expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Monday, 2 January 2017

Wisata Alam Magetan Part #1 Telaga Sarangan


Telaga Sarangan, Magetan, Jawa Timur
Liburan tahun baru kali ini awalnya kami tidak berencana untuk pergi kemanapun, dengan alasan kuatir terkena macet. Sudah menjadi suatu hal yang rutin, pada saat liburan seperti tahun baru, di mana-mana pasti macet, dan semua obyek wisata juga pasti penuh. Selain itu ada satu alasan khusus mengapa kami harus berpikir dua kali untuk bepergian di malam tahun baru, Juno sangat tidak menyukai kembang api dan petasan. Agak aneh memang, biasanya anak kecil suka dengan kembang api dan petasan, tapi Juno tidak, dia akan menangis ketakutan jika melihat kembang api dan mendengar suara petasan. 

Ketakutannya pada kembang api dan petasan bermula ketika 2 tahun lalu di malam takbiran, dia kaget mendengar suara kembang api dan petasan, dan setelah itu dia takut pada kembang api dan petasan, hingga saat ini. Sebenarnya kami sudah mencoba menjelaskan pada Juno agar tidak perlu takut pada kembang api atau petasan, namun sepertinya dia masih trauma. Jadi ya gimana lagi, hingga saat ini setiap mendengar suara kembang api atau petasan, dia pasti nangis ketakutan. Semoga seiring pertambahan usianya, rasa takutnya akan hilang.

Dengan alasan tersebut, kamipun tidak memiliki rencana apapun untuk menghabiskan libur an tahun baru. Namun entah mengapa sehari sebelum liburan tahun baru, Papi Juno punya ide untuk menikmati malam pergantian tahun di Telaga Sarangan, Magetan Jawa Timur. Awalnya saya ragu, karena jaraknya yang cukup jauh. Tapi kayaknya seru juga yang menghabiskan malam tahun baru di suatu tempat yang berbeda, begitu pikir saya. Oke, fix akhirnya kami memutuskan untuk merayakan pergantian tahun di Sarangan. Saat itu kami memang berencana untuk menginap, tapi kami tidak booking hotel terlebih dahulu, besok cari langsung saja begitu tiba di sana, begitu kata papi Juno.

Sabtu pagi jam 05.30 kami berangkat dari Jogja. Saya menggendong Juno yang waktu itu masih terlelap. Kami memang berangkat pagi untuk menghindari kemacetan. Yang namanya long weekend, apalagi liburan tahun baru dan masih libur sekolah, sudah pasti bakalan macet di mana-mana.  Memasuki Jalan Solo, Juno terbangun dan ‘agak bingung’ karena dia belum tahu akan kami bawa ke mana, tapi setelahnya dia terlihat hepi dan mulai excited mengomentari apa yang menurutnya menarik. Hingga Solo lalu lintas ramai lancar. Tiba di Karanganyar sekitar jam 07.30 kami berhenti untuk sarapan. Kami berhenti di depan Alun-Alun Karanganyar untuk sarapan di sebuah warung Nasi Liwet lesehan. Jam 08.00 kami melanjutkan perjalanan. Jalanan sudah mulai ramai, kebanyakan berplat luar kota. Mendekati daerah Tawangmangu, udaranya mulai dingin, dengan pemandangan di kanan dan  kiri adalah kebun sayur, hijau dan segar.

Pemandangan selepas Tawangmangu
Tiba di daerah Tawangmangu sekitar jam 08.15. Sepanjang jalan banyak peduduk sekitar berdiri di tepi jalan menawarkan jasa untuk mencarikan hotel atau penginapan. Namun karena tujuan kami memang mau ke Sarangan, jadi kami tidak ‘mampir’ ke Tawangmangu, walaupun saya baru sekali ke Tawangmangu, belasan tahun lalu, saat study tour kelas 3 SMU. A long time ago .

Jangan lupa foto-foto di sini
Selepas Tawangmangu, perjalanan menjadi sangat menyenangkan karena pemandangan di sisi kanan dan kiri sangat indah. Kebun sayur  hijau yang ‘tertata’ dengan sangat rapi, dengan model teras siring dan hutan cemara. Terlihat juga villa-villa berjejer rapi di atas sana. Indah sekali, berkali-kali yang berdecak kagum, ”Masya Allah, kayak lukisan”. Memang benar lukisan, lukisan tangan Tuhan. Di sepanjang jalan banyak warung jika ingin berhenti sejenak melepas lelah sambil menikmati secangkir kopi, teh panas, jagung bakar atau mie rebus. Cocok sekali dingin-dingin begini, menikmati secangkir panas atau mie rebus sambil menikmati ‘lukisan tangan Tuhan’ ini. Di sepanjang jalan banyak sekali kendaraan yang berhenti untuk sekedar foto-foto atau selfie. 

Jalan menuju Cemara Kandang
Tak mau ketinggalan, kamipun berhenti juga. Keluar dari mobil…hemmm udaranya segar sekali, adem, beda sekali dengan di Jogja. Ya iyalah, namanya juga di gunung, dingin dan segar. Tak lupa kamipun foto-foto di tempat itu. Selepas Tawangmangu, jalan semakin menanjak dan pemandangan menjadi lebih eksotik, karena lebih banyak hutan dan pohon-pohon yang tinggi menjulang, tapi tak kalah indahnya dengan kebun sayur hijau yang tadi. Kembali saya berdecak kagum pada lukisan tangan Tuhan di sepanjang jalan ini. Cantik dan eksotik, benar-benar seperti lukisan.

Cemara Kandang, pos pendakian Gunung Lawu
Pemandangan di belakang warung-warung
Tiba di Cemara Kandang, ternyata di sana sudah cukup ramai. Di tempat ini juga banyak warung yang menyediakan menu yang sama dengan warung-warung sebelumnya, kopi, teh, jagung bakar, sate ayam, sate kelinci, dan bakso 'pentol' atau kalau di Jogja populer dengan sebutan 'cilok'. Saya sempat bertanya pada Papi Juno, 'Pi, ini tempat apa sih?'. Kata Papi Juno Cemara Kandang merupakan titik atau pos tempat para pendaki yang akan mendaki Gunung Lawu. Ada 2 pos untuk mendaki Gunung Lawu, yaitu Cemara Kandang ini, yang masih termasuk wilayah Jawa Tengah, dan satu lagi setelah ini ada Cemara Sewu, yang sudah masuk wilayah Jawa Timur. Dan memang benar, di Cemara Kandang dan Cemara Sewu, pengunjung sangat ramai, rata-rata mereka beristirahat di warung sambil menikmati pemandangan, dan sebagian lainnya adalah pendaki yang akan mendaki Gunung Lawu.

Hotel Purbaya di Ngerong, Sarangan
Pemandangan sepanjang jalan masih berupa hutan hijau dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang, dan mendekati Sarangan, pemandangan lebih banyak berupa kebun sayur hijau, seperti sawi hijau, daun bawang, seledri dan lain-lain, seger banget lah pokoknya. Kami tiba di daerah Sarangan sekitar jam 10.00. Tujuan utama adalah mencari hotel atau penginapan yang sesuai dengan budget kami. Hotel dan penginapan yang lokasinya dekat dengan obyek wisata sudah pasti harganya mahal, di atas 500 ribu, jadi kami mencari lokasinya di luar telaga. Setelah melihat beberapa hotel, kami memutuskan untuk bermalam di Hotel Purbaya, sekitar 2 km dari obyek wisata Telaga Sarangan. 

Pemandangan dari  hotel
Hotel ini merupakan sebuah hotel kuno. Dilihat dari model bangunannya, perkiraan saya, hotel ini dibangun tahun '80an. Hotel bercat orange ini memiliki sekitar 20 kamar. Saya membayangkan puluhan tahun lalu, pasti hotel ini berjaya di jamannya. Dengan harga 300 ribu/malam, saya rasa harganya sesuai. Mungkin untuk hari biasa, bukan liburan, harganya bisa lebih murah lagi. Di kamar terdapat 2 tempat tidur dengan ukuran king dan queen, televisi, kamar mandi, air panas, lemari dan ada ruang tamu dengan 2 kursi. Karena di sini udaranya sudah dingin, jadi kami tidak perlu AC atau kipas angin. Walaupun bangunannya lama, tapi kamarnya cukup bersih lho. Dan alasan utama kami memilih hotel ini adalah viewnya. Ya, begitu pintu kamar dibuka, pemandangan yang kami lihat adalah pegunungan dan kebun sayur hijau. Jadi, walaupun kuno tak jadi soal bagi kami. Kami di sini 'kan mau berlibur, jadi saya rasa tempat ini sangat cocok untuk menikmati liburan 'yang sebenarnya', adem dan ayem.

Tiba di hotel jam 10.30, kami beristirahat sebentar dan memandikan Juno yang dari pagi belum mandi. Sekitar jam 11an kami keluar menuju obyek wisata Telaga Sarangan. Sekitar 10 menit kami tiba di lokasi Telaga Sarangan. Untuk masuk ke Telaga Sarangan, pengunjung harus membayar tiket masuk sehara Rp 7.500/orang dewasa dan parkir mobil 5 ribu. Saat kami tiba di sana pengunjung sangat ramai. Seperti biasa, saat berada di tempat baru dan banyak orang, Juno harus beradaptasi terlebih dahulu, dia tidak mau turun, maunya digendong. 


Dari tempat parkir menuju Telaga Sarangan
Sayur dan buah cocok juga sebagai oleh-oleh


Duduk di tepi danau
Dari tempat parkir pengunjung harus berjalan sekitar 200 meter menuju telaga. Sepanjang jalan adalah kios-kios penjual oleh-oleh dan suvenir, mulai dari handycraft, pakaian, makanan, hingga sayuran dan buah-buahan. Telaga Sarangan terletak di Kabupaten Magetan yang merupakan daerah penghasil sayuran dan buah-buahan, karena merupakan daerah pegunungan dengan suhu dingin, yang sangat cocok ditanami sayuran dan buah-buahan.

Kami langsung menuju telaga dan turun ke bawah. Di sana ada payung-payung dan alas duduk yang disediakan oleh pedagang makanan seperti sate dan bakso. Oiya di sini menu yang populer adalah sate kelinci, selain ada juga sate ayam. Kami duduk di tepi telaga dan memesan sate ayam. Rasa satenya agak berbeda dengan sate ayam Madura yang biasa saya jumpai di Jogja, yang ini bumbunya bumbu pecel, hehehe, mungkin karena Jawa Timur, khususnya Madiun terkenal dengan pecelnya 'kali yaaa.

Boat yang disewakan untuk mengelilingi danau
Sambil menikmati sate ayam, kami menikmati keindahan Telaga Sarangan dalam jarak dekat. Di sana pengunjung dapat mengelilingi danau dengan menyewa boat seharga 60 ribu/boat. Sayangnya Juno tidak mau diajak naik boat, jadi kami hanya duduk-duduk saja sambil melihat boat yang mengelilingi danau. Cukup banyak boat yang disewakan kepada pengunjung. Saya dan Papi Juno sebenarnya pengin juga naik boat mengelilingi danau, tapi berhubung Juno tidak mau ya terpaksa harus cukup puas dengan melihat dari jauh saja, hehehe.
Telaga Sarangan saat liburan baru kemarin

Telaga Sarangan yang berkabut
Boat-boat yang siap mengantar pengunjung berkeliling danau
Setelah puas duduk-duduk di tepi danau, kami melanjutkan untuk mengelilingi danau dengan berjalan kaki. Pengunjung juga bisa berkeliling dengan menaiki kuda yang disewakan dengan harga 60 ribu/putaran, namun lagi-lagi Juno menolak, jadi kami berkeliling dengan berjalan kaki. Kami mulai dari sisi pintu masuk, sambil sesekali melihat-lihat kaos atau suvenir yang dijual di sepanjang jalan. Di sepanjang jalan juga banyak sekali pedagang makanan dan minuman. Sayangnya di sisi dekat pintu masuk, tercium bau yang cukup menyengat dari (maaf) air kencing kuda yang 'pipis' sembarangan, jadi mengurangi kenyamanan pengunjung. Apalagi di sekitarnya banyak pedagang makanan. Duhhh... Masukan buat Pemda, semoga masalah 'pipis' kuda ini dapat ditertibkan, sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan Telaga Sarangan tanpa gangguan, termasuk menikmati makanan di sekitarnya. Awalnya Juno belum mau turun, namun lama-lama dia mulai nyaman dan mau jalan sendiri. Oiya di sekitar danau juga terdapat banyak hotel, saya sempat iseng menanyakan harganya saat liburan, rata-rata di atas 500 ribu/malam.



Menikmati gorengan panas sambil menikmati keindahan Telaga Sarangan
Sekitar 1.5 jam kami berjalan kaki mengelilingi Telaga Sarangan. Capek juga yah. Jelaslah, wong luas telaganya saja 30 hektare. Oiya, Telaga Sarangan juga dikenal sebagai Telaga Pasir, merupakan telaga alami yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Telaga_Sarangan). Kami berhenti untuk beristirahat sambil menikmati bakso kuah dan gorengan. Nikmat sekali, menikmati gorengan panas di tepi danau yang dingin ini. Sayangnya karena pas libur panjang, jadi pengunjungnya sangat padat. Overall, menurut saya Telaga Sarangan cukup recommended bagi penyuka tempat 'dingin' seperti saya.

Ternyata tak jauh dari Telaga Sarangan, masih berada satu lokasi, terdapat satu lagi obyek wisata alam, yaitu Air Terjun Tirta Sari. Sudah sampai di sini, sayang sekali kalau tidak sekalian ke sana, begitu pikir kami. Akhirnya kami beranjak, setelah beristirahat sekitar 1 jam, menuju Air Terjun Tirta Sari. Cerita akan saya lanjutkan di postingan saya selanjutnya.






Monday, 26 December 2016

Juno Mau Jadi Apa?

Saya jadi ingat salah satu lagu yang dinyanyikan boneka susan jaman saya kecil dulu. Begini lagunya: "Susan, Susan, Susan...besok gede mau jadi apa? Aku kepengin pinter, biar jadi dokter." Ketahuan banget ya saya lahirnya di era tahun berapa, hehehe. Kalau anak sekarang pasti ngga tau yang namanya boneka susan. Boneka Susan adalah boneka yang populer di akhir tahun 80an hingga awal 90an. Boneka kecil yang bawel dan pintar menyanyi, yang selalu dibawa pemiliknya kemana saja, yaitu Kak Ria Enes. By the way, apa kabarnya ya Kak Ria Enes dan boneka Susan sekarang ya?

Dulu waktu masih kecil, pertanyaan yang sering ditanyakan kepada Susan tersebut juga sering ditanyakan kepada saya, dan pasti juga kepada anak-anak lainnya. Kalau sudah besar nanti kamu pengin jadi apa? Begitu kira-kira pertanyaan dari orang tua atau orang dewasa lainnya kepada kami yang saat itu masih kecil. Biasanya sih kalau kalau ditanya begitu, saya (dan anak-anak lain) pasti akan menjawab profesi-profesi yang populer, seperti dokter, guru, insinyur, ABRI (sekarang TNI), pilot dan lain-lain, pokoknya profesi-profesi idaman anak kecil waktu dulu lah. Lalu waktu itu jawaban saya apa ya? Sudah jelas, dokter lah, hehehe. Siapa sih yang nggak ingin jadi dokter? Pekerjaan yang menurut saya, dan pasti juga menurut anak-anak lain waktu itu, keren banget pakai baju putih, bisa ngobatin orang sakit dan identik dengan kecerdasan, mungkin begitu kira-kira alasan kami waktu itu ketika ditanya alasan ingin menjadi dokter.

Waktu berlalu. Tapi saya masih ingat betul pertanyaan dan jawaban saya waktu itu. Dan sekarang, apakah saya beneran menjadi seorang dokter? Ternyata tidak. Jalan hidup membawa saya hingga akhirnya saya menjadi seorang PNS, profesi yang tidak pernah saya bayangkan sewaktu kecil dulu. I'm happy being I'm now. Bukankah setiap orang punya garis hidup masing-masing, dan Tuhan menggariskan saya untuk mengabdi kepada negeri ini melalui jalan sebagai seorang PNS. Eaaaaa...lebay banget deh saya. Tapi serius lho ini, walaupun impian saya waktu kecil menjadi seorang dokter tidak dapat tercapai, it's ok. Semua profesi itu baik, tergantung bagaimana kita menjalankannnya saja, betul begitu kan?

Kembali ke pertanyaan di lagu Susan tadi. Apakah saya juga menanyakannya kepada Juno? Ya, tentu saja. Beberapa kali saya menanyakan kepada Juno. Tapi pertanyaannya agak sedikit saya ubah. "Juno mau jadi dokter?" begitu pertanyaan saya. Kok jadi terkesan mengintimidasi ya, hehehe. Bukan Juno namanya kalau dia setuju dengan pertanyaan saya. Begini kata Juno "Nggak, Juno nggak mau jadi dokter." "Lalu mau jadi apa Juno?", tanya saya lagi. "Juno mau jadi sopir pesawat helikopter". Sayapun terkekeh. 

Ya, anak sekarang beda dengan anak jaman dulu. Anak sekarang makin cerdas dan mempunyai pilihan sendiri. Juno baru berusia 3 tahun 4 bulan, dari hal-hal kecil seperti baju, sepatu atau topi yang akan dipakai saja, dia sudah bisa memilih mana yang dia sukai. Dan hal itu kadang bikin saya senewen, karena baju dan sepatu yang saya beli untuk dia seringkali dia tidak mau memakainya. Jadi ketika saya tanya 'Juno mau jadi apa?', walaupun dia belum paham betul, namun dia sadar kalau dia punya pilihan.

Apalagi jaman sekarang, profesi nggak hanya banyak, tapi buanyak banget, mau yang di social field atau science field, banyak banget pilihannya, banyak yang unik dan keren, yang jaman saya kecil dulu belum ada. Dan adanya pergeseran nilai, juga mempengaruhi perkembangan berbagai profesi, misalnya saja chef, dulu jarang banget kan anak muda mau serius sekolah culinary untuk menjadi chef profesional. Tapi begitu sekarang muncul banyak celebrity chef seperti Farah Quinn atau Chef Juna, profesi ini menjadi populer dan banyak diminati. Dan bahkan di hotel berbintang atau resto ternama, seorang professional chef bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Saya jadi teringat, beberapa hari lalu saya berdiskusi dengan seorang pejabat di Jogja, sebut saja Bapak S. Beliau memiliki 1 putra dan 1 putri, putranya saat ini sekolah pilot di Filipina dan yang putri sedang sekolah professional chef di Singapura. Dan tahun depan putranya akan menyelesaikan pendidikannya. Beliau membebaskan putra-putrinya untuk melanjutkan pendidikan sesuai minatnya, dan apapun pilihan putra-putrinya, beliau akan memberikan dukungan sepenuhnya, asalkan si anak berkomitmen. Lain lagi dengan Bapak P yang saya kenal di sebuah seminar. Beliau juga seorang pejabat di Jogja, pernah bercerita kepada saya bahwa dari ketiga anaknya, tidak ada yang mengikuti jejaknya sebagai birokrat, dan salah satu putrinya saat ini berprofesi sebagai seorang professional MUA (Make up Artist). Dan beliau senang sekali dengan profesi putrinya tersebut. Komentar saya hanya satu, woww. Sangat menginspirasi.

Tentu saja kami, saya dan papinya, seperti halnya orang tua yang lain, memiliki harapan terhadap anaknya, pendidikan yang bagus, dan kelak mempunyai pekerjaan yang bagus, begitu kira-kira. Namun, bukan berarti apa yang tidak bisa kita raih dulu lalu dipaksakan kepada anak, dan anak yang harus mencapainya. Sempat juga saya punya pikiran seperti itu, pokoknya nanti Juno harus sekolah di sini, lalu di sini, terus di sana. Hehehe, emang mudah? Minat dan kemampuan anak 'kan belum tentu sesuai dengan harapan orang tua. Tapi banyak juga kok saya lihat anak-anak yang bisa 'sepemikiran' dengan orang tuanya, artinya keinginan si anak bisa sama dengan keinginan orang tuanya. Hemm, piye carane ben iso ngono? hehehe... Kayaknya kami, saya dan papi Juno harus banyak belajar lagi. Membuka mata selebar-lebarnya dan membuka pikiran seluas-luasnya. Yang jelas anak sekarang beda banget dengan jaman saya dulu. Mereka punya banyak pilihan, tidak hanya banyak, tapi buanyak banget.

Saat menulis ini, Juno sedang tertidur di samping saya. Sambil memandangi wajahnya yang tertidur pulas, saya bilang ke Papi Juno, 'Juno kok udah gede banget sih Pi, cepet banget'. Don't grow up too fast, son. Jangan tumbuh terlalu cepat, Nak, supaya kami punya cukup waktu untuk belajar menjadi orang tua yang terbaik untukmu. 




Gumuk Pasir Barchan. Pantai Cemara Sewu dan Kuliner Bahari Pantai Depok

Libur 'tlah tiba...libur 'tlah tiba, hore hore hore...begitu kira-kira lagu yang paling sering dinyanyikan oleh hampir semua orang saat ini, nggak cuma oleh anak-anak sekolah,tapi juga mahasiswa dan karyawan. Ya, musim liburan sudah datang, liburan sekolah, long weekend, dan musim cuti juga nih kayaknya bagi yang sudah pada kerja. Apakah saya cuti juga? Saya sendiri kali ini nggak ambil cuti, karena memang tidak ada rencana mau ke luar kota, dan tidak ada yang mendesak juga. Lain kali aja cutinya dipakai kalau ada hal yang penting banget, begitu juga Papi Juno, kali ini tidak ambil cuti.
Sejak hari Sabtu Juno minta jalan-jalan ke pantai, akhirnya hari Minggu kemarin kami memutuskan untuk mengajak Juno ke pantai, yang masih berada di seputaran Jogja saja. Tujuan pertama kami adalah Gumuk Pasir Barchan yang berada di wilayah pantai Depok. Sudah lama sebetulnya saya ingin ke sana, namun waktunya saja yang belum ada. Tak lupa saya mengajak Ibu juga. Jam 09.00 pagi kami berangkat, langsung menuju ke Pantai Depok, jalan Parangtritis ke selatan terus, sebelum pintu masuk Pantai Parangtritis, belok kanan arah ke Pantai Depok. Sudah lama sekali saya tidak ke Pantai Depok. Terakhir kesini tahun 2009, saat merayakan ulang tahun saya bersama teman-teman kantor saya sebelumnya, Infiniti, aihhh saya jadi kangen mereka semua.

Gumuk Pasir Barchan

mau foto di sini silahkan
Tiba di pintu masuk obyek wisata Pantai Depok sekitar jam 10.00. Untuk masuk ke Pantai Depok, pengunjung dikenai tiket masuk 5 ribu/orang. Sebenarnya kami ingin mengunjungi Museum Gumuk Pasir atau Laboratorium Geospasial pesisir Pantai Parangtritis, yang lokasinya tidak jauh dari pintu masuk obyek wisata Pantai Depok, namun sampai di sana kok sepi banget ya. Setelah saya cek di websitenya ternyata museum buka hari Senin s/d Sabtu, jadi Minggu tutup...pantesan sepi.

Untuk menuju lokasi Gumuk Pasir, dari pintu masuk obyek wisata Pantai Depok terus saja hingga pertigaan, belok kiri, ikuti saja jalan itu kira-kira 1 km, kiri jalan akan terlihat papan bertuliskan "Gumuk Pasir Barchan". Saat kami tiba di sana, pengunjung belum begitu ramai. Walaupun cukup panas, tapi di sana anginnya sejuk. Jadi kalau ke sana jangan lupa bawa topi atau payung, dan sunblock, supaya kulit tidak terbakar matahari. Alternatifnya untuk menghindari panas, datang ke sana pagi banget, jam 5 atau 6 pagi gitu atau sore hari sekalian, sekalian menikmati sunset. Kalau dari Pantai Parangtritis atau Pantai Depok, pengunjung bisa menyewa andong (kereta kuda) untuk menuju ke lokasi Gumuk Pasir Barchan. Oiya, di Gumuk Pasir Barchan pengunjung tidak dikenai tiket masuk, cukup membayar parkir saja, mobil 10 ribu, motor 2 ribu (kalau tidak salah).

Gumuk Pasir Barchan merupakan salah satu tempat yang cukup populer di Jogja untuk hunting foto,lokasi shooting dan foto pre wedding. Kemarin selama kami di sana sudah ada 2 pasangan yang melakukan foto pre wedding. Selain foto-foto dan selfie, pengunjung yang hobi melakukan aktivitas yang memacu adrenalin bisa juga menyewa papan sandboarding untuk meluncur di atas pasir. Tapi kemarin waktu kami di sana, hanya beberapa pengunjung saja yang mencoba sandboarding. Untuk menyewa papan sandboarding, pengunjung dikenai biaya 70 ribu/papan dengan didampingi oleh seorang pemandu.


helooo om & tante, kata Juno
Gumuk pasir ini merupakan salah satu dari beberapa gumuk pasir yang ada di Asia Tenggara, terkenal dengan sebutan gumuk pasir Parangkusumo, sedangkan Barchan adalah jenis gumuk pasirnya. Gumuk pasir merupakan salah satu bentang alam yang proses pembentukannya dipengaruhi oleh angin, merupakan tumbukan pasir dalam jumlah besar.(sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/10/24/150800327/gumuk.pasir.barchan.dan.parangkusumo.apa.bedanya.


Buat foto pre wedding oke juga lohh
Setelah puas berkeliling dan foto-foto, kami istirahat sejenak di bangku kayu yang ada di sebelah timur tempat tersebut sambil menikmati minuman yang saya beli pada seorang Ibu yang berjualan di sana. Sayangnya di Gumuk Pasir Barchan belum ada toilet bersihnya, hanya ada toilet sederhana dengan dinding kayu/triplek.
Keluar dari lokasi Gumuk Pasir Barchan, tujuan selanjutnya adalah pantai yang letaknya sangat dekat dengan Gumuk Pasir Barchan, yaitu Pantai Cemara Sewu, hanya sekitar 300 meter dari gumuk pasir.

Pantai Cemara Sewu

Pantai ini lokasinya sangat dekat dengan lokasi gumuk pasir. Dari namanya saja sudah ketahuan, pasti di sana banyak pohon cemara. Ya benar sekali, mirip dengan Pantai Kwaru atau Pantai Goa Cemara yang masih sederetan dengan Pantai Parangtritis dan Pantai Depok. Untuk masuk ke lokasi Pantai Cemara Sewu, pengunjung tidak dikenai tiket masuk, cukup membayar parkir, untuk mobil 10 ribu, motor 2 ribu.

Di pantai ini banyak sekali pohon cemara udang, ribuan mungkin jumlahnya, sehingga pantai ini dinamakan Pantai Cemara Sewu. Sampai di sana, sekitar jam 11an pengunjung lumayan ramai. Namun karena ombaknya yang cukup besar, pengunjung dilarang untuk turun ke air, apalagi mandi. Selain foto-foto, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan dengan duduk-duduk di bawah pohon cemara yang sejuk atau naik ke 'menara bambu' yang ada di sana. 

Kami pun menaiki menara ini dan beristirahat di atasnya sambil menikmati pemandangan dari atas. Menurut saya pantai ini cukup bersih dari sampah, mungkin karena masih tergolong baru, jadi pengunjungnya juga belum begitu ramai sekali. Lagi-lagi kami melihat pasangan yang sedang melakukan foto pre wedding di tempat ini, hehehe.



sudah dilarang  masih pada turun ke air juga





Juno di atas menara bambu

Kuliner Bahari Pantai Depok

Puas melihat pemandangan pantai, kami menuju tempat tujuan yang terakhir, yaitu kuliner di Pantai Depok, yang sangat dekat dengan lokasi Pantai Cemara Sewu. Sekitar jam 12.30 kami tiba di lokasi kuliner Pantai Depok, pengunjung sangat ramai. Beberapa tahun saya tidak ke sini ternyata perkembangan wisata kuliner di sini sangat pesat. Seingat saya dulu warung makan tidak sebanyak ini, sekarang tidak hanya banyak, tapi buanyakkk banget, puluhan atau mungkin ratusan lah kira-kira.

sumber: visitingjogja.com
Memang kami ke sini sengaja hanya untuk makan siang saja, jadi tidak turun ke pantainya. Dari pagi saya dan Papi Juno memang sengaja tidak sarapan karena memang sudah berencana makan di sini, hehehe. Setelah berkeliling, akhirnya kami memilih sebuah warung makan yang terletak di tengah-tengah,namanya Warung Bu Darjo. Kami memesan 1 porsi kerang hijau, 1 porsi udang goreng tepung dan ca kangkung, plus nasi dan minum. Sebenarnya saya ingin sekali makan ikan cakalang bakar, namun kata penjualnya, ikan cakalang nya, baru agak sulit, kalaupun ada harganya mahal. Sekitar 30 menit kami menunggu pesanan kami datang. Taraaa...pesanan kami datang. Dan setelah dicoba ternyata masakannya enak juga. Selesai makan, saya membayar pesanan kami dan totalnya 126 ribu, kira-kira harga segitu mahal, murah atau pas? Menurut saya sih agak kemahalan ya, karena di nota tertera nasi dan lalapan dihitung 30 ribu, tapi nggak papa lah, sesekali ini. 

menu ini 126 ribu, mahal atau murah?
Sekitar 1 jam kami di sana sekalian istirahat, dan saatnya untuk pulang, karena Juno sudah keliatan capek. Oiya tiket parkir di Pantai Depok 7 ribu untuk mobil dan 2 ribu untuk motor. Tepat jam 13.30 kami keluar dari obyek wisata Pantai Depok menuju pulang. Juno hepi sekali hari ini karena kami sudah mengajaknya ke pantai, sepanjang jalan dia bernyanyi. Mau tau lagu favorit Juno apa? Karena saya sering mendengarkan dan menyanyikan One Call Away nya Charlie Puth, maka lagu inipun saat jadi lagu kesukaan Juno, bahkan dia menyebutnya 'lagu Juno'. I'm only one call away, I'll be there to save the day...Superman got nothing on me, I'm only one call away...

Happy holiday.






Tuesday, 20 December 2016

Gembira Loka Zoo Jogja,Tempat 'Momong' Andalan

Saya masih ingat pertama kali berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka atau yang sekarang dikenal sebagai Gembira Loka Zoo (GL Zoo), adalah ketika saya duduk di kelas 6 SD, dan itu merupakan kali pertama dan terakhir saya berkunjung ke GL Zoo di saat saya masih 'single' atau belum berkeluarga. Entah mengapa bagi saya yang saat itu masih anak-anak, kebun binatang bukanlah tempat yang menarik, cuma gitu-gitu aja, nonton binatang, syukur-syukur pas lagi ada tontonan panggung hiburan anak-anak, dangdut atau apa gitu,kalau udah muter ya udah terus pulang. Itu jaman kecil saya dulu. Bagaimana dengan GL Zoo yang sekarang? Tentu saja beda dong dengan jaman saya dulu.


Setelah terakhir ke sana waktu kelas 6 SD, setelahnya selama bertahun-tahun saya tidak 'menengok' GL Zoo, hingga akhirnya setelah berkeluarga dan ada Juno, kami, saya dan papi Juno mengajak Juno jalan-jalan ke GL Zoo. Pertama kali kami mengajak Juno ke GL Zoo adalah ketika Juno berusia 1.5 tahun. Ketika itu Juno kami ajak berkeliling dengan dinaikkan stroller atau kereta dorong, supaya kami tidak capek menggendong kalau tiba-tiba dia minta digendong. Saat itu sepertinya Juno belum begitu tertarik dengan binatang-binatang yang ada di sana. 


Kapal untuk mengelilingi danau
Saat Juno berusia 2 tahun, kami mengajaknya ke sana lagi. Sayang sekali,ketika sedang berkeliling hujan turun, sehingga acara berantakan, belum semuanya dilihat,Juno sudah minta pulang karena hujan tidak juga reda. 

Setelah Juno berusia 3 tahun, kami memutuskan untuk mengajak Juno ke GL Zoo lagi. Kebetulan kuliah semester ini sudah selesai, jadi saya punya cukup waktu luang untuk mengajak Juno jalan-jalan. Dan Juno pun sangat excited ketika beberapa hari sebelumnya kami bilang akan mengajaknya jalan-jalan ke kebun binatang. Sebenarnya bukan tanpa alasan Juno begitu bersemangat untuk kami ajak ke kebun binatang. Sudah beberapa minggu ini Juno suka sekali menonton video di Youtube, anak kecil asal Singapore, seusia Juno, yang di salah satu episodenya dia sedang jalan-jalan di kebun binatang. Dan hampir setiap hari Juno minta nonton video tersebut. Menurut saya video yang ini lebih edukatif daripada video Ryan's Toys Review yang isinya cuma anak kecil dengan segudang mainan, hehehe.

Orang Utan 
Hari Sabtu kemarin (17/12), kami bertiga mengunjungi GL Zoo untuk yang ketiga kalinya. Harga tiket masuk 30 ribu/orang. Melewati pintu masuk, Juno sudah hepi sekali. Tandanya jika dia suka dengan suatu tempat adalah dia mau jalan sendiri, tidak minta digendong. Biasanya ketika dia merasa tidak nyaman atau tidak suka dengan suatu tempat, dia akan minta digendong. Sipp, berarti kali ini he's in a good mood. Dia sangat excited melewati sungai dan jembatan. Yup, Juno selalu tertarik dengan sungai dan jembatan, everywhere, termasuk sungai dan jembatan yang ada di GL Zoo. Begitu juga ketika melihat danau dan kapal atau boat yang ada di sana, bibir mungilnya tak henti-hentinya bertanya 'mami,itu apa?' atau 'papi itu buat apa'.

Binatang yang pertama kali kami lihat adalah gajah. Tampaknya Juno kurang tertarik dengan binatang besar tersebut, dia melewatinya, begitu pula dengan orang utan atau simpanse. Sudah bisa ditebak, binatang apa yang paling membuatnya tertarik.Ya, ikan. He loves fishes very much. Cukup lama kami berada di aquarium untuk melihat ikan-ikan di sana. Koleksi ikannya lengkap sekali, dari ikan kecil hingga ikan yang sangat besar ada di sana.Setelah cukup puas melihat ikan, Juno mengajak melihat reptil, yaitu buaya dan segala macam reptil, seperti berbagai jenis katak, dan ular. Hemmm, saya paling males ke bagian ini sebetulnya, tapi Juno pengin sekali melihat ular, berkali-kali dia bilang 'ayo lihat ular, mami'. Cukup lama kami berada di kandang ular,karena Juno sangat tertarik, hadehhh...padahal emaknya males banget lihat ular. 


Pengunjung dapat berfoto dengan ular
Setelah puas melihat ular, selanjutnya kami melihat burung-burung berukuran
sedang semacam elang. Setelah itu kami melanjutnya perjalanan melihat binatang-binatang mamalia seperti kijang, rusa, dan onta. Beberapa kali kami menawarinya untuk naik kereta, namun dia menolak. Padahal emaknya sudah berharap, gempor bo'. Setelah itu kami turun melewati kandang monyet, dan tiba di panggung atraksi hewan. Sampai di sana atraksi pada bagian terakhir yaitu orang utan. Namun karena kata petugasnya, orang utan merupakan hewan yang dilindungi tingkat I, maka si orang utan yang diberi nama Desi itu tidak diminta untuk beratraksi, cuma ditunjukkan ke pengunjung saja, supaya pengunjung peduli pada konservasi orang utan. 
Selesai atraksi kami memutuskan untuk tinggal dan menunggu atraksi sesi berikutnya. Oiya atraksi hewan main setiap 1 jam. Setelah menunggu sekitar 30 menit, sambil istirahat dan nyuapin Juno,kami menonton atraksi sesi berikutnya di tempat yang telah disediakan. Supaya lebih jelas, kami memilih tempat duduk yang berada tepat di depan panggung. Pertunjukan selama kurang lebih 30 menit tersebut menampilkan marmut, lingsang dan beruang madu yang menunjukkan keterampilannya, tentu saja bersama pelatihnya masing-masing. Lucu dan sangat menghibur. Oiya untuk menonton atraksi hewan pengunjung tidak dikenakan tiket, cukup memberikan tip seikhlasnya di kotak tip. Setelah atraksi pengunjung juga dapat berfoto dengan Si Desi.
Panggung atraksi aneka satwa

Setelah menonton atraksi, rencananya kami mau pulang. Namun ternyata Juno minta naik kapal, oke akhirnya kami naik kapal. Tiket naik kapal 10 ribu/orang, untuk 1 kali putaran mengelilingi danau. Setelah naik kapal, ternyata Juno belum mau pulang, malah minta lihat ular dan ikan lagi. Hadehhh...Akhirnya kamipun kembali ke tempat aquarium untuk melihat ikan lagi. Sekitar 1 jam kami berada di aquarium, karena Juno tidak juga mau beranjak. Juno senang sekali berada di aquarium. Setelah melihat ikan untuk yang kedua kalinya, Juno mengajak masuk melihat ular (lagi). Sekitar 1 jam kami berada di wahana reptil untuk yang kedua kalinya.


Pengunjung dapat berfoto dengan Orang Utan
Wait wait, ternyata tadi waktu berkeliling yang pertama, ada yang terlewat, yaitu kandang harimau dan bird park. Akhirnya kami melihat harimau dan dilanjutkan masuk ke bird park. Koleksi burungnya cukup lengkap lho, dari yang kecil hingga yang besar. Setelah puas belihat koleksi burung, kami melanjutnya perjalanan dan melewati taman dan beberapa kandang termasuk si Jack pinguin, burung onta dan menyeberangi danau dengan menaiki 'getek'. Untuk menaiki 'getek', pengunjung dikenakan tiket, tapi cukup memberi tip seikhlasnya.


Naik kapal mengelilingi danau
Keluar dari getek, hujan mulai rintik-rintik dan setelah jembatan hujan semakin deras. Setelah sempat berteduh sekitar 15 menit, karena tidak membawa payung, kamipun menyewa payung GL Zoo yang dibawa oleh seorang petugas. Hujan sangat deras, Alhamdulilah...kami sudah selesai berkeliling, bahkan sampai 2 kali. 




Gempor donggg...Iyalah pasti, tapi puas banget rasanya bisa menemani Juno kali ini berkeliling di GL Zoo, bahkan sampai 2 kali. Menurut saya pribadi, GL Zoo yang sekarang beda banget dengan GL Zoo jaman saya dulu. Selain koleksinya lebih lengkap, bahkan sekarang ada penguin dan onta juga, lebih bersih dan tertata, petugas dan pelatihnya pun lebih profesional. Namun sepertinya ada hewan yang tidak ada ya, yaitu singa dan kudanil. Atau saya yang terlewat? Yang jelas GL Zoo masih jadi andalan para orang tua sebagai tempat 'momong' yang edukatif di Jogja. Monggo, terutama yang dari luar Jogja, kalau pas lagi di Jogja, sempatkanlah untuk jalan-jalan di GL Zoo.