yang antri untuk berfoto juga, jadi harus bersabar ya. Berikut ini beberapa landmark dunia yang ada di Merapi Landmarks, yang pasti instagramable banget. Can you spot them?










Nahh, yang masih bingung untuk mengisi liburan kali ini, Merapi Park atau The World Landmarks Merapi Park bisa dimasukkan ke list liburan kali ini. Selamat liburan ya.


Saturday, 2 December 2017

Om-om Ganjen dan Pelakor

sumber: amazon.com
Apa-apaan sih ini? Judulnya nggak jelas banget. Okey, saya jelasin dulu yah kenapa saya nulis judul ini. Pertama, beberapa minggu ini saya baru stres banget karena banyak deadline yang harus saya selesaikan, terutama tentang studi saya. Jadi saya butuh hiburan. Kalau kemarin saya disibukkan dengan literature review yang bikin kepala saya "mendidih", sekarang saya mau nulis yang ringan-ringan saja. Yang nggak banyak mikir. Buat hiburan ajalah intinya. 

Beberapa hari yang lalu ada teman yang nanya ke saya, Mbak kok nulisnya kuliner mulu sih? Kok wisata mulu sih? Kok lifestyle mulu sih? Kapan nulis tentang HR, ilmu yang mbak pelajari sekarang? Saya ketawa. Well, jujur sebenarnya pengen juga saya nulis tentang itu, punya blog khusus untuk itu. Tapi itu 'kan nggak mudah. Butuh waktu dan energi lebih untuk nulis topik yang serius. Anyway, itu sudah masuk dalam wishlist 2018 kok. Ditunggu yah.  Kedua, topik yang saya tulis pada judul di atas, akhir-akhir ini lagi hits banget. Jadi mau nggak mau saya terusik juga untuk komentar. Tapi karena saya lebih suka komentar lewat tulisan, tangan saya gatel, ya udah deh saya tulis aja. 

Apa sih pelakor itu? Kalau ada yang belum tau, pelakor itu akronim dari "perebut laki orang". Tapi kalau siapa yang menciptakan istilah ini, saya juga nggak tau. Yang jelas istilah ini mulai populer 2 tahun belakangan, dan makin populer setelah netizen makin sering memviralkannya di medsos. Ngomongin soal pelakor, pasti udah pada tau dong video drama pelakor yang lagi viral dan masih hangat karena sebelumnya diposting oleh salah akun gosip (favorit saya), hahaha. Yes, pokoknya yang itulah. Di video yang viral itu, artis cantik yang dituduh pelakor tampak didorong dan dimaki-maki oleh anak gadis si pria yang konon "direbut" oleh si artis cantik ini. Entah itu ceritanya benar atau nggak, yang jelas videonya viral. Banyak parodinya. Tak ketinggalan teman saya Novi yang keceh badai pun ikut bikin parodinya, dan ditag di facebook saya, hahaha. Selo banget sih lu Nov, tapi lumayan lah, buat seru-seruan dan lucu-lucuan.

Dan akhir-akhir ini istilah pelakor semakin ngehits. Awalnya sih saya kira istilah ini hanya digunakan di kalangan artis, namun karena the power of medsos, akhirnya istilah ini jadi populer juga di kalangan orang biasa. Pelakor, perebut laki orang. Sudah jelas, istilah ini pasti ditujukan untuk perempuan. Ya iyalah, masa laki-laki merebut laki orang. Ahh, tapi jaman sekarang bisa juga loh say. Hehehe. Balik lagi ke pelakor. Lalu apa bedanya dengan istilah jaman dulu, WIL (Wanita Idaman Lain)? Menurut saya, sebenarnya sama aja, namun konteksnya aja yang beda, kalau WIL dianggap hubungan antara si pria dan WILnya dilakukan secara diam-diam, tersembunyi, wanitanya nggak agresif, dan cenderung sebagai obyek. Nahhh kalau pelakor, sebenarnya kondisinya sama, cuma kalau pelakor dilihat sebagai subyek dan  dianggap agresif. Bahkan tak jarang, pelakor tanpa malu-malu lagi menunjukkan ke-pelakorannya, entah itu di medsos atau di dunia nyata, dan karena itulah istilah pelakor jadi makin ngehits. Karena kebanyakan si pelakor sendiri yang memviralkan kisahnya di medsos, hehehe. Nah kalau ada pelakor seperti halnya WIL, harusnya ada juga dong istilah pebirang (perebut bini orang) atau perirang (perebut istri orang) seperti halnya PIL. Tapi kenapa istilah ini nggak hits ya? Padahal pasti banyak juga kasusnya, namun mungkin nggak sebanyak kasus pelakor kali yaa. Atau pelakunya lebih cool, nggak suka posting di medsos, hehehe. Entahlah.

Lalu apa hubungannya dengan judul yang saya tulis di atas, om-om ganjen dan pelakor? Dari kacamata saya, cieehh kaca mata kayak pengamat aja ya, oww ya jelas ada dong. Hubungannya sangat erat. Saya pakai istilah om-om di sini untuk menyebut pria yang sudah berkeluarga, mau usianya masih muda, paruh baya, atau tua, kalau udah berkeluarga, ya dia itu om-om, artinya pria yang tidak single lagi alias tidak available lagi. Namun setiap ada drama pelakor, biasanya vonis kesalahan terbesar adalah pada si pelakor. Perempuannya yang salah. Tentu saja, mana ada pelakor nggak salah. Yang namanya pelakor kemana-mana udah pasti salah, apapun alasannya. Saya setuju. Kalau pelakor alim? Ahh, itu beda lagi, saya no comment deh, hehehe. 

Kenapa pelakor dianggap lebih salah? Karena dia nekat menggoda pria yang sudah berkeluarga? Yes, betul. Tapi menurut saya, sama salahnya dengan si pria alias si om-om yang juga ganjen. Lha wong udah berkeluarga kok ya masih ganjen? Lha wong udah berkeluarga kok ya masih mau digodain atau justru malah dia yang menggoda? Banyak lho pria-pria model beginian. Yang merasa punya kelebihan, entah itu merasa ganteng, merasa punya jabatan, merasa mapan, merasa pinter atau merasa berduit, lalu tingkat kepedeannya meningkat berkali-kali dan keganjenan menggoda perempuan lain. Banyakkkk banget say.  Emang pernah ketemu pria model begini? Sering. Yang nggak punya kelebihan tapi pedenya setinggi langit juga banyakkk. Nahhh, kalau pria model begini ketemu dengan perempuan model pelakor, apa jadinya? Yang ada ya drama-drama pelakor seperti yang viral-viral itu. Jadi menurut kaca mata saya (ishh kaca mata lagi, udah kayak pengamat politik aja saya), drama pelakor itu nggak akan ada kalau om-omnya juga nggak ganjen. Artinya mau digoda kayak apa juga, kalau dia punya komitmen yang tinggi pada keluarganya, ya perempuan model pelakor nggak akan eksis. Setuju nggak gengs? 

So, buat para lelaki, look at your self, look at your family, look at them who has always supported you all this time, there is no reason to do anything stupid in your life. Dan buat para pelakor atau yang hampir jadi pelakor, look at your self, do something better, do not hurt anyone, find your own happiness, do not take the happiness of others. Itu aja sih.

Happy weekend.

ps: saya agak kesulitan mencari image yang pas untuk postingan kali ini, saya coba googling dengan keyword "pelakor" yang keluar image artis perempuan yang itu-itu, dan pelaku/korban drama pelakor, jadi saya pilih yang itu saja supaya netral.