expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Monday, 19 December 2016

Jalan-Jalan Seru ke Tebing Breksi dan Candi Ijo

Beberapa kali saat sedang mengamati newsfeed facebook, saya melihat foto-foto pemandangan yang 'tidak biasa', berupa deretan tebing batu yang tinggi menjulang. Sayapun penasaran dan mencoba mencari tau dengan googling. Hemmm...ini tho yang namanya Tebing Breksi, obyek wisata yang lagi ngehits itu, patut dikunjungi nih pikir saya. Hari Minggu kemarin sebenarnya saya tidak berniat untuk ke sana, mengingat rutenya yang cukup ekstrim, kalau saya baca-baca di artikel online. Ditambah kemarin Papi Juno tidak bisa ikut karena ada kerjaan, jadi harus berfikir ulang jika tetap 'nekat' berangkat ke sana dengan mengendarai mobil sendiri. 


Sunmor Stadion Sultan Agung
Hari Minggu pagi jam 08.30 Saya berangkat bertiga dengan Ibu dan Juno, tapi niatnya bukan untuk ke Tebing Breksi. Kami menuju pasar Sunday Morning (sunmor) Stadion Sultan Agung Bantul. Kebetulan teman saya Novi, setiap hari Minggu pagi buka booth baju anak-anak di sana. Dan sudah berkali-kali Novi mengundang saya untuk datang ke booth nya di Sunmor Stadion Sultan Agung, namun karena kesibukan, saya belum juga sempat ke sana (sok sibuk banget ya saya ini,hehehe). 

Jam 10.00 kami keluar dari sunmor. Rencana selanjutnya adalah ke pantai atau ke gumuk pasir di sekitar pantai depok. Namun entah mengapa, sepanjang jalan arah ke pantai, pikiran saya bukannya ke pantai, namun saya penasaran banget pengen ke Tebing Breksi, tapi saya kuatir dengan rutenya yang ekstrim itu. Sampai di perempatan Manding, saya bertanya kepada Ibu saya,"Bu, kalau ke Breksi gimana?Tapi jalannya naik". Begini kata Ibu saya, "Kalau jalannya naik banget,ya nggak usah lah, ngeri". Saya yang emang penasaran banget mencoba 'berdiplomasi'."Pelan-pelan aja Bu,nanti kita lihat sikon, kalau jalannya serem banget, ya udah nggak usah dilanjutin. Apalagi Breksi deket dengan Candi Ijo lho Bu, kita bisa sekalian ke sana." 

Uji Nyali Part #1
Yesss,Ibu termakan omongan saya, beliau setuju, dari perempatan Manding, kamipun belok kiri ke arah Jalan Imogiri Barat, Imogiri Timur, Piyungan dan nembus ke Jalan Wonosari. Juno mulai mengantuk dan tertidur di pelukan neneknya. Dari Jalan Wonosari belok ke arah utara menuju Jalan Raya Piyungan-Prambanan. Begitu ada petunjuk jalan arah ke Tebing Breksi dan Candi Ijo, kami belok ke kanan (ke timur). Menurut petunjuk jalan, Tebing Breksi sekitar 2.5 km lagi, dan 3 km kalau mau ke Candi Ijo. Jadi tepatnya, kalau dari selatan, sebelum pondok pesantren modern MBS, masuk ke timur sekitar 2.5 km, di pinggir jalan ada petunjuknya, ikuti saja jalan tersebut.

Jalan mulai menanjak, tangan dan kaki saya mulai gemeteran. Jujur,sebagai seorang perempuan,ini adalah rute paling ekstrim yang pernah saya lalui dengan nyetir sendiri, biasanya sih kalau rutenya yang beginian, itu bagiannya Papi Juno, saya tinggal duduk manis saja. Semakin mendekati obyek, jalan semakin menanjak, dan beberapa bagian terdapat lubang. Berpapasan dengan kendaraan besar seperti bis atau truk semakin mengendurkan nyali saya, tangan dan kaki semakin gemeteran, namun saya berusaha tetap tenang supaya Ibu saya tidak takut. Namun sepertinya wajah saya yang pucat pasi tidak bisa berbohong. Sepanjang jalan Ibu saya berdoa. Alhamdulilah,setelah sekitar 15 menit menjalani 'uji nyali', sampailah kami di Tebing Breksi. Yeeiiii...

Tebing Breksi
amphitheater
Tiba di parkiran sekitar jam 12.00,kaki dan tangan saya masih gemeteran, jadi saya memilih untuk menenangkan diri lebih dulu di dalam mobil, sambil menunggu Juno terbangun. Oiya untuk masuk ke lokasi Tebing Breksi, dikenakan biaya parkir 5 ribu untuk mobil dan 2 ribu untuk sepeda motor. Dan untuk tiketnya, pengunjung dapat memberikan seikhlasnya. Kemarin waktu ke sana di lapangan parkir sedang ada perkemahan anak SMK. Dan pengunjung yang datang di Tebing Breksi cukup ramai. Sekali lagi, matahari sedang lucu-lucunya, panas luar biasa, untung saja kami membawa topi dan payung. Jadi teman-teman kalau mau ke sana, jangan lupa siapkan topi dan payung ya.




Begitu bangun, Juno sangat excited melihat tempat tersebut. Mungkin dalam pikirannya, tempat apa ini, tinggi dan besar. Pemandangan yang ada di Tebing Breksi adalah deretan tebing batu breksi yang tinggi menjulang. Awalnya merupakan bukit batu biasa, namun menjelma menjadi dinding tebing yang berlapis-lapis, karena aktivitas penambangan bahan material bangunan oleh warga sekitar, selama puluhan tahun. 

Menurut peneliti, Tebing Breksi atau juga dikenal sebagai Tlatar Seneng ini terbentuk jutaan tahun lalu, batuan kapur breksi merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunung Kidul, sehingga tempat ini merupakan salah satu cagar budaya yang harus dilestarikan. Untuk itu aktivitas penambangan bahan bangunan dihentikan, dan warga mulai menjadikannya sebagai obyek wisata yang unik dan artistik dengan membuat pahatan-pahatan indah di dindingnya. Saat ini Tebing Breksi merupakan salah satu obyek wisata di Jogja yang sangat hits, istilahnya instagramable, sehingga menjadi tempat pilihan untuk hunting foto atau foto pre wedding. (Sumber:http://piknikasik.com/panorama-tebing-breksi-jogja-keindahan-jogja-dari-atas-bekas-tambang)

Juno girang sekali melihat ada kandang burung dan banyak burung merpati di lapangan parkir. Hap hap hap...Juno jalan sendiri, tidak minta digendong. Alhamdulilah, berarti he's in a good mood and he likes this place. Tandanya dia menyukai suatu tempat adalah dia mau jalan sendiri, tidak minta digendong. Kalau dia tidak menyukai atau merasa tidak nyaman dengan tempat tersebut, biasanya dia tidak mau turun atau minta digendong. Pertama kali kami menuju aphitheater yang berada di samping lapangan parkir. Amphitheater merupakan suatu lahan luas, dengan tempat duduk kayu melingkar, cocok sekali sebagai lokasi penyelenggaraan event semacam konser musik gitu.

Setelah foto-foto di amphitheater, kami melanjutnya menuju ke bagian utamanya, yaitu tebing batu breksi yang tinggi menjulang. Untuk menuju ke puncak tebing, pengunjung harus melalui tangga batu. Dan di sepanjang tangga pengunjung dapat berfoto dengan burung hantu. Di sisi tangga terlihat dinding tebing yang dipahat gambar wayang. Tangganya cukup tinggi lho, jadi kalau capek, boleh kok duduk dulu di anak tangga, asal tidak mengganggu pengunjung lain yang mau naik. Juno dengan semangat naik sendiri hingga ke puncak. Good job, son.




Akhirnya kami tiba di puncak tebing. Puncak tebing merupakan lahan kosong dengan beberapa pohon tumbuh di atasnya. Panas? Pastinya. Selain bisa selfie-selfie, pengunjung bisa melihat pemandangan dari atas. Indah sekali. Sayangnya ya itu, panas dan tidak cukup tersedia tempat duduk di sana. Sepertinya waktu yang paling cocok untuk ke sana adalah sore hari, menjelang sunset, pada saat cuaca cerah, jadi pengunjung dapat menikmati sunset dari puncak tebing. Atau bisa juga pagi-pagi sekalian menjelang matahari terbit atau sunrise.



Setelah puas foto-foto dan menikmati pemandangan dari atas tebing, kami turun dan menuju foodcourt yang berada pada sisi timur untuk membeli minuman dan beristirahat sejenak. Naik ke puncak tebing cukup membuat kami ngos-ngosan. Oiya di lokasi Tebing Breksi juga ada mushola bagi yang mau menunaikan ibadah sholat. Setelah beristirahat sekitar 30 menit, kami turun ke lapangan parkir. Tujuan selanjutnya adalah Candi Ijo yang berada sekitar 500 meter ke timur dari Tebing Breksi. Sayang kan sudah sampai sini, masa nggak mampir, begitu kira-kira pikir saya.

Uji Nyali Part#2
Dari parkiran kami belok kiri menuju Candi Ijo. Uji nyali tahap kedua pikir saya. Jalannya menanjak dan rusak cukup parah, banyak sekali lubang. Saya sempat mau mengurungkan niat ketika melihat beberapa kendaraan putar balik, namun rasa penasaran saya lebih besar dari ketakutan saya. Bismillah, dengan tekad bulat saya melanjutkan perjalanan ke Candi Ijo. Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali...begitu Juno bernyanyi. Nggak tau dia kalau sepanjang jalan emaknya gemeteran dan pucat pasi. Alhamduliah, setelah melalui uji nyali tahap 2, akhirnya sampai juga kami di kawasan Candi Ijo. Setelah memarkir kendaraan, kami masuk ke komplek Candi. Sama seperti di Tebing Breksi, parkir mobil 5 ribu dan motor 2 ribu, dan untuk tiket masuk 5 ribu/orang.

Candi Ijo
Candi Ijo merupakan salah satu candi bercorak Hindu yang belum banyak terekspos, merupakan candi yang letaknya paling tinggi di Jogja, yaitu 375 meter di atas permukaan laut.  Disebut Candi Ijo karena candi yang dibangun sekitar abad ke-9 itu dibangun di sebuah bukit yang dikenal sebagai Bukit Hijau atau Gumuk Ijo. (Sumber: http://www.tribunnews.com/travel/2015/05/19/menikmati-panorama-dan-misteri-candi-ijo-candi-tertinggi-di-yogyakarta.
Pada teras atas terdapat 1 candi utama dan 3 buah candi dengan ukuran yang lebih kecil. Selain berfoto, di sini pengunjung dapat menikmati semilir angin yang sepoi-sepoi, dan lokasinya yang cukup luas, membuat anak-anak kecil betah berlama-lama bermain di sana, termasuk Juno yang hampir tidak mau diajak pulang karena masih asyik bermain di sana, hadeh...


Setelah capek berkeliling, kami beristirahat dengan duduk di bawah pohon talok di sebelah timur candi. Semilir angin bikin saya ngantuk, hehehe. Sekitar jam 15.00 kami memutuskan untuk keluar dari komplek candi, namun sebelum pulang kami menikmati es dawet dulu di depan lokasi candi. Segarrrr...

Setelah menikmati es dawet kamipun turun arah pulang,sebenarnya saya masih ingin ke Candi Boko, karena tempatnya yang tidak begitu jauh,lagipula saya belum pernah ke sana. Namun kami sudah terlalu capek, jadi ke Candi Bokonya lain kali saja. Meskipun demikian hari Minggu ini rasanya puas banget, bisa ngajak jalan-jalan Ibu dan Juno, walaupun kali ini Papi Juno tidak bisa ikut, dan puas banget bisa melewati 2 kali 'uji nyali' rute ekstrim menuju Tebing Breksi dan Candi Ijo. Alhamdulilah tiba kembali di Bantul dengan selamat. 


Dan endingnya, tak lupa saya kirim foto-foto kami di Tebing Breksi dan Candi Ijo kepada Papi Juno, and he surprised because I didn't tell him before that we got there. Maaf pi, kali ini kami jalan-jalan sendiri tanpa kamu, dan tanpa ngasih tau dulu,jadi silahkan lihat foto-fotonya aja yah, hehehe. 
Happy working days.










Monday, 12 December 2016

Taman Kyai Langgeng, Rumah Kamera, dan Kuliner Populer di Magelang

Yeiii akhirnya ketemu long weekend juga. Sesuatu yang ditunggu-ditunggu semua orang, termasuk saya. Ketemu long weekend itu rasanya udah kayak abege ketemu pacar aja, hehehe. Liburan kali ini kami memutuskan untuk jalan-jalan ke tempat yang tidak begitu jauh dari Jogja, supaya cukup sehari saja, nggak perlu nginep, yaitu ke Magelang. Dan sejak beberapa minggu lalu saya sudah googling tempat-tempat di Magelang yang 'wajib' di kunjungi.

Karena hari Sabtu papi Juno masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan,kami memutuskan untuk ke Magelang pada hari Minggunya. Jam 08.00 pagi kami berangkat dari Bantul, dan sengaja kami tidak sarapan terlebih dahulu, karena memang rencananya pengen cari sarapan di sepanjang jalan Jogja-Magelang. Selepas ringroad utara, jalan mulai padat merayap, maklum namanya juga long weekend, orang pada liburan, jalanan jadi macet. Jogja-Muntilan yang harusnya bisa ditempuh 1 jam, jadi molor 2 jam, dan perutpun udah mulai keroncongan. 

Sop Empal Bu Haryoko, Jl. Veteran No.9 Muntilan
Sampai di Muntilan saya googling tempat makan yang recommended, dan menemukan tempat makan yang paling banyak direview adalah Sop Empal Bu Haryoko. Oke, sepakat kami mampir dulu ke Warung Sop Empal Bu Haryoko yang berlokasi di Jalan Veteran No.9 Muntilan. Warung makan ini cukup legendaris di Muntilan, karena sudah berdiri puluhan tahun. Berbekal GPS kamipun tiba di Warung Sop Empal Bu Haryoko. Sop empal Bu Haryoko merupakan kombinasi antara sop bihun kuah segar dengan daging empal yang empuk, manis dan gurih. Seporsi sop bihun dan empal dibandrol harga 20 ribuan. Warung ini buka mulai jam 07.00 pagi setiap harinya, cocok untuk sarapan atau makan siang. Very recommended.


Setelah sarapan kamipun melanjutkan perjalanan menuju Magelang, dengan kecepatan sedang, karena memang jalanan cukup padat. Sebagai tujuan pertama, kami akan mengunjungi Obyek Wisata Taman Kyai Langgeng yang berada di pusat Kota Magelang. Jam 11.30 kami tiba di Taman Kyai Langgeng. Alhamdulilah cuaca sangat mendukung, agak sedikit mendung, jadi nggak panas, cocok untuk jalan-jalan. Tiba di sana pengunjung sudah ramai, kebanyakan rombongan wisata keluarga dan anak-anak. Untuk masuk ke obyek wisata Taman Kyai Langgeng pengunjung dikenakan tiket 20 ribu untuk hari biasa dan khusus hari Minggu harga tiket 25 ribu. Tiket dikenakan bagi pengunjung di atas 3 tahun.

Saya pernah berkunjung kesini tahun 2002, udah lama banget sih, jadi sudah agak-agak lupa, namun seingat saya sih tidak banyak perubahan, bedanya sekarang ada wahana satwa, dengan berbagai koleksi satwa yang kebanyakan adalah reptil seperti ular, reptil jenis 'kadal-kadalan' (saya tidak tahu namanya apa, yang jelas bentuknya menyerupai kadal dengan ukuran agak besar). Ada juga buaya dengan ukuran yang cukup besar, monyet, simpanse,dan burung. Namun sayangnya di setiap kandangnya tidak diberi label nama binatang yang berada di dalamnya. Oiya untuk masuk ke wahana satwa, pengunjung dikenai tiket masuk seharga 5rb karena tidak termasuk tiket terusan. 

Di Taman Kyai Langgeng ada beberapa wahana yang tidak termasuk tiket terusan, jadi pengunjung dikenakan tiket masuk lagi, seperti wahana dirgantara (berupa replika pesawat dan pengunjung bisa masuk), kolam renang, wahana air(berkeliling dengan kapal), wahana kereta mini, bis mini dan wahana cinema 5D. Juno hanya tertarik dengan wahana satwa dan selebihnya dia berlari kesana-sini mengikuti papinya yang sibuk hunting foto. What an exciting day of him. Beberapa kali saya tanya, "Juno capek?" dan dengan semangat dia menjawab "Nggak".






Menurut saya obyek wisata Taman Kyai Langgeng cukup terawat, tempatnya cukup bersih, dengan banyak pohon besar yang menambah kesejukan. Selain wahana-wahana tersebut, ada juga sepeda tandem dan becak mini yang disewakan untuk berkeliling area tersebut.







Setelah puas berkeliling selama 2 jam lebih dan membakar kalori karena tempatnya yang naik turun, kami memutuskan untuk keluar dari Taman Kyai Langgeng dan melanjutkan ke tempat berikutnya. Jam 14.00 kami meninggalkan Taman Kyai Langgeng, tujuan selanjutnya adalah Rumah Kamera (Camera House) yang lokasinya tidak jauh dari Candi Borobudur, jadi sekalian arah pulang. Lagi-lagi kami harus melalui kemacetan. Tiba di gapura masuk Candi Borobudur sekitar jam 15.00, dan di sana macet luar biasa. Bahkan saya sempat putus asa dan meminta papi Juno untuk memutar arah pulang saja. 

Tidak jauh dari Candi Borobudur kami berbelok masuk kampung untuk menghindari kemacetan, dan beruntung kami bertemu penduduk sekitar yang bersedia menunjukkan jalan menuju Rumah Kamera. Akhirnya dengan dipandu oleh mas-mas tadi, kami melewati 'jalan tikus' di perkampungan menuju Rumah Kamera. Sepanjang perjalanan melalui perkampungan, banyak kami jumpai homestay, guest house dan cafe, menunjukkan bahwa pariwisata di daerah tersebut berkembang dengan pesat. 

Sekitar 10 menit kami di tiba di Rumah Kamera. Bangunan ini berada di pinggir jalan sebuah perkampungan. Rumah kamera merupakan sebuah bangunan berbentuk kamera DSLR berukuran besar, terletak di Jalan Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Magelang. Pemilik rumah bernama Bapak Tanggol Angien Jatikusumo atau biasa dipanggil Pak Tanggol, seorang seniman lukis yang telah memperoleh berbagai penghargaan. Untuk masuk ke Rumah Kamera, pengunjung dikenai tiket seharga 5ribu/orang. Di galeri ini pengunjung bisa menikmati lukisan-lukisan indah karya Pak Tanggol, yang terlihat semakin indah disorot lampu yang dipasang di dalam galeri. Bangunan ini memiliki tiga lantai, dan untuk naik pengunjung harus melewati tangga. Dan di setiap dinding, dan di sepanjang tangga dipasang lukisan tangan dan lukisan cetak. Juno hepi sekali di tempat ini, dengan semangat dia naik sendiri hingga lantai 3, tidak minta digendong.










Lantai paling atas adalah open space, pengunjung dapat menikmati pemandangan desa yang sangat indah yang dikelilingi perbukitan. Atau bagi yang hobi fotografi, tempat ini merupakan spot yang oke untuk mengambil gambar. Turun dari rumah kamera, kami berstirahat sejenak di mini cafe yang ada di bawah, sambil menikmati menu yang ada di sana. Rumah kamera bukan hanya sebuah galeri, namun di bangunan yang terletak di sampingnya, merupakan wahana foto 3D yang sangat cocok bagi penggemar selfie. Kalau di Jogja, mirip dengan De Mata yang ada di XT Square gitu lah kira-kira. Sayangnya saya lupa menanyakan harga tiket masuk ke wahana foto 3D. Galeri lukisan di Rumah Kamera buka dari jam 09.00 pagi hingga jam 17.00, sedangkan wahana foto 3D buka hingga jam 19.00.



Sebenarnya masih ada satu tempat lagi yang ingin kami kunjungi, yang lokasinya tidak jauh dari Rumah Kamera, yaitu Gereja Ayam. Itu lho tempat yang ngehits sejak muncul di film AADC 2, salah satu tempat yang dikunjungi Rangga dan Cinta. Waktunya pas sebenarnya jika ingin melihat sunset dari gereja ayam, namun kata si mas yang mengantar kami tadi, gereja ayam terletak di atas bukit, dan untuk mencapai ke sana, kendaraan harus diparkir di bawah, dan dilanjutkan dengan menaiki kendaraan jeep. Rasanya tidak mungkin ke sana sekarang dengan membawa Juno. Akhirnya kami memutuskan untuk menundanya, next time. Mengingat tempatnya yang agak 'sulit' dijangkau, mungkin akan lebih tepat jika kami kesana berdua saja, tanpa Juno. Pi, minggu depan setelah ujian kita ke sana yaaa...hehehe.

Jam 17.30 kami meluncur arah pulang ke Jogja, melewati komplek Candi Borobudur mulai padat merayap, macet parah. Bersyukur kami masih memiliki kue dan camilan untuk Juno, sehingga dia tidak terlalu 'bete' terlalu lama di dalam mobil. Memasuki Jogja, supaya bisa keluar dari kemacetan,kami belok kanan arah Sayegan menuju Jalan Godean. Alhamdulilah tepat jam 20.30 kami tiba di rumah. Baru kali ini Magelang-Jogja ditempuh selama ini. Rasanya , bagi kami long weekend bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan. However it was an amazing trip of us. Bagi yang ingin menikmati liburan yang tidak terlalu jauh, menurut saya Magelang adalah pilihan yang tepat. Enjoy the last day of vacation.





















Saturday, 10 December 2016

Unity in Diversity

Akhir-akhir ini agak malas lihat news feed medsos. Menurut saya, sekarang medsos udah berubah fungsi. Kalau dulu medsos itu untuk nyari teman lama, atau menyambung silaturahmi dengan teman-teman yang udah lama banget nggak ketemu, sekarang medsos fungsinya udah beda, udah nggak kayak dulu lagi. Medsos sekarang isinya lebih banyak tentang isu sara, saling menyalahkan, merasa paling benar, menebar kebencian, dan saling hujat, yang endingnya bikin baper, saling emosi lalu saling unfriend. Hayoo ngaku, pasti ada di antara kalian yang unfriend atau delcon orang dari friendlist kan? hehehe.

Miris baca berita-berita sekarang, didominasi dengan isu sara, dan masing-masing merasa paling benar. Kadang saya geli juga sih bacanya, tapi males mau berkomentar, kuatir jadi viral, hehehe. Makin miris ketika isu sara mulai berkembang di Jogja, yang notabene selama ini dikenal sebagai kota yang cukup toleran dan adem ayem. Jujur, saya mulai risih. Risih karena isu sara mulai mengusik ketenangan kota Jogja, kota budaya dan kota pelajar yang sudah pasti ada berbagai macam unsur di dalamnya. Karena orang tua dari berbagai daerah di Indonesia mengirimkan anak-anaknya ke Jogja, dengan harapan-harapan terbaiknya, anak-anaknya bisa menuntut ilmu di universitas-universitas terbaik. Saya risih, mengapa keberagaman yang seharusnya menjadi sesuatu yang patut dibanggakan dan menjadi nilai plus, justru diusik dan menimbulkan kemarahan dan kebencian.

sumber: davewillis.org

Saya jadi teringat masa kecil saya. Waktu SD, saya bersekolah di sekolah Katolik. Saya sendiri tidak tahu persis alasan orang tua saya waktu itu menyekolahkan saya di sekolah Katolik, setau saya waktu itu sekolah tersebut merupakah salah satu sekolah terbaik di lingkungan tempat tinggal saya. Apakah saya menyesal sekolah di sana? Tentu saja tidak. Saya menghabiskan 6 tahun di sana dengan penuh keceriaan. 

Memang semua guru di sekolah tersebut beragama Katolik, dan siswanya kira-kira separo adalah muslim, seperti saya. Lalu apakah dengan bersekolah di sekolah Katolik, keimanan saya berubah? Tentu saja tidak, saya tetap seorang Muslim. Apakah teman-teman saya waktu itu hanya bermain dengan yang seagama? Tentu saja tidak. Kami bermain dengan semua teman, tanpa perlu bertanya terlebih dahulu, agamamu apa. Bahkan sahabat saya waktu itu beragama Kristen, dan hingga saat ini kami masih berteman baik, walaupun dia tidak tinggal di Jogja (Hai Kristi, miss you). Saya juga pernah duduk sebangku dengan seorang teman yang saat ini menjadi Romo, dan bahkan saat ini kami berteman di facebook (Hai Romo Bondan, apa kabar?). Apakah guru-guru saya saat itu 'pilih kasih' dengan siswa yang seagama dengan mereka? Tentu saja tidak, bahkan waktu itu saya termasuk murid kesayangan mereka.

Apakah saya menyesal pernah bersekolah di sekolah Katolik? Tentu saja tidak. Saya bangga menjadi lulusan sekolah tersebut dan bisa melanjutkan ke SMP terbaik di Jogja. Saya senang bisa bertemu dengan teman-teman yang 'berbeda', dan bahkan hingga saat ini masih berteman baik dengan mereka. Dan saya berhutang budi dengan guru-guru saya di sana. Bagaimanapun apa yang saya pelajari di sekolah tersebut, apa yang diajarkan oleh guru-gurunya berkontribusi pada kehidupan saya saat ini.

Saya merindukan saat-saat indah itu. Saat di mana kami bermain dengan semua teman tanpa ada pengkotak-kotakan. Saya merindukan saat itu, di mana kami bersahabat tanpa perlu bertanya agamamu apa. Saya merindukan saat itu, ketika perbedaan tidak pernah menjadi masalah.

Betapa indahnya jika saat ini seperti apa yang saya alami saat itu. Betapa indahnya ketika semua orang bersahabat tanpa perlu melihat latar belakangnya. Betapa indahnya ketika setiap orang saling mendukung, bukannya saling hujat dan merasa paling benar. Betapa indahnya ketika perbedaan-perbedaan itu menjadi keistimewaan, bukan sebagai ancaman.

Sayangnya itu semua tinggal cerita. Cerita yang selalu saya simpan di hati, sampai kapanpun, dan menjadi bagian dalam perjalanan hidup saya. Beda itu wajar. Beda itu indah. Beda itu istimewa. Have a nice weekend.

When Mommy Back to Campus part # 5

Yeeiii akhirnya ada waktu untuk menulis. Sudah hampir 3 mingguan saya tidak ngeblog. Bulan ini jadwal saya cukup padat merayap (cieee... jadwal, kayak artis aja), tugas akhir semester yang aduhai banyaknya, dan berat, jadwal ujian akhir, kerjaan kantor banyak yang deadline juga. Dan semuanya menjadi 'sempurna' ketika 1 minggu ini Juno sakit. Bisa dibayangkan? Dalam waktu yang sangat mendesak harus bikin 2 publishable articles dan 1 book critic, persiapan ujian, menyelesaikan pekerjaan kantor, ditambah anak sakit. Rasanya hidup udah sempurna banget, yang ada cuma pengen nangis dan teriak. Tapi itu minggu lalu, Alhamdulilah Juno sekarang sudah sehat, masih recovery sih, tapi setidaknya dia sudah mau maem, mau main, dan udah ceria lagi, dan itu membuat kami, saya dan papinya lega bukan main.

Alhamdulilah dari 4 mata kuliah alias matkul, 2 ujian sudah terlewati, masih 2 lagi plus 1 tugas. Tapi setidaknya 2 ujian paling 'horornya', dan tugas-tugas terberatnya sudah lewat. Udah lumayan tenang lah. Jujur, minggu lalu adalah puncak ke-stresan saya. Memang benar dari awal saya berkomitmen tidak mau ngoyo, jalani semampunya. Ya, selama inipun prinsip tersebut saya pegang erat-erat. Nggak usah ngoyo, jalani semampunya. Namun ketika tugas, jadwal ujian, dan pekerjaan kantor dengan deadline yang berbarengan, ditambah Juno sakit, itu merupakan stressor yang sangat sempurna. But Thanks God, I've already been through. Hasilnya? Serahkan pada Allah SWT, hehehe.

Ya beginilah salah satu 'keseruan' menjadi mahasiswa di saat sudah menyandang status sebagai seorang ibu. Ada banyak hal yang tidak terduga, di luar kontrol dan tidak dapat dihindari, contohnya ketika anak sakit. Saya rasa semua orang tua sama, paling sedih adalah ketika anak sakit. Begitu juga kami,Juno sakit bukan hanya membuat kami sedih, tapi juga menghilangkan selera makan kami. 

sumber : http://www.someecards.com/

Ketika Juno sakit kemarin, saya teringat sering dibuatnya jengkel. Entah berapa kali, ketika sedang serius di depan laptop, tiba-tiba Juno datang dengan membawa mainan dan meminta saya untuk menemaninya bermain, atau minta dibikinin ini itu, bahkan sering juga saya dibuat jengkel karena tombol power laptop saya tiba-tiba dipencetnya, dan mati. Dan ketika Juno sakit kemarin, it made me feel guilty, saya merasa bersalah. Sumpah, lebih baik digangguin Juno ketika sedang serius mengerjakan tugas, daripada melihatnya sakit. Mending saya kehilangan mood belajar karena Juno minta ditemani main, atau minta dibikinin ini itu, daripada harus belajar di sampingnya yang terbaring lemah.

Juno bukanlah anak yang rewel sebenarnya, jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah dia menunjukkan sikap frontal ketika meminta sesuatu. Namun sekarang dia sudah bisa protes, dengan caranya sendiri, dengan cara yang halus, menurut saya. Contohnya ya mengganggu saya ketika sedang bekerja atau belajar. Satu hal yang bisa saya simpulkan, Juno tidak suka melihat saya sibuk ketika bersamanya. Jadi ketika bersamanya, dia hanya ingin kami menemaninya, tidak melakukan aktivitas yang lain. Got it, son.

Jadi,kembali ke komitmen awal, jangan ngoyo, lakukan semampunya. Mungkin itu prinsip yang harus dipegang teguh oleh seorang employed student mom seperti saya. Jangan sampai deh kehilangan moment penting yang nggak bisa diulang. Bagaimanapun menjadi mahasiswa bukanlah peran utama, menjadi ibu dan istri, itu peran utamanya. Have a nice weekend.


Monday, 21 November 2016

Kedai Duren Bu Jero Jalan Imogiri Barat KM 6, Bagi Para Penggemar Duren

Malem minggu kemarin ketika sedang mengamati timeline facebook, nggak sengaja saya melihat sebuah placepage dengan nama Kedai Duren Bujero. Sayapun otomatis menge-klik dan ngepoin isinya. Hemmm...ternyata sebuah kedai yang  menyediakan beraneka menu berbahan duren. Wahhh,guweh banget nihhh. Ya,kami, saya dan suami memang penggemar duren, nggak mau kalah, Juno yang baru 3 tahun juga doyan duren, walaupun nggak banyak, tapi setiap kami beli duren, Juno pasti excited dan ikut mencicipi. Cuma sayang, di Jogja agak susah ya cari duren kalo memang bukan musimnya. Kalau lagi musim, bahkan kami sampai berburu duren hingga ke Samigaluh Kulon Progo ataupun ke Klaten,yang memang daerah penghasil duren.

Mabok Duren, 14rb
Saat melihat placepage Kedai Duren Bujero di facebook kemarin, saya langsung menunjukkannya ke Papi Juno, dan kami sepakat untuk mencoba menu Kedai Duren Bujero pada hari minggunya. Juno yang berada di samping saya excited mendengar kata "duren", begini katanya "yeiii...makan duren,kayak Ipin Upin",hehehe. Ya, Juno memang penggemar serial Ipin Upin dan pada beberapa episode Ipin Upin yang ditontonnya menggambarkan Ipin Upin yang sedang makan duren, dan kayaknya itu sangat 'menginspirasi' Juno.

Ketan Hitam Duren, 14rb
Sejak Minggu pagi, Juno sudah tidak sabar untuk makan duren. Dari pagi dia sudah mengajak untuk segera 'beli' duren. Jam 16.30 hujan cukup deras, kami berangkat menuju Jalan Imogiri Barat. Sekitar jam 17.00 kami tiba di Kedai Duren Bu Jero yang berlokasi di Jalan Imogiri Barat KM 6, Ngoto Sewon Bantul. Tiba di sana, hujan sudah lumayan reda, hanya gerimis saja. Setelah memilih meja, kami disodori menu oleh mbak di kedai tersebut.Hemmm, foto-foto yang ada di daftar menu sangat menggoda, semuanya serba duren, dan semuanya adalah menu ringan, seperti kelapa duren, sop durian, ice cream duren, ketan hitam duren, kacang ijo duren, duren milkshake, pancake durian, durian kupas, dan beberapa menu 'durian' lain seperti Mabok Duren dan Klenger Duren.


Saya memilih Mabok Duren karena tergoda dengan fotonya yang tampak so yummy,namun minus topping. Sedangkan Papi Juno memilih Tanti (Ketan Hitam Durian). Oiya, di sini juga menyediakan menu mie goreng dengan berbagai topping. Buat ganjal perut di saat lapar-lapar nanggung jam segini cocok juga tuhh. Sebagai menu tambahan, kami memesan 1 porsi mie goreng plus telur.

Tak lama pesanan kami datang, hemmm dari tampilannya aja udah tampak menggoda. Menu disajikan dalam mangkuk batok kelapa. Tak hanya tampilannya yang menggoda, durennya berasa banget. Mabok duren yang saya pesan berisi potongan duren, seharusnya dilengkapi dengan topping keju dan chococips, namun karena saya tidak suka keju, jadi saya pesan tanpa topping. Hemmm...duren banget,Juno juga suka karena durennya memang manis. Ketan hitam duren yang dipesan Papi Juno juga tak hanya menggoda tampilannya, namun rasanya juga hemmm...Ketan hitam duren ini berisi bubur ketan hitam yang diberi kuah duren plus susu kental manis, tapi menurut saya durennya agak kurang 'kental' rasanya, mungkin karena bercampur dengan ketan hitam. Tapi overall, kedua menu duren tadi sudah cukup 'melepas kerinduan' kami sebagai penggemar duren,hehehe.

Jadi sekarang kalau mau makan duren nggak perlu nunggu musim duren, cukup datang saja ke Kedai Duren Bu Jero, di Jalan Imogiri Barat KM 6 Ngoto Sewon Bantul. So, daripada penasaran, bagi para penggemar duren, monggo silahkan dicoba. 

Kedai Duren Bu Jero, Jalan Imogiri KM 6

Juno dan papinya @ Kedai Duren Bu Jero

Saturday, 19 November 2016

When Mommy Back To Campus Part # 4

Pada part sebelumnya saya menceritakan keseruan alias sukanya sekolah lagi di saat menyandang status sebagai seorang ibu. Namun kali ini kayaknya saya mau curhat aja (atau lebih tepatnya ngeluh kali yaa). Sebenarnya saya bukanlah orang yang suka ngeluh, mengapa? Karena sayapun tidak menyukai orang yang suka mengeluh. But it seems now I have to do so. Saat ini semangat saya baru down alias decline alias menurun. Alasannya? Apakah karena alasan keluarga? Tidak, bukan karena itu, keluarga saya sangat mendukung, terutama papi Juno,justru dia yang selalu memotivasi saya untuk melanjutkan sekolah lagi. Apakah karena anak? Tentu saja tidak. Juno sangat kooperatif, dia bukan anak yang rewel, di usianya yang baru 3 tahun, dia sangat paham dengan aktivitas orang tuanya. Apakah beban kuliah yang terlalu berat? Hemmm, saya rasa bukan juga, karena dari awal saya sudah paham beratnya kuliah S3. Saya sudah paham konsekuensinya. Kalau bukan masalah keluarga, anak atau beban kuliah,lalu?


Sebenarnya saya sudah pernah mengalaminya pada saat menyelesaikan study S2, memang tidak mudah membagi waktu antara bekerja, kuliah, keluarga dan aktivitas yang lain. Ya,saya sudah pernah mengalaminya, dan waktu itu saya bisa melaluinya. Lalu apa bedanya dengan sekarang? Hemmm, it seems difficult for me to explain what it's about.It is true, that from the beginning has been troubled, so surely, next it would be difficult. Kok saya jadi kayak orang putus asa begini sih? Hehehe...

Tidak,tidak, saya tidak putus asa,hanya saja saat ini saya sedang kehilangan semangat. Saya kesulitan membagi waktu dan fokus antara pekerjaan dan study. Well, sebenarnya tidak ada masalah dengan pekerjaan, so far saya masih bisa menyelesaikannya. Tidak ada masalah juga dengan keluarga, so far saya masih punya waktu cukup bersama mereka.

Saya rasa sekarang saya sangat paham betul mengapa saya cukup kesulitan ketika akan "memulainya". Buat apa sih PNS sekolah tinggi-tinggi? Toh ilmunya nggak akan dipakai juga kok. Pekerjaan tidak menuntut kita untuk sekolah tingi. Iya juga sih, mungkin saya aja yang kurang kerjaan dan mempersulit diri sendiri, hehehe. Wait...wait, it was just a joke, do not take it seriously. Siapa bilang PNS nggak perlu sekolah tingi? Itu kan dulu, jaman orde baru. It was so yesterday. Beda dong dengan sekarang. PNS harus cerdas, kreatif dan inovatif, harus selalu meningkatkan kempetensi, salah satunya ya dengan sekolah lagi, nggak masalah mau sekolah sendiri atau beasiswa. Nahhh..ini baru bener,hehehe. Jadi nggak masalah dong kalau PNS punya motivasi untuk sekolah lagi? Yang namanya ilmu kan pasti berguna, kalau nggak di sini, ya mungkin bisa dipakai di sana. Gitu kali yaa. Hemmm...

Saya rasa permasalahan utama bagi ibu bekerja yang sekolah lagi, entah itu PNS atau karyawan swasta, adalah masalah pembagian waktu. Jadi bagi teman-teman, terutama para mamah muda alias mahmud yang ingin melanjutkan sekolah lagi, harus mempertimbangkan hal ini. Bagi yang bebas tugas sih nggak masalah ya, namun bagi yang ibel seperti saya ini harus pinter-pinter bagi waktunya (hemmm...padahal ibel juga belum turun,hehehe).

Selama ini biasanya saya mengerjakan tugas-tugas kuliah pada tengah malam atau dini hari, bisa dikatakan hampir tiap malam saya begadang mengerjakan tugas kuliah yang bejibun. Tiap hari tidur 3-4 jam itu udah biasa banget. Tapi ternyata dengan begadang tiap malam masih belum cukup juga, belum cukup waktu dan energinya untuk bisa fokus pada study, bahkan ketika saya sudah mengaturnya dengan jadwal, tetap saja tidak cukup.

Memang menjadi mahasiswi di saat menyandang status sebagai seorang ibu dan pekerja, bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan kemampuan untuk membagi waktu dan energi, dan saya sadar betul, saya belum memiliki kemampuan untuk itu. Saya masih lemah dalam membagi waktu. Masih banyak energi saya terbuang untuk hal yang nggak penting. Saya rasa saya masih harus belajar lagi, belajar untuk membagi waktu dengan benar, membagi energi dengan benar, membagi fokus dengan benar dan belajar untuk membelah diri seperti amoeba.

Tak terasa, awal bulan depan sudah menghadapi ujian akhir semester (UAS),padahal ijin belajar saya aja belum turun, hehehe. Tugas akhir smester yang woww, persiapan  ujian akhir, plus pekerjaan kantor yang harus selalu diutamakan, a lot of works a head. Saya tidak yakin akan menyelesaikannya dengan maksimal, tapi bagaimanapun harus diselesaikan. I knew it from the start, dari awal sudah tahu bakalan berat, jadi ya bagaimanapun harus dijalani.

Memang semangat saya saat ini sedang down, tapi bukan berarti semangat saya nggak akan kembali kan? Sebagai seorang ibu tentu saja saya punya spirit booster yang luar biasa, ya Juno adalah spirit booster saya.He's the only reason I have to finish it. This is one of benefit when mommy back to campus,there's always a family as a motivation. Buat teman-temanku seperjuangan, para mahmud yang saat ini akan atau sedang melanjutkan sekolah lagi,semangat ya. It's not easy at all, but by the time we will be gratefull to get through. Have a nice weekend.

PS: Sabtu kali ini seperti biasanya Juno saya liburkan, tapi dia menolak ketika saya mengajaknya jalan-jalan, begini katanya "di rumah saja, tapi mami nggak boleh pergi". Dan seharian ini saya di rumah, menemaninya bermain, sambil nyicil ngulik tugas yang bejibun, hehehe. Yukkk ahh, kalo ngeluh terus, nggak bakal selesai juga kan, satu-satu diberesin, akan selesai juga pada waktunya kok.







Sunday, 6 November 2016

Juno Mau Punya Adik

Kemarin Sabtu saya mengajak Juno untuk menengok seorang teman kantor yang baru saja melahirkan, anak ketiga, dan kebetulan ketiganya adalah cowok. Beberapa hari sebelumnya saya sudah memberitahu Juno, bahwa Sabtu kami akan menengok dedek bayi,kemudiang hangout berdua seperti biasanya. Juno excited banget, dia sangat senang akan saya ajak melihat dedek bayi.

Hari Sabtu pagi, seperti biasa Juno saya liburkan sekolah. Saya memang sudah menyampaikan kepada guru pengampu Juno di sekolah bahwa khusus hari Sabtu, Juno tidak sekolah kecuali saya ada keperluan yang sangat mendesak dan tidak bisa ditinggalkan. Beberapa hari ini Juno sangat sulit untuk mandi,jadi tiap pagi dan sore pasti terjadi drama 'Juno tidak mau mandi'. Ini terjadi beberapa hari belakangan. Kamipun tidak tahu alasannya apa, tapi yang jelas dia menolak untuk mandi, walaupun telah dirayu dengan berbagai cara. Alhasil harus berakhir dengan mandi yang penuh deraian air mata Juno. Ini terjadi beberapa hari ini. Begitu juga kemarin Sabtu pagi, dia menolak untuk mandi, padahal saya sudah siap.Dia bilang tidak mau mandi,tapi mau ganti baju saja. Akhirnya terjadilah drama seperti yang sudah-sudah, Juno mandi sambil nangis.

Setelah mandi biasanya akan terjadi drama lagi, yaitu tidak mau pakai baju, seperti kemarin-kemarin. Tapi kemarin setelah saya ingatkan kalau kami akan menengok dedek bayi, Juno 'agak' sedikit lebih mudah pakai bajunya.Kamipun berangkat.Seperti biasa,sepanjang jalan Juno mengomentari apa yang dia lihat, terutama ketika kami berpapasan dengan kendaraan besar seperti truk,kontainer,tanki,atau bis.Atau ketika kami melewati jembatan atau melihat bendera. Ya, ada 2 yang paling menarik perhatian Juno, jembatan dan bendera.

Sampai di rumah teman saya sekitar jam 09.30. Seperti biasa, ketika kami ajak ke tempat baru atau bertemu orang baru, Juno menjadi lebih 'diam' karena dia masih beradaptasi. Beberapa saat kemudian dia terlihat enjoy, apalagi di sana ada 2 anak teman saya yang usianya hampir sama, mereka pun asyik bermain. Sebenarnya rencana awalnya begini,pertama kami akan menengok bayi, setelah itu kami akan ke mall, karena Juno minta ice cream. Namun ternyata rencana berubah, karena Juno sangat enjoy berada di rumah teman saya, ditemani 2 orang anak teman saya. Juno sudah lupa dengan ice cream. Beberapa kali saya tanya,'Juno,jadi makan ice cream nggak?'.Dan dia menjawab 'nggak'. 

Hingga jam 16.00 Juno belum mau beranjak, dia masih asyik bermain dengan teman-temannya, bahkan hingga akhirnya Juno saya tinggal masuk ke dalam mobil, dia tetap tidak beranjak. Akhirnya saya menunggu sekitar 30 menit di mobil sampai akhirnya Juno diantar oleh suami teman saya ke mobil. Saya lihat wajahnya kecewa karena dia sebenarnya masih ingin bermain di sana. Rencananya saya akan mengajaknya makan ice cream, namun ternyata 5 menit perjalanan, Juno tertidur. Akhirnya saya menelpon papinya untuk membelikan ice cream take away.

Menengok dedek bayi, kemarin 
Sepanjang perjalanan pulang saya sesekali memandangi Juno yang terlelap di samping saya. Saat ini dia sudah 3 tahun, dan sangat menikmati bermain dengan teman-teman seusianya. Selain di sekolah, bisa dibilang Juno hampir tidak pernah bermain dengan teman seusianya. Karena pulang sekolah sudah sore, jadi setelah pulang sekolah ya paling cuma main di rumah saja. Kalau di rumah uti nya, dia biasa bermain dengan kakak sepupunya yang sudah SD. Ya, saya rasa Juno memang butuh teman.

Kapan Juno punya adik? Entah berapa kali saya ditanya pertanyaan ini. Puluhan atau mungkin ratusan kali. Juno sudah 3 tahun, memang sih rasanya sudah pas juga kalau dia punya adik. Lalu apa jawaban saya setiap ditanya begitu? Saya biasanya menanggapinya dengan tertawa atau jawaban 'diplomatis' seperti 'nanti 2 tahun lagi' atau 'saat ini kami berkomitmen 1  dulu, biar fokus ke Juno'. Well, bukan tanpa alasan saya menjawab seperti itu. Memang benar, saat ini kami memang berkomitmen untuk fokus pada Juno dulu, walaupun memang ada pertimbangan lain juga, seperti studi saya dan pertimbangan 'adaptasi atas kerepotan' memiliki baby lagi. 

Jujur,bagi kami mungkin juga bagi pasangan lain memiliki anak pertama merupakan pengalaman yang luar biasa, dengan berbagai 'keseruannya'. Jelas,punya anak siapa sih yang nggak bahagia, ditambah serunya menjadi orang tua, begadang tiap malam, panik dan kuatir ketika anak demam atau panas,surprised ketika tiba-tiba anak kita bisa mengucapkan kata pertamanya, dan setiap proses pertumbuhannya. Termasuk perubahan banyak hal karenanya, seperti waktu istirahat yang berubah total, kebutuhan, dan termasuk perubahan fisik setelah melahirkan.Beda ya kalau artis, seperti Dian Sastro atau Nia Ramadhani yang hamil atau punya anak. Kalau mereka sih nggak perlu repot-repot mikirin anaknya gimana kalau ditinggal kerja, karena baby sitternya pasti nggak cuma satu, atau mereka juga nggak perlu pusing mikirin gimana caranya jadi langsing lagi setelah melahirkan, karena udah pasti ada budget tak terbatas untuk perawatan. Nah beda dong dengan kita yang orang biasa, harus mikir nanti gimana kalau anak kita tinggal kerja,bagaimana membagi tugas ngurus anak dengan pasangan, pusing cari fullday school yang bagus tapi harus sesuai budget, dan sebagainya dan sebagainya.Serulah pokoknya.Hehehe.

Saat ini, seringkali Juno tiba-tiba memegang perut saya dan mengatakan ini 'Mami,di sini ada adeknya ya?'.Ya, saya memang pernah menunjukkan kepada Juno foto-foto saya waktu hamil, dan mengatakan kepadanya bahwa selama 9 bulan Juno berada di dalam perut mami dan ikut mami kemana-mana. Dan saat ini,sering sekali dia menanyakan itu kepada saya.Lalu apa jawaban saya? Saya mengiyakan.Hehehe.Begini jawaban saya 'Iya Juno, di perut mami ada dedek bayinya.Juno mau punya dedek kecil?'. Diapun mengangguk dan terlihat senang. Bahkan dia dengan mata berbinar mengatakan ingin memiliki adik cowok.hehehe.

Ya, memang dari segi usia Juno sudah waktunya untuk memiliki adik, dia juga butuh teman, namun saat ini kami memang ingin fokus pada Juno, kami belum ingin membagi perhatian selain kepada Juno. Walaupun ada beberapa pertimbangan lain yang menyertainya, tapi semua kembali kepada Tuhan,kalau Tuhan berkehendak, apa sih yang nggak mungkin? Yang jelas, saat ini sudah saatnya Juno memiliki adik, dan sepertinya Juno juga sudah siap untuk memiliki adik, tinggal kami yang mempersiapkan lain-lainnya,hehehe. Have a nice weekend.