expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Saturday, 6 August 2016

Jangan Sentuh Hapeku!

Hemmm...judulnya cukup provokatif ya,maksudnya apa ya?Belasan tahun yang lalu,hape bisa dibilang termasuk barang mewah,tidak hanya karena harganya yang masih berkisar jutaan,namun harga pulsa isi ulangnyapun tergolong mahal.Masih ingat sekali jaman saya kuliah dulu,harga pulsa isi ulang yang paling murah adalah 100rb.Tentu saja bagi mahasiswa seperti saya waktu itu,punya hape belum tentu ada pulsanya,jadi selain cuma buat terima telpon atau sms,ya sekedar buat gaya-gayaan aja.

Berbeda dengan sekarang,dimana hape sudah bukan lagi barang mewah,tapi hape sudah menjadi barang publik,yang bisa dimiliki oleh siapapun,ngga cuma orang tua,anak muda,bahkan anak kecil.Anak SD pun sekarang pake hape,bahkan ada juga sekolah yang tidak mempermasalahkan jika anak didiknya membawa hape ke sekolah.

Lalu apa hubungan judul di atas ya?Masih ingatkah dengan lagu dangdut yang beberapa tahun lalu sempat ngehits?Kira-kira reffnya begini Bang sms siapa ini bang?Bang pesannya pake sayang-sayang?Cuma itu yang saya ingat,pun saya ngga tau juga siapa penyanyinya,bukan gaya atau gimana ya,tapi saya memang bukan penggemar musik dangdut.

Lagu tersebut sempat ngehits beberapa tahun lalu,tidak hanya karena easy listening tapi juga karena liriknya yang cukup menggelitik.Lagu itu merupakan bentuk kegalauan seorang istri karena menemukan sms mesra dari seorang wanita lain di hape suaminya.Hemmm...
Tentu saja si pencipta lagu bukan tanpa alasan menciptakan lagu tersebut.Bisa saja si pencipta lagu terispirasi oleh banyaknya kasus perselingkuhan yang terjadi dimulai dari komunikasi melalui hape.Banyaknya fitur social media (sosmed) dan fitur chatting yang ada,memberikan banyak kemudahan dan kesempatan bagi siapa saja,termasuk orang yang sudah berkeluarga,untuk bertemu dan berkomunikasi dengan banyak orang dari manapun.Tak jarang orang berkenalan dengan seseorang di dunia maya,kemudian saling bertukar nomor hape,WhatsApp (WA),atau Blackberry Messenger (BBM),lalu komunikasipun berlanjut,ketemuan dan...selanjutnya terserah anda,hehehe.

Ya itulah yang banyak terjadi saat ini.Ada cerita dari seorang teman saya,laki-laki,dia sudah menikah dan memiliki 2 anak.Kejadiannya beberapa tahun lalu.Waktu itu dia bercerita di depan saya dan beberapa teman lain.Kira-kira begini ceritanya,suatu hari di sebuah acara,secara tidak sengaja dia bertemu dengan mantan pacarnya waktu sekolah dulu.Akhirnya merekapun saling bertukar nomor hape,dan komunikasipun berlanjut.Hampir setiap saat mereka saling bertelpon dan berkabar.Terlihat sekali ketika bercerita,teman saya itu sedang berbunga-bunga karena ketemu dengan mantan pacarnya yang (maaf) saat ini berstatus janda dengan 1 anak.Komunikasipun berlanjut hingga akhirnya semakin jauh,jauh,dan jauh,tak perlu saya ceritakan di sini.

Cerita lain lagi dari seorang teman saya,wanita yang sebel dengan tingkah suaminya yang kemana-kemana hape selalu dalam genggaman,termasuk ketika di rumah dan sering sekali suaminya itu asik sendiri dengan hape nya.Teman saya menceritakan kegalauannya,sebenanya dia ingin sekali mengecek hape suaminya dan mengetahui siapa saja yang berkomunikasi dengannya.Wajar dong namanya istri,cemburu atau kuatir suaminya diam-diam "dekat" dengan wanita lain.Tapi boro-boro mau mengecek hape suaminya,mau nyentuh aja,suaminya udah manyun alias melarang.Hemmm...

Ada juga teman saya diam-diam mengecek hape suaminya,dan ternyata dia mendapati suaminya sering berkomunikasi dengan teman-teman wanitanya.Memang sih,tidak ada indikasi yang menunjukkan suaminya itu menjalin hubungan dengan wanita lain,tapi sepertinya suaminya hoby flirting alias tebar pesona,tak jarang dia mengirim rayuan maut kepada teman-teman wanitanya itu,seperti "pagi cantik" atau "Makin cantik aja".Istri mana sih yang ngga cemburu suaminya bilang gitu ke wanita lain.

Contohnya kok cowok semua ya?Oke biar fair,saya kasih contoh yang cewek juga ya.Cerita dari seorang teman saya,wanita,sudah menikah,yang tiba-tiba dia menjadi berbunga-bunga ketika dia berkenalan dengan seorang laki-laki ganteng yang juga sudah menikah,dan bisa dibilang cukup mapan.Merekapun bertukar nomor hape dan saling berkomunikasi.Beberapa kali si cowok mengajaknya makan siang,dan hubunganpun berlanjut,tentu saja tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing.

Itu hanya beberapa contoh saja,sebenarnya banyak sekali kasus perselingkuhan yang terjadi karena diawali dengan komunikasi lewat hape atau medsos.Lalu sebenarnya boleh ngga sih istri atau suami mengecek hape pasangannya?Hape termasuk barang pribadi,artinya itu adalah privacy pemiliknya,lalu bagaimana kalo suami atau istrinya ingin tau siapa saja yang berkomunikasi dengan pasangannya,apakah boleh?Saya pernah bertanya ke beberapa teman soal ini.Ada yang menjawab,bolehlah,karena suami istri kan harus terbuka satu sama lain,jadi jangan ada dusta di antara kita.Cieee...teman saya yang ini wise banget ya.

Teman saya yang lain tidak setuju dengan jawaban teman saja yang pertama tadi.Menurut teman saya ini hape adalah barang pribadi,isinya adalah privacy pemiliknya,siapapun termasuk pasangannya tidak berhak tahu apalagi ngepoin secara diam-diam.Hemm..galak juga ya teman saya yang satu ini.

Jawaban berbeda dari teman saya yang satu lagi.Menurut dia,boleh sesekali pasangan kita tau isi hape kita,tapi sesekali aja lho ya.Karena memang ada hal-hal yang privacy dan pasangan ngga perlu tau,misalnya urusan kerjaan.Jadi suami istri harusnya saling percaya ajalah dasarnya,begitu katanya.Oke-oke..noted.

www.merdeka.com
Kalo saya sendiri gimana?Dulu jaman pacaran,saya dan mantan pacar yang sekarang jadi papi Juno,biasa saling kepoin hape atau medsos pasangan itu,bahkan hingga tahun awal pernikahan.Saya sering buka hape dia untuk cek siapa aja yang telpon,yang sms,bbm atau yang lain-lain.Lalu apa yang saya temukan?Penasaran ya?hehehe.Saya fine-fine aja suami saya berkomunikasi dengan siapapun,selama itu urusan pekerjaan, atau urusan urgent lainnya.Tapi ketika komunikasinya udah di luar konteks pekerjaan,of course saya ngga suka dan akan saya tegur,begitu pula sebaliknya.Ribut-ribut karena hal ini biasalah..tapi itu dulu,ketika masih pacaran dan di awal pernikahan.Maklum masih ababil alias abege labil,hehehe.

Kalo sekarang,setelah hampir 5 tahun pernikahan,kami berdua justru malah sama sekali tidak pernah membuka hape pasangan.Saya tidak pernah buka hape dia,begitu pula sebaliknya.Apa karena ada passwordnya?Hape saya memang berpassword,tapi suami saya tau passwordnya,dan kalo dia mau cek pun bisa saja sebenarnya,toh hape nya selalu saya taruh di tempat yang mudah dijangkau kok.Alasan saya mempassword adalah karena alasan keamanan,aman secara umum atau aman dari tangan Juno.Ya,Juno sekarang lagi senang-senangnya nonton video anak-anak di youtube,jadi kalo hape saya gak dikasih password,repot kalo udah dipegang Juno.

Sebaliknya suami saya tidak pakai password,jadi saya bisa saja buka hape dia kapan saja.Tapi apa saya cek hapenya?Tidak.Apakah kami tidak saling curiga?Of course sebagai pasangan pasti ada dong rasa curiga dan cemburu,ketika pasangan kita sedang tidak berada bersama kita.Bukankah cemburu itu tanda sayang?Bener banget.Apalagi saat ini apa sih yang ngga mungkin,apa aja mungkin,ibarat kata orang alim aja bisa selingkuh kok.Jadi wajar aja kalo kita curiga atau kepo dengan pasangan kita,tapi mungkin dengan cara yang pas ya.Kalo memang mau tau isi hape pasangan,ya bilang aja,ga usah diam-diam ngecek,karena kalo pasangan tau bisa ribet tuh,hehehe.

Ga perlu lah menginterogasi pasangan kita kayak penyidik kepada tersangka.Kamu dari mana,ngapain aja,sama siapa?Siapa yang ngga sebel ditanyain begitu,saya aja pasti sebel,hehehe.Dan konon katanya cowok kalo dicurigai yang berlebihan,justru dia malah makin menjadi.Entah bener atau ngga,saya belum pernah melakukan penelitian tentang ini.Mungkin next bisa dilakukan survey ya,hehehe.

Ga perlu jugalah menghubungi pasangan setiap saat,selain mengganggu aktivitas pasangan kita,itu juga bisa bikin ga nyaman lho.Bayangkan pas lagi meeting atau kumpul sama teman-temannya,tiba-tiba kita nelpon,kamu dimana,lagi ngapain,sama siapa?Gubrakkk.Bukan hanya yang ditelpon yang sebel,yang denger juga sebel.
Jujur,ketika sedang beraktivitas,kerja maksudnya,saya dan suami jarang sekali bertelpon kecuali urgent,paling WA aja,itupun bisa dihitung.Selain emang ga perlu,bingung juga mau ngobrolin apa wong nanti di rumah juga ketemu.

Keterbukaan sepertinya emang sangat penting ya.Pasangan kita adalah orang yang ditakdirkan Tuhan untuk menemani kita dalam suka maupun duka,sudah seharusnya kita berbagi perasaan dengannya,bukan dengan orang lain,medsos,orang lain apalagi mantan,bisa ribet nanti,hehehe.Kalo emang kita curiga,cemburu,tidak nyaman dengan apa yang dilakukan pasangan kita,sampaikan saja,termasuk kalo kita ga nyaman dengan tingkah pasangan yang selalu asik dengan hapenya sendiri atau melarang kita untuk "menyentuh" hapenya.

Sampaikan juga kepada pasangan kita hal-hal yang memang harus diketahui pasangan kita,supaya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,misalnya saja ketika suatu hari mantan dari jaman majapahit (saking lamanya sampai lupa) tiba-tiba menghubungi kita,atau ketika ada teman lawan jenis mulai ngajak ngobrol di luar konteks.Tapi sampaikan dengan cara yang tepat juga,biar "aman terkendali".

Jadi intinya apapun sikap kita terhadap hape pasangan,mau kepoin isinya,mau ngecek diam-diam,mau cuek,mau percaya 100%,itu ga penting,yang penting adalah saling percaya,saling menjaga kepercayaan dan jangan saling cuek.Ini sekedar share pengalaman saja,semoga bermanfaat.Have a nice weekend,salam hangat untuk keluarga.






Wednesday, 3 August 2016

Kegalauan Seorang Teman,Apa Hubungannya Dengan MEA?

Beberapa hari lalu saya mendapat pesan text dari seorang teman.Teman saya ini,sebut saja si X,cowok usia 28 tahun,lulusan S2.Kami memang berteman baik,kadang kalo lagi "galau",dia sering curhat sama saya terutama soal cewek atau hal lain.Oiya,si X ini masih single.Kemarin lewat pesan yang dikirim ke saya,dia curhat,tapi kali ini bukan soal cewek,tapi dia lagi galau karena keluarganya saat ini sering menanyai soal pekerjaan.Ya,si X ini memang belum pernah bekerja.Belum pernah sama sekali,sejak lulus S1,pun sejak lulus S2.Pernah dia mendapat beberapa panggilan tes atau interview kerja,tapi hingga sekarang belum ada yang "nyantol".

Saat ini teman saya ini baru galau,karena keluarganya,terutama ibu nya sering sekali menanyakan kapan dia bekerja,apalagi sudah lulus S2.Sudah pastilah pertanyaan ini sangat sensitif bagi si X,dan alhasil membuat dia sedih,dan merasa bersalah kepada orang tuanya karena merasa telah mengecewakan mereka.Si X pernah mendapat tawaran bekerja sebagai dosen,namun dia tidak mengambil tawaran itu dengan alasan di luar Jawa,sementara orang tuanya berharap dia menjadi dosen.Nahh..di sinilah semuanya berawal.Orang tua si X sangat berharap anaknya menjadi dosen,sementara anaknya tidak ingin menjadi dosen namun ingin bekerja di perusahaan,manajer apa gitu,begitu katanya.Dan sayapun bingung mau jawab apa curhatan dia kali ini.

Siang tadi saat makan siang saya sempat melihat berita di televisi tentang penangkapan 70 orang buruh asal Cina di Banten.Mereka dibawa ke Mapolda Banten karena tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian.Para buruh Cina tersebut bekerja di proyek pembangunan pabrik semen,dengan komposisi pekerja,30% tenaga kerja lokal dan 70% tenaga kerja asing.Anehnya gaji buruh Cina tersebut jauh lebih besar dari gaji tenaga kerja lokal,untuk ukuran pekerja kasar.Menurut data dari Polda Banten,buruh Cina ini mendapat gaji 15 juta/bulan,sangat jauh dibandingkan gaji pekerja lokal yang hanya sekitar 2 juta/bulan.Selain pekerja kasar,di sana ditemukan pula tenaga kerja Cina yang ditempatkan di kantor,dengan gaji yang cukup fantastis,20-25juta/bulan.Woww...(https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2016/08/01/parah-polisi-tangkap-70-buruh-cina-ilegal-di-banten-gajinya-super-besar-dibanding-buruh-lokal/)


Cerita tentang teman saya tadi,dan penangkapan buruh Cina di Banten ,sebenarnya merupakan dua fenomena yang ada kaitannya dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),yang telah aktif dilaksanakan sejak tanggal 31 Desember 2015.MEA itu apa sih sebenarnya?MEA bisa diartikan sebagai suatu masyarakat yang saling terintegrasi satu sama lain, adanya perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN,dan usaha-usaha untuk menjadikan kawasan ASEAN menjadi lebih kompetitif,stabil,dan maju.


sumber : www.askrida.com
Tentu saja,dengan adanya MEA kita harus siap memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan-tantangannya.Nah,ngomongin peluang,apa saja sih peluang yang ditawarkan oleh MEA?Dengan adanya integrasi ekonomi, tentu saja pasar dunia menjadi lebih terbuka lebar.Selain itu membuka kesempatan Indonesia menjadi negara tujuan investor,dan semakin terbukanya sektor jasa,selain sektor perdagangan tentu saja.Selain memberikan peluang,MEA juga memberikan tantangan kepada kita.Lalu apa aja sih tantangan di era MEA?Dengan makin terbukanya pasar dunia,tentu saja akan meningkatkan ekspor,daya saing produk, dan daya saing Sumber Daya Manusia atau SDM.

Yang akan saya bahas di sini adalah tantangan yang ketiga,yaitu SDM.Ya,dengan adanya MEA,tentu saja SDM menjadi salah satu tantangan besar yang harus dihadapi.Dengan pasar dunia yang makin terbuka lebar,arus tenaga kerja akan semakin "deras",baik tenaga kerja yang masuk dan tenaga kerja yang keluar,dari segi kuantitas maupun kualitas.Artinya akan semakin banyak tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia,demikian pula akan semakin banyak tenaga kerja Indonesia yang bekerja di 12 sektor yang menjadi prioritas MEA.Ya,ada 12 sektor yang menjadi prioritas MEA.Dari 12 sektor itu 8 adalah sektor perdagangan yang terdiri dari sektor pertanian,perikanan,industri karet,kayu,tekstil dan pakaian,otomotif,elektronik,teknologi informasi dan komunikasi.Dan 4 sektor jasa terdiri dari sektor kesehatan,pariwisata,perhubungan udara dan logistik.

Dengan adanya 12 sektor prioritas tersebut,sudah pasti profesi di sektor-sektor tersebut mempunyai peluang yang besar untuk masuk,sehingga perlu adanya Mutual Recognition Arrangement (MRA).MRA adalah kesepakatan antara 2 negara atau lebih mengenai suatu hal yang berhubungan dengan kepentingan negara-negara tersebut,misalnya kesepakatan mengenai impor barang dan bea cukai.Selain itu MRA juga digunakan untuk mengatur tentang profesi atau tenaga profesional tertentu.Nah,profesi apa saja sih yang sudah ada MRAnya?

Ada 8 profesi yang sudah memiliki MRA,yaitu insinyur,tenaga pariwisata,akuntan,arsitek,dokter gigi,tenaga survey,praktisi medis,dan perawat.Sudah pasti dengan adanya MRA,profesi-profesi tersebut akan menjadi "most wanted" di era MEA,namun bukannya tidak mungkin untuk masa mendatang akan makin banyak lagi profesi yang memiliki MRA.

Lalu apa bedanya SDM di era MEA dan sebelum MEA?Sudah pasti beda dong.Di era MEA peluang SDM profesional semakin terbuka lebar,baik di dalam maupun di luar negeri.Kalau sebelum era MEA,kualitas SDM lebih banyak ditentukan oleh background pendidikan dan pengalaman kerja,di era MEA kualitas SDM ditentukan oleh 4 hal,yaitu : (1)Kompetensi kerja yang didukung oleh Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) (2)Kemampuan Berbahasa asing (3)Etos Kerja dan (4)Kualifikasi kompetensi yang sesuai dengan pasar kerja Asean.

Nah,yang menjadi permasalahan di Indonesia saat ini adalah tingkat kompetensi tenaga kerja masih di bawah standar dan tenaga kerja yang sudah kompeten belum mendapat pengakuan secara resmi dalam bentuk sertifikat kompetensi.Sebagai contoh,Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri masih didominasi oleh tenaga kerja unskilled atau low skilled.Saat ini,orang melamar pekerjaan hanya berbekal ijazah,syukur-syukur yang sudah punya pengalaman bekerja,kesempatan untuk memperoleh pekerjaan lebih besar,namun bagaimana dengan yang belum punya pengalaman bekerja?Ya tentu saja harus bersabar,karena perusahaan biasanya lebih mengutamakan yang berpengalaman kerja.

Saya teringat bulan Maret lalu ketika Gubernur DIY,yaitu Sri Sultan HB X di sebuah acara resmi menyampaikan pengalaman beliau waktu berkunjung di salah satu negara di Eropa.Waktu itu beliau membawa rombongan penari dari Institut Seni Indonesia (ISI.Perdana Menteri bertanya kepada Sultan mengenai sertifikat kompetensi yang dimiliki oleh para penari-penari tersebut.Tentu saja penari-penari tersebut hanya memiliki ijazah dan belum memiliki sertifikat kompetensi.

Contoh yang lain adalah ketika saya mengikuti sebuah seminar,dimana narasumber menceritakan pengalaman putranya yang sedang menempuh study di Belanja.Suatu hari,putranya membeli buku tentang teknik memijat,dan di waktu senggang dia membaca dan dipraktekkan dengan memijat teman-temannya.Ternyata banyak teman yang cocok dengan pijatannya.Diapun iseng memasang iklan online jasa memijat,dan ternyata peminatnya banyak.Hingga suatu hari dia mendapatkan seorang pelanggan yang merupakan pejabat di Belanda.Pelanggannya tersebut menanyakan sertifikat memijat yang dia miliki,dan karena dia tidak memiliki sertifikat,si pelanggan menyarankan untuk mengurus sertifikat kompentensi memijat.Diapun segera mengurus sertifikat memijat,dan setelah dia memiliki sertifikat,pelanggannya semakin banyak,dengan tarif yang berlipat-lipat.


Selain kompetensi,yang tak kalah penting,yang wajib dimiliki oleh SDM di era MEA ini adalah kemampuan bahasa asing.Akan banyak tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia,begitu juga sebaliknya,tenaga kerja Indonesia profesional juga memiliki kesempatan besar untuk mengisi posisi-posisi strategis di sektor perdagangan dan jasa di Asean.Namun bukan berarti semua tenaga kerja asing bisa masuk ke Indonesia lho ya,semua ada prosedurnya,dan hanya jabatan-jabatan tertentu saja,yaitu tenaga profesional,tidak seperti buruh Cina di Banten tadi,kalau itu sih sudah pasti nggak bener alias ilegal.Dengan adanya arus tenaga kerja profesional,baik masuk maupun keluar,bahasa asing,terutama Bahasa Inggris menjadi sangat penting karena sudah pasti menjadi bahasa yang utama.

Kegalauan teman saya tadi adalah salah satu contoh fenomena yang banyak terjadi di era MEA.SDM di era MEA beda dengan era sebelum MEA.Kalau dulu ijazah plus pengalaman kerja sudah cukup,tapi di era MEA,itu saja tidak cukup.Banyak hal lain yang harus dipersiapkan untuk menghadapi MEA,terutama kualifikasi kompetensi yang ditunjukkan dengan sertifikat kompetensi dan kemampuan bahasa asing juga harus dimiliki.Have a nice day,salam hangat untuk keluarga.







Tuesday, 2 August 2016

Srikandi Belia,Semangatmu Luar Biasa Dek..

Sejak 2 bulan terakhir ini saya berkesempatan untuk menyampaikan salah satu materi pembekalan bagi calon TKI yang akan berangkat ke luar negeri.Pertama kali saya menyampaikan materi,sekitar 2 bulan lalu,saya dibuat makjleb.Kenapa?Begitu saya masuk ruangan,di sana ada sekitar 40an calon TKI yang hampir semuanya adalah gadis berusia belasan tahun yang akan berangkat berangkat bekerja ke Malaysia.Mereka akan bekerja di beberapa kilang (pabrik) elektronik di Malaysia sebagai operator produksi.

Saya bertanya kepada mereka,berapa usia mereka.Sebagian besar dari mereka berusia 19-20an tahun,ada beberapa sih yang lebih dari itu,tapi kebanyakan adalah gadis belia yang baru saja lulus SMU atau SMK,jadi usianya rata-rata 18-19 tahun.Saat bertemu mereka saat itu, tenggorokan saya sakit seperti tercekat,saya terharu sekaligus malu.Betapa tidak,mereka dengan usia semuda itu,memiliki keberanian yang luar biasa,memutuskan untuk bekerja jauh dari keluarga,bukan main-main,tidak hanya di luar kota atau luar pulau,tapi di luar negeri,ya di luar negeri.

Saya teringat ketika saya seusia mereka,baru lulus SMU,jangankan kepikiran cari kerja,yang ada di pikiran ya cuma belajar,main sama teman dan minta uang pada orang tua,itu saja.Saya malu dengan mereka yang masih belia ini,yang dengan semangat dan keberanian luar bisa rela meninggalkan keluarga,teman dan mungkin pacar,untuk mencari nafkah di negeri orang,di saat remaja seusianya melanjutkan study di bangku kuliah atau bersenang-senang.Luar biasa sekali ya mereka ini.

Sebelum menyampaikan materi,saya selalu ngobrol dulu dengan mereka,salah satunya tentang alasan mereka bekerja di luar negeri.Ada banyak alasan yang mendasari tekad gadis-gadis muda ini untuk menjadi TKI,sebagian besar adalah faktor ekonomi.Ya,bisa dibilang sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga yang tidak cukup beruntung secara finansial.Bahkan ada beberapa dari mereka yang berangkat,untuk yang kedua kalinya,artinya sebelumnya mereka sudah pernah bekerja di sana selama 2 tahun,kontrak habis,lalu pulang ke Indonesia dan sekarang ingin berangkat lagi.Alasannya?Karena betah?Belum tentu.Ada yang harus menanggung pengobatan orang tua yang sakit,ada yang harus membayar hutang keluarga,ada yang ingin mengumpulkan modal usaha,dan ada juga yang putus asa karena kesulitan mendapatkan pekerjaan di Indonesia.

sumber : pebisnismuslim.com
Dan sekarang minimal 1-2 minggu sekali saya bertemu dengan srikandi-srikandi belia yang akan bekerja ke luar negeri,yang juga mempunyai semangat dan tekad yang sama dengan srikandi-srikandi yang sudah berangkat sebelumnya.Di sini saya menyebut mereka Srikandi.Srikandi adalah tokoh dalam pewayangan Jawa,yang menjadi suri teladan prajurit wanita.Menurut saya,Srikandi adalah sebutan yang pas bagi gadis-gadis belia yang juga pahlawan devisa ini.

Saat bulan puasa lalu saya juga bertemu dengan mereka yang akan berangkat ke Malaysia,beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri.Kembali tenggorokan saya tercekat.Selama ini saya belum pernah sekalipun merayakan lebaran jauh dari keluarga.Dan mereka,yang masih belia,dan rata-rata belum berkeluarga ini akan merayakan lebaran di tempat baru,tanpa ada keluarga.Sekali lagi hati saya rasanya makjleb,terharu dan malu.Tak bisa saya bayangkan,gadis-gadis belia ini berlebaran di tempat baru dan jauh dari keluarga.

Untuk memotivasi mereka,biasanya saya lebih banyak bercerita tentang success story para TKI yang saya kenal,termasuk cerita tentang TKI yang saya temui saat liburan di Malaysia bulan Mei lalu.Ya,bulan Mei lalu saya berkunjung ke Malaysia bersama suami,dan secara tidak sengaja saya bertemu dan ngobrol dengan seorang TKI asal Jawa Timur yang sudah belasan tahun bekerja di Malaysia,dan bisa dibilang lumayan sukses.Cerita tentang TKI yang saya temui di Malaysia ini selalu saya ceritakan kepada calon TKI yang akan berangkat bekerja untuk memotivasi mereka,supaya mereka di sana fokus bekerja,dan syukur-syukur bisa mengumpulkan modal usaha,supaya kelak tidak perlu berangkat untuk bekerja di sana lagi,syukur-syukur lagi bisa buat biaya melanjutkan kuliah.Saya akan ceritakan pengalaman saya bertemu dengan TKI di Malaysia ini pada postingan saya yang lain.

Saya bersyukur berkesempatan bertemu srikandi-srikandi belia ini.Banyak hal yang saya pelajari dari mereka.Seringkali kita mengeluhkan tentang pekerjaan kita,yang overload lah,unfair lah,yang ga habis-habislah,yang inilah,itulah,tapi pernahkah kita berpikir di luar sana banyak sekali adek-adek kita,teman-teman kita yang harus rela jauh dari keluarga untuk mencari nafkah di negeri orang?Pernah tidak kita berpikir di luar sana masih banyak adek-adek dan saudara kita yang sudah berusaha melamar pekerjaan sana sini tapi belum juga beruntung mendapatkan pekerjaan yang diinginkan?Srikandi-srikandi belia inilah contohnya.Mereka harus bersaing dengan pencari kerja lainnya yang berijazah sarjana,dan jika tidak beruntung mendapatkan pekerjaan di Indonesia,tidak ada pilihan lain selain mencoba peruntungan di negeri tetangga.

Srikandi-srikandi belia tadi merupakan salah satu potret sosial ,mereka harus fight dan rela meninggalkan keluarganya untuk mencari nafkah di negeri tetangga.Ya,ini merupakan salah satu pe er besar pemerintah,tapi bercermin dari itu,seharusnya kita yang bekerja di sini lebih bersyukur.Terima kasih dek,sudah mengajarkan banyak hal.Semoga Tuhan selalu menjaga kalian dan mewujudkan mimpi kalian semua.




Sunday, 31 July 2016

Srikandi Belia,Semangatmu Luar Biasa Dek...

Sejak 2 bulan terakhir ini saya berkesempatan untuk menyampaikan salah satu materi pembekalan bagi calon TKI yang akan berangkat ke luar negeri.Pertama kali saya menyampaikan materi,sekitar 2 bulan lalu,saya dibuat makjleb.Kenapa?Begitu saya masuk ruangan,di sana ada sekitar 40an calon TKI yang hampir semuanya adalah gadis berusia belasan tahun yang akan berangkat berangkat bekerja ke Malaysia.Mereka akan bekerja di beberapa kilang (pabrik) elektronik di Malaysia sebagai operator produksi.

Saya bertanya kepada mereka,berapa usia mereka.Sebagian besar dari mereka berusia 19-20an tahun,ada beberapa sih yang lebih dari itu,tapi kebanyakan adalah gadis belia yang baru saja lulus SMU atau SMK,jadi usianya rata-rata 18-19 tahun.Saat bertemu mereka saat itu, tenggorokan saya sakit seperti tercekat,saya terharu sekaligus malu.Betapa tidak,mereka dengan usia semuda itu,memiliki keberanian yang luar biasa,memutuskan untuk bekerja jauh dari keluarga,bukan main-main,tidak hanya di luar kota atau luar pulau,tapi di luar negeri,ya di luar negeri.

Saya teringat ketika saya seusia mereka,baru lulus SMU,jangankan kepikiran cari kerja,yang ada di pikiran ya cuma belajar,main sama teman dan minta uang pada orang tua,itu saja.Saya malu dengan mereka yang masih belia ini,yang dengan semangat dan keberanian luar bisa rela meninggalkan keluarga,teman dan mungkin pacar,untuk mencari nafkah di negeri orang,di saat remaja seusianya melanjutkan study di bangku kuliah atau bersenang-senang.Luar biasa sekali ya mereka ini.

Sebelum menyampaikan materi,saya selalu ngobrol dulu dengan mereka,salah satunya tentang alasan mereka bekerja di luar negeri.Ada banyak alasan yang mendasari tekad gadis-gadis muda ini untuk menjadi TKI,sebagian besar adalah faktor ekonomi.Ya,bisa dibilang sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga yang tidak cukup beruntung secara finansial.Bahkan ada beberapa dari mereka yang berangkat,untuk yang kedua kalinya,artinya sebelumnya mereka sudah pernah bekerja di sana selama 2 tahun,kontrak habis,lalu pulang ke Indonesia dan sekarang ingin berangkat lagi.Alasannya?Karena betah?Belum tentu.Ada yang harus menanggung pengobatan orang tua yang sakit,ada yang harus membayar hutang keluarga,ada yang ingin mengumpulkan modal usaha,dan ada juga yang putus asa karena kesulitan mendapatkan pekerjaan di Indonesia.


sumber : pebisnismuslim.com
Dan sekarang minimal 1-2 minggu sekali saya bertemu dengan srikandi-srikandi belia yang akan bekerja ke luar negeri,yang juga mempunyai semangat dan tekad yang sama dengan srikandi-srikandi yang sudah berangkat sebelumnya.Di sini saya menyebut mereka Srikandi.Srikandi adalah tokoh dalam pewayangan Jawa,yang menjadi suri teladan prajurit wanita.Menurut saya,Srikandi adalah sebutan yang pas bagi gadis-gadis belia yang juga pahlawan devisa ini.

Saat bulan puasa lalu saya juga bertemu dengan mereka yang akan berangkat ke Malaysia,beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri.Kembali tenggorokan saya tercekat.Selama ini saya belum pernah sekalipun merayakan lebaran jauh dari keluarga.Dan mereka,yang masih belia,dan rata-rata belum berkeluarga ini akan merayakan lebaran di tempat baru,tanpa ada keluarga.Sekali lagi hati saya rasanya makjleb,terharu dan malu.Tak bisa saya bayangkan,gadis-gadis belia ini berlebaran di tempat baru dan jauh dari keluarga.

Untuk memotivasi mereka,biasanya saya lebih banyak bercerita tentang success story para TKI yang saya kenal,termasuk cerita tentang TKI yang saya temui saat liburan di Malaysia bulan Mei lalu.Ya,bulan Mei lalu saya berkunjung ke Malaysia bersama suami,dan secara tidak sengaja saya bertemu dan ngobrol dengan seorang TKI asal Jawa Timur yang sudah belasan tahun bekerja di Malaysia,dan bisa dibilang lumayan sukses.Cerita tentang TKI yang saya temui di Malaysia ini selalu saya ceritakan kepada calon TKI yang akan berangkat bekerja untuk memotivasi mereka,supaya mereka di sana fokus bekerja,dan syukur-syukur bisa mengumpulkan modal usaha,supaya kelak tidak perlu berangkat untuk bekerja di sana lagi,syukur-syukur lagi bisa buat biaya melanjutkan kuliah.Saya akan ceritakan pengalaman saya bertemu dengan TKI di Malaysia ini pada postingan saya yang lain.

Saya bersyukur berkesempatan bertemu srikandi-srikandi belia ini.Banyak hal yang saya pelajari dari mereka.Seringkali kita mengeluhkan tentang pekerjaan kita,yang overload lah,unfair lah,yang ga habis-habislah,yang inilah,itulah,tapi pernahkah kita berpikir di luar sana banyak sekali adek-adek kita,teman-teman kita yang harus rela jauh dari keluarga untuk mencari nafkah di negeri orang?Pernah tidak kita berpikir di luar sana masih banyak adek-adek dan saudara kita yang sudah berusaha melamar pekerjaan sana sini tapi belum juga beruntung mendapatkan pekerjaan yang diinginkan?Srikandi-srikandi belia inilah contohnya.Mereka harus bersaing dengan pencari kerja lainnya yang berijazah sarjana,dan jika tidak beruntung mendapatkan pekerjaan di Indonesia,tidak ada pilihan lain selain mencoba peruntungan di negeri tetangga.

Srikandi-srikandi belia tadi merupakan salah satu potret sosial ,mereka harus fight dan rela meninggalkan keluarganya untuk mencari nafkah di negeri tetangga.Ya,ini merupakan salah satu pe er besar pemerintah,tapi bercermin dari itu,seharusnya kita yang bekerja di sini lebih bersyukur.Terima kasih dek,sudah mengajarkan banyak hal.Semoga Tuhan selalu menjaga kalian dan mewujudkan mimpi kalian semua.



Saturday, 30 July 2016

Karin Fenomena Remaja Cerdas Yang Kebablasan

Belakangan ini netizen dibikin heboh dengan munculnya gadis remaja bernama Karin Novilda atau di dunia maya lebih dikenal sebagai Awkarin.Karin merupakan selebgram karena postingannya di instagram yang cukup menghebohkan.Follower instagramnya mencapai lebih dari 600ribu,dan kebanyakan adalah remaja usia belasan tahun.


sumber :instaliga.com (@awkarin)
Saya sendiri "mengenal" sosok awkarin 3 hari lalu ketika membaca berita di situs online.Sayapun penasaran dan mencari tau tentang sosok awkarin.Awkarin adalah remaja cantik berusia 19 tahun,baru saja lulus SMU,yang saat ini ramai dibicarakan karena kerap memposting foto-foto "menarik" di instragram.Tak jarang Karin memposting foto sexy dirinya.Bahkan dia juga kerap memposting foto vulgarnya bersama sang pacar yang bernama Gaga.Tak heran jika foto yang dia posting selalu mendapat respon dari netizen.Tidak cuma itu,karin juga kerap memvideokan kisah hidupnya,termasuk kisah cintanya dengan Gaga,kemudian diunggah ke youtube dalam bentuk vlog dengan viewer yang mencapai jutaan.Hemmm..sayapun penasaran dan menyempatkan untuk menonton videonya.

Dari beberapa video Karin yang saya tonton,kebanyakan merupakan kisah cintanya dengan Gaga.Bahkan Karin mengumbar gaya pacaran yang cukup vulgar di videonya.Video dan fotonya banyak yang mempertontonkan adegan ciumannya dengan sang pacar,merokok dan kata-kata kasar.Belum lama ini karin juga memamerkan tato bunga yang cukup besar di lengan kanannya.Video yang cukup menghebohkan adalah ketika dia mencoba bunuh diri ketika diputusin pacarnya yang dulu.Video lain yang cukup mengundang perhatian adalah ketika dia mewek-mewek di hari ulang tahun Gaga,sesaat setelah dia diputusin oleh pacarnya ini.Hal ini berbeda dengan video ketika dia tidak lolos seleksi masuk Fakultas Kedokteran UI,dia mengaku kecewa karena tidak bisa mengikuti jejak orang tuanya yang dokter,tapi dia terlihat baik-baik saja,bahkan menyatakan jika dia kuliah kedokteran,dia bakal tidak punya banyak waktu bersama pacarnya.Dan yang cukup mencengangkan ketika di video berjudul "Gaga's Birthday Surprise and My Confessions" dia mengaku menggunakan kunci jawaban untuk mengerjakan UN lalu,karena malamnya bertemu dengan pacarnya sehingga tidak sempat belajar.ckckckck...

Banyak orang menganggap Karin adalah sosok remaja labil.Lalu siapa sih sosok Karin ini?Dari berbagai sumber di internet saya memperoleh info ternyata Karin dulunya adalah siswi berprestasi.Dia mencapai nilai UN tertinggi pada waktu SMP di Tanjung Pinang,Kepri dan menjadi nilai tertinggi ketiga se Provinsi Kepri.Saat itu Karin sempat diwawancari oleh salah satu stasiun televisi.Sayapun sempat melihat video tersebut.Di video itu,Karin tampil berjilbab,didampingi oleh ibunya dan menyatakan bahwa untuk menghadapi UN saat itu dia bahkan "puasa" dari segala medsos alias media sosial.Penampilan Karin saat itu berbeda sekali dengan penampilannya sekarang yang berambut pirang,jauh lebih putih dan modis dengan dandanan kekinian.Setelah lulus SMP dia melanjutkan SMU di Jakarta,dan 3 tahun kemudian muncul dan menjadi populer sebagai seleb-gram dengan postingan foto dan videonya yang menuai kontroversi.

Ya,Karin adalah contoh remaja kekinian yang saat ini lebih dikenal sebagai "Generasi Swag".Menurut kamus Bahasa Inggris, "swag" berarti barang curian,akan tetapi di lingkungan pergaulan abg,istilah "swag"digunakan untuk menyebut sesuatu yang keren.Istilah "swag" menjadi populer setelah muncul dalam lirik lagu-lagu Justin Bieber yang mengartikan "swag" adalah menjadi diri sendiri dan tidak perlu berusaha untuk menjadi spesial.Seseorang yang dianggap sebagai swagger berarti dia memiliki kelebihan,rasa percaya diri yang tinggi,style yang keren dan pesona yang membuatnya memiliki banyak fans (http://www.femina.co.id/trending-topic/fenomena-karin-awkarin-novilda-dan-generasi-swag-inilah-7-alasan-kenapa-para-orang-tua-perlu-cemas-.

Karin merupakan contoh generasi Swag di Indonesia.Saat menonton videonya,saya sempat "takjub" melihat gaya hidup dan pergaulan Karin yang menurut saya sangat "wow".Mungkin saya yang ndeso atau tidak gaul,karena di Jogja saya kurang familiar dengan gaya anak muda yang seperti sinetron seperti itu.Saya takjub melihat kehidupan dan pergaulan Karin dengan teman-teman dan pacarnya yang identik dengan party dan gaya hidup glamour,yang ternyata memang benar-benar ada,tidak hanya di sinetron saja.Coba perhatikan di setiap vlog nya,mobil yang dipakai Karin dan pacarnya selalu ganti-ganti dan semuanya keren.

Karin mendapat banyak respon negatif karena ulahnya di medsos.Kebanyakan menghujat dia karena dianggap memberi contoh yang tidak baik kepada followernya yang kebanyakan adalah abg.Saya pribadi,menilai Karin adalah remaja cerdas.Ya,secara akademis tentu saja dia cerdas,hal itu ditunjukkan dengan prestasinya meraih nilai UN tertinggi pada waktu SMP.Tak hanya itu,Karin pun bisa memanfaatkan medsos menjadi sumber penghasilannya.Dengan postingan-postingannya yang "menarik",banyak brand yang mengendorse Karin,pun hasil subscribe Youtube yang konon katanya 15juta an/bulan,dan konon katanya lagi Karin sudah bisa beli rumah dari penghasilannya sendiri.Woww..kita yang kerja keras aja kalah ya,hehehe.

Ya,Karin adalah contoh remaja masa kini yang cerdas,tapi kebablasan,ini istilah saya.Di usia yang masih sangat muda dia tinggal di kota besar dan terpisah dari orang tuanya.Karin yang dulu cupu mengenal dan mencoba banyak hal baru di kota besar,tanpa menfilternya terlebih dahulu,karena usianya yang masih sangat muda.

Fenomena populer dan sukses secara instan melalui medsos dan youtube yang menjamur di Indonesia,menginspirasi Karin.Di salah satu videonya Karin mengatakan bahwa dengan hanya bersenang-senang bersama teman-teman dan pacarnya dia bisa menghasilkan uang dan mempunyai banyak penggemar.Karin menjadi idola baru bagi followernya yang hampir semuanya adalah abg yang masih imut-imut dan saat ini sedang giat-giatnya belajar di sekolah,tentu hal ini menjadi hal yang cukup mengkuatirkan.

Gaya pacaran yang vulgar dan mengumbar kemesraan yang tak wajar untuk remaja usia belasan tahunpun bukan tak mungkin akan menginspirasi para abg yang menganggap itu suatu hal keren.Siapa sih yang gak pengen punya pacar ganteng,keren,kaya seperti pacar Karin, begitu kira-kira yang dipikirkan para abg ketika melihat foto atau video Karin.

Karin yang hobi membagi kehidupan pribadinya di medsos membuat dirinya menjadi bak seleb yang selalu ditunggu-tunggu postingannya oleh para followernya.Tentu saja postingannya menuai kontroversi pro dan kontra bahkan hujatan dan bullying.Di salah satu videonya Karin menyatakan kecewa dengan orang-orang yang menghujatnya,namun di sisi lain kontroversi yang dibuatnyalah yang mengundang hujatan dan bully an tersebut.

Karin mungkin hanya satu contoh generasi swag di Indonesia.Saya yakin di kota-kota lainpun banyak sekali remaja seperti Karin,yang terinspirasi artis idolanya dan untuk menjadi populer seperti idolanya,namun dengan cara yang salah tapi keren menurut mereka.Dan bergesernya kebanggaan orang tua maupun si anak,yang jaman dulu rata-rata bangga karena prestasi akademik namun sekarang bergeser pada kebanggaan atas kemandirian secara finansial.Orang tua bangga ketika si anak bisa menghasilkan uang di usia muda,begitu juga si anakpun akan bangga ketika dia bisa menghasilkan uang sendiri di saat anak-anak seusianya masih dijatah oleh orang tuanya.Hal yang normal bukan?

Menjadi orang tua itu tidak mudah ya.Ada banyak tanggung jawab yang harus kita pikul.Saya sering membayangkan,saat ini Juno (baru)hampir 3 tahun,ini saja saya sudah sering merasa "kerepotan" ketika dia mulai "bertingkah",tidak mau mandi,tidak mau pakai baju yang kita pilihkan atau tidak mau makan,lalu bagaimana kalau anak kita sudah menginjak usia remaja?Di saat dia akan bertemu banyak teman baru,hal baru,ingin mencoba semua yang menarik menurut dia?Di saat dia sudah bisa memilih yang menurutnya baik?Tentu saja itu adalah tugas berat kita sebagai orang tua untuk mendampingi mereka melalui masa-masa itu.

Melihat fenomena Karin,saya melihat sosok Karin adalah remaja yang cerdas,lepas dari segala kontroversi yang dibuatnya.Karin yang cerdas bertemu banyak hal dan orang baru.Apalagi jauh dari keluarga,banyak hal yang menurutnya keren pun dicobanya.Tidak salah,wong saya juga pernah seusia Karin,masa remaja adalah masa yang sulit.Saya pernah penasaran sama yang namanya pacaran,walaupun saat seusia Karin tidak ada cowok yang mau jadi pacar saya,karena saya tidak pinter dandan dan tidak gaul seperti Karin,jadi saat seusia Karin,bukan karena diputusin cowok saya mewek-mewek,tapi karena nilai matematika saya di rapor dapat 5.Seusia Karin saya juga pengen pakai baju yang modis dan sexy,tapi sayangnya uang saku saya dulu hanya cukup untuk jajan di kantin,tidak ada budget untuk ke salon ataupun beli baju-baju yang modis.Seusia Karin,saya juga pengen populer,sayangnya dulu waktu sekolah saya sangat cupu dan minder sehingga teman seangkatan waktu sekolah pun banyak yang tidak mengenal saya,begitu juga teman kuliah saya dulu.Hiks hiks..tragis banget ya.

Karin mempunyai kesempatan lebih awal untuk mengenal pacaran atau istilah Karin #relationshipsgoal.Karin mempunyai fasilitas dan kesempatan untuk masuk ke dalam pergaulan anak gaul kekinian yang serba glamour dan hoby party.Mungkin saya yang dulu atau remaja lain seusia Karin yang memiliki fasilitas dan kesempatan seperti Karin,bisa saja menjadi seperti Karin sekarang,yang populer sebagai generasi swag.Bukan salah Karin juga,jika dia yang dulu siswi berprestasi peraih nilai tertinggi UN,sekarang menjadi Karin yang gaul dan icon remaja kekinian.Well..Karin hanyalah salah satu "korban" minimnya idola remaja dan era digital yang memberikan kemudahan dan kesempatan kepada anak-anak kita untuk melihat,meniru dan menjadikan dirinya menjadi apa yang menurut mereka cool atau keren.Lha gimana ga ditiru wong tiap hari televisi menyuguhkan sinetron seperti itu,dan untuk mengakses apa saja di internet sangat mudah.Apa sih yang ga mungkin untuk saat ini?

So..daripada kita menghujat Karin dan anak jaman sekarang yang sudah terlewat gaul,lebih baik kita sebagai orang tua introspeksi,apakah yang salah sehingga anak sekarang menjadi cenderung bertingkah "frontal".Kalau memang karena era digital dan medsos,tentu itu bisa diantisipasi kan?Tapi kalau itu dikarenakan minimnya idola atau panutan?Ini tugas kita,bagaimana bisa menjadi orang tua,sahabat sekaligus panutan bagi anak kita.

Saat menulis ini,saya sedang menemani Juno yang asik menonton Upin Ipin di televisi,saya tertegun sejenak memandang Juno,membayangkan beberapa tahun ke depan ketika dia memasuki usia remaja.Sebagai orang tua tentu saja saya berharap Juno nanti bisa berhasil secara akademis dan menjadi "seseorang" sesuai harapan kami,tapi ada harapan kami yang besar lagi,saya dan papinya,ingin nantinya Juno menjadi orang yang santun,bersahabat dan tangguh.Nahh..itu dia,tugas dan tanggung jawab berat kita sebagai orang tua di depan mata.Have a nice weekend,salam hangat untuk keluarga.

Monday, 25 July 2016

Sop Ayam Padhang Atine Jalan Taman Siswa

Beberapa teman bertanya kepada saya "Heny,katanya kamu diet kok posting tempat makan melulu sih?"Sayapun bingung mau jawab apa,lalu saya jawab saja "Diet iya,tapi bukan berarti ga boleh makan makanan yang enak-enak juga kan?Bolehlah paling ngga 1 minggu sekali makan makanan yang disukai".Jawaban saya cukup masuk akal kan?hehehe...

Kali ini saya mau share satu tempat makan favorit saya yang lain.Menu kali ini sop.Iya,sop ayam dan sop daging.Sebenarnya di Jogja ada beberapa tempat makan dengan menu sop yang menjadi favorit saya,dan kali ini saya akan ulas salah satunya.Namanya Warung Sop Padhang Atine.Dari namanya aja sudah menarik ya.Padhang Atine merupakan bahasa Jawa yang berarti Terang Hatinya.Kira-kira maksudnya apa ya si pemilik menamakan warungnya dengan nama ini?


sop ayam Padhang Atine di Jl,Tamansiswa
Warung makan Padhang Atine berada di Jalan Tamansiswa No.170 Yogyakarta (saya agak ragu dengan nomornya),lokasinya dari Fakultas Hukum UII ke utara sekitar 200 meter,kiri jalan,sebelum Toko Batik Yudhistira.Menu utamanya adalah sop ayam,yang terdiri dari sop ceker,sop kepala,sop sayap,sop paha,sop dada,sop ati ampela dan kombinasi di antaranya.Selain sop ayam,ada juga menu lainnya yaitu sop daging,sop iga,ceker goreng,ayam goreng,belut goreng,wader goreng dan tahu tempe goreng.

Sebenarnya saya sudah lama saya mengenal warung makan ini,kira-kira sudah 7 tahunan lah,dari jaman pacaran sama Papi Juno.Waktu itu yang merekomendasi adalah teman saya yang bernama Mbak Siti(Hai mbak Siti,apa kabar?Warung Sop Padhang Atine tidak terlalu besar,kira-kira cukup lah untuk kapasitas 30 orang,ada lesehan,ada juga meja kursi.

Kalo ngomongin soal bagian tubuh ayam,pasti setiap orang punya favorit masing-masing ya,begitu juga saya.Well...kali ini saya akan membuka salah satu rahasia saya.Ssssttt...saya penggemar kepala ayam.Sejak kecil bagian tubuh ayam inilah favorit saya.Tapi kalo lagi makan dengan teman,biasanya saya jaim alias jaga image.Jadi walaupun ada menu kepala ayam,saya ga bakal pesan yang ini,hehehe.

Sayang,waktu kemarin saya ke sana,sop kepala ayamnya sudah habis,jadi saya menggantinya dengan sop sayap,saya pesan 1 porsi untuk berdua dengan Juno.Suami saya pesan sop ati ampela,dan tak lupa kami memesan ceker goreng.Selain potongan ayam,sopnya berisi kentang,wortel,tomat,rolade dan telur puyuh.Kuahnya yang panas terasa gurih dan segar,ditambah sambal tomatnya,hemmm...pokoknya dijamin kemepyar alias padhang/terang,cocoklah buat makan siang atau makan malam.Tapi 1 hal yang kurang oke dari Padhang Atine,yaitu nasi nya yang kurang pulen.Oiya,Warung Sop Padhang Atine buka pada jam 11.00 s/d 21.00.


sop ati ampela (Rp 8.500)

sop sayap (Rp 8.500)
ceker goreng (Rp 6.500)
Harganyapun standar,sesuai dengan kantong mahasiswa lah.Harga 1 porsi sop sayap dan sop ati ampela hanya Rp 8.500/porsi,ceker goreng hanya Rp 6.500/porsi,jadi hanya dengan 30ribuan sudah kenyang makan berdua.Nahhh...bagi yang pengen kuah-kuah panas,segar,dan kemepyar,silahkan mencoba Sop Padhang Atine di Jalan Tamansiswa,Yogyakarta.




Sunday, 24 July 2016

Terima Kasih Prof...

Sabtu tanggal 23 Juli kemarin saya  mendapat kesempatan untuk memberikan kuliah umum di pra yudisium MM.Jujur saja,waktu diminta oleh Profesor saya untuk mengisi,saya bingung materi apa yang akan saya sampaikan,apalagi ini di depan calon wisudawan Pasca Sarjana.Saya ini siapa sih?Begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran saya.Akhirnya saya putuskan untuk menyampaikan materi yang masih lumayan nyambung dengan bidang kerja saya,yaitu Sumber Daya Manusia (SDM).

Ada sekitar 20an calon wisudawan yang mengikuti pra yudisium ini,dan saya melihat wajah-wajah bahagia di sana.Saya teringat tahun lalu ketika saya berjuang menyelesaikan tesis,ketika saya harus membagi peran menjadi seorang ibu,istri,pekerja dan mahasiswi.Bukan hal yang mudah,karena masing-masing peran mengandung tanggung jawabnya masing-masing.Saya sempat stuck dan tidak menyentuh tesis selama beberapa bulan dikarenakan kesibukan dan banyak hal lain.Sebagai seorang ibu tentu beda dengan yang masih single,yang bisa kapan saja buka laptop.Saya baru bisa buka laptop dengan tenang setelah Juno tidur,ato kalo nekat buka laptop di saat dia belum tidur,sudah bisa ditebak deh,pasti dia bakal melakukan apapun supaya emaknya tidak sibuk dengan laptopnya.Tak jarang saya harus begadang sampai pagi,dan paginya langsung bersiap ke kantor.Ya,itu sedikit cerita bagaimana saya berjuang menyelesaikan tesis waktu itu.

Kemarin,saya seperti flashback ke masa itu,mengingatkan saya pada masa-masa ketika energi saya benar-benar tercurah untuk itu,di samping harus membaginya dengan peran yang lain,yaitu sebagai ibu,istri dan pekerja.Dan itu semua terbayar ketika akhirnya saya bisa lulus.Puas,bahagia,haru semuanya bercampur menjadi satu.Saya bisa melaluinya.Itu yang saya rasakan waktu itu.
Dan kemarin,saya juga merasakan kebahagiaan para calon wisudawan yang telah berjuang melalui masa-masa berat,seperti yang saya lalui tahun lalu.

Ada satu hal yang menyentuh saya,ketika Prof.DR.Heru Kurniato Tjahjono,MBA yang juga dosen pembimbing saya menyampaikan sambutan,yang intinya kira-kira begini :ilmu bisa saja menjadi sarana untuk meraih materi,karier atau jabatan,tapi itu bukanlah yang utama.Dengan ilmu seharusnya kita bisa memberikan manfaat untuk sekitar kita.Dengan ilmu seharusnya kita bisa melakukan sesuatu yang lebih besar lagi,yaitu kemanusiaan.

Ya,Prof.Heru adalah salah satu sosok yang menginspirasi saya sejak awal kuliah S2.Beliau juga yang selalu mensupport saya sehingga saya bisa menyelesaikannya.Dan karena beliau jugalah saya termotivasi untuk melanjutkan study.Saya selalu ingat pesan beliau yang disampaikan kepada kami pada saat kuliah dulu,dan beliau mengulangnya kemarin,yaitu hendaknya kita selalu peaceful inside,fighter outside,apapun kondisi kita,hati harus selalu damai,begitu kira-kira.

Saat ini saya masih belajar dan berproses untuk itu.Tidak mudah ya ternyata,sama halnya ketika kita belajar ilmu ikhlas.Sering saya diskusi dengan suami mengenai definisi "bahagia" dan entah mengapa kami berdua sering mengidentikkan definisi "bahagia" itu dengan sosok petani di desa yang menghabiskan harinya dengan bekerja di sawah,lalu istrinya mengantar makan siang sederhana,dan dimakan bersama,lalu sorenya pulang ke rumah,dan melepas lelah bersama keluarga.Hemm..sepertinya klasik banget ya.Ya,itu kan cuma gambaran kami saja,hehehe.Tapi dari gambaran itu,kami berdua bisa mendefinisikan bahwa kebahagiaan tidaklah selalu tentang seberapa banyak materi yang dimiliki,atau di level mana kita berada,namun seberapa besar rasa syukur kita dengan apa yang kita miliki.Bahagia itu muncul ketika apa yang kita miliki atau apa yang kita peroleh itu cukup menurut takaran kita,bukan takaran orang lain.Toh yang bisa mengukur kebahagiaan kita ya kita sendiri kan?Bukan orang lain.

sumber : www.kyaikuhebat.com
Terima kasih Prof,telah memberikan banyak pencerahan kepada saya.Saya akan terus belajar dan berproses untuk lebih bersyukur,untuk lebih bermanfaat,dan tentu saja peaceful inside,fighter outside.