expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Wednesday, 17 August 2016

Peringatan 17 Agustus : Merdeka itu...

Beberapa hari ini atau bahkan sudah dimulai sejak beberapa minggu yang lalu,seluruh daerah di Indonesia disibukkan dengan berbagai acara,dalam rangkaian peringatan 17an (baca : tujuh belasan).Mulai dari RT,RW,dusun,desa/kelurahan,kecamatan,semuanya sibuk menyambut tanggal yang sakral bagi seluruh rakyat Indonesia ini.Dan hari ini adalah puncaknya,instansi-instansi dan sekolah-sekolah melaksanakan upacara bendera untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik tercinta.Sayapun tidak ketinggalan,tadi pagi saya mengikuti upacara bendera di instansi tempat saya bekerja,walaupun saya datangnya sedikit terlambat sih tadi,tapi tak apalah,hehehe.

Dulu jaman sekolah,upacara bendera mungkin menjadi hal yang biasa ya,atau malah kita seringkali malas untuk mengikutinya,karena selain seminggu sekali,harus berpanas-panasan,malas juga dengerin amanat dari pembina upacara yang kadang lama bingit,kaki udah pegel banget rasanya.Berbeda dengan sekarang,upacara itu menjadi hal yang spesial buat saya,dan mungkin juga buat yang lain,karena setahun hanya beberapa kali saja upacara pas hari besar,termasuk salah satunya ya hari ini,tanggal 17 Agustus.Jadi sebisa mungkinlah ikut upacara,apalagi ini kan memperingati hari kemerdekaan,jadi sepertinya tidak ada alasan untuk tidak ikut upacara walaupun sebenarnya hari ini adalah tanggal merah.

Kesibukan menyambut peringatan hari kemerdekaan juga terjadi di perumahan tempat saya tinggal,mulai dari lomba anak-anak,lomba couple (pasangan),jalan sehat,malam tirakatan,dan tadi sore adalah puncaknya,yaitu pasar rakyat dan pentas seni yang dimeriahkan oleh organ tunggal.Jujur,saya dan suami bukan termasuk orang yang aktif dalam kegiatan di lingkungan tempat tinggal,dan ini lebih karena alasan waktu dan kesibukan saja,jadi untuk beberapa kegiatan seperti lomba couple dan jalan sehat minggu lalu kami tidak bisa mengikutinya.Seperti di tempat lain,tadi malam,perumahan tempat kami tinggalpun mengadakan malam tirakatan.Selain pentas seni anak-anak,pembagian hadiah lomba,juga sebagai ajang silaturahmi di antara warga perumahan.Di ujung acara,kami menonton video rekaman malam tirakatan tahun lalu,dimana banyak adegan lucu yang bikin kami tertawa.


sumber : www.rupawa.com 
Berbicara tentang tirakatan,sebenarnya tirakatan itu apa sih?Kenapa setiap tanggal 16 Agustus malam,banyak tempat mengadakan malam tirakatan?Istilah "tirakatan" sebenarnya berasal dari bahasa Arab yaitu Thariqat-Thariq,yang berarti "jalan".Secara definitif,Thariqat dapat diartikan sebagai suatu perjalanan mencari nilai-nilai kebenaran.Terkait hal tersebut,malam tirakatan tujuh belasan,bisa diartikan sebagai suatu kegiatan untuk memperoleh nilai atau spirit dari pencapaian kemerdekaan,dengan adanya kegiatan tersebut,diharapkan kita dapat mengambil nilai-nilai dan spirit tersebut untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,begitu kira-kira.

Sore tadi adalah puncak acara tujuhbelasan di tempat saya tinggal.Perumahan kami mengadakan "Pasar Rakyat" dan panggung kesenian yang dimeriahkan oleh organ tunggal.Konsep pasar rakyat di sini adalah setiap tiga KK menyediakan makanan dan minuman gratis bagi pengunjung.Hemmm...seru ya.Yang paling ditunggu-tunggu,ya pastinya kedua penyanyi organ tunggalnya,yang berpenampilan sexy,cukup menghibur dan menghipnotis,terutama para bapak,hehehe.

Lepas dari semua kesibukan dan kemeriahan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia,sebenarnya makna kemerdekaan itu apa sih?Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),merdeka berarti a 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri: sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 itu, bangsa kita sudah --; 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan: -- dari tuntutan penjara seumur hidup; 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa (http://kbbi.web.id/merdeka.
Jadi "merdeka" bisa diartikan sebagai suatu kondisi bebas dari penjajahan,tuntutan,tidak terikat dan tidak bergantung kepada orang atau pihak lain.

Negara yang merdeka,sudah pasti negara yang bebas dari segala bentuk penjajahan,dan berdiri sebagai negara yang berdaulat.Kemerdekaan sangat erat kaitannya dengan hak-hak warga negara,termasuk di dalamnya adalah hak wanita.Jaman dulu,ada banyak hal yang membatasi hak-hak kaum wanita seperti hak untuk mendapatkan pendidikan,hak untuk menyampaikan pendapat,maupun hak untuk menentukan pilihan hidup.Dengan alasan adat istiadat dan norma-norma yang mengakar di masyarakat,jaman dulu banyak wanita yang mengorbankan hak-haknya.


Namun tentu saja sekarang kondisinya berbeda,wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki pada hampir semua aspek kehidupan.Wanita bisa berkarier,berkarya dan melakukan banyak hal penting lainnya.Saya sangat setuju dengan pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,Ibu Yohana Yembise yang menyatakan "Wanita yang merdeka adalah wanita yang secara bebas mendapatkan haknya untuk menyampaikan pendapat,bebas berekspresi dan bebas menggunakan potensi yang dimiliki untuk ikut membangun negara ini,wanita merdeka adalah mereka yang merasa nyaman,tenang dan bahagia" (http://lifestyle.okezone.com/read/2016/08/16/196/1465364/eksklusif-arti-wanita-merdeka-menurut-menteri-yohana-yembise.


Merdeka bukan berarti wanita menginginkan kebebasan yang sebesar-besarnya,tapi merdeka disini cukup memberikan kesempatan kepada kaum wanita untuk melakukan hal baik dan penting baginya dan keluarga,tanpa harus meninggalkan kodratnya.Merdeka bukan berarti wanita tidak ingin diatur oleh lelaki,tetapi merdeka di sini cukup memberikan kesempatan kepadanya untuk berbicara dan didengar.Merdeka itu bisa mengekspresikan diri.Merdeka itu bisa menjadi dirinya sendiri.Merdeka itu mendapat dukungan,ketika ingin melakukan hal positif yang baik bagi diri dan keluarganya.Merdeka itu bisa mengembangkan potensinya.Mengutip ucapan Ibu Yohana Yembise,merdeka itu...nyaman,tenang dan bahagia.

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71.









Saturday, 13 August 2016

Kekerasan Orang Tua Murid Terhadap Guru : Kenapa Anak Sekarang Pada Lebay?

Lagi-lagi dunia pendidikan kita tercoreng dengan adanya kekerasan terhadap guru oleh orang tua siswa dan anaknya.Ya,beberapa hari lalu seorang guru SMK di Makasar dipukul oleh ayah dari muridnya sendiri.Alasannya klise,si anak tidak tidak mengerjakan tugas,kemudian Pak Guru menegurnya,namun si anak justru mengucapkan kata-kata kasar.Pak Guru menepuk pundaknya dan menyuruhnya keluar kelas dengan maksud untuk memberi pelajaran.Namun si anak tidak terima menelpon ayahnya menceritakan kejadian tersebut,si ayahpun geram dan bergegas ke sekolah dan memukul Pak Guru yang saat itu sedang mengajar.Saat ini kasus ini sudah ditangani oleh kepolisian.

Beberapa bulan lalu,seorang guru matematika diseret ke Pengadilan karena tuduhan mencubit siswanya.Kejadian itu terjadi ketika si anak diketahui gurunya "nongkrong" di saat kegiatan Sholat berjamaah.Bermaksud menegur si anak,Pak Guru mendekatinya dan mencubit siswa tersebut.Tak terima dengan perlakuan gurunya si anakpun lapor kepada ayahnya yang seorang TNI AD,lantas melaporkan guru tersebut ke polisi dengan tuduhan penganiayaan.

Itu hanya beberapa contoh saja sebenarnya,banyak sekali kejadian serupa yang diangkat ke media belakangan ini.Ada apa sih sebenarnya?Kenapa anak sekarang begitu mudahnya se-emosi itu?
Saya masih ingat ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD),pada saat kelas 1 hingga kelas 3,guru saya secara rutin pada hari Senin memeriksa kuku tangan kami,jadi pada hari minggunya saya dan teman-teman akan mempotong kuku dengan rapi untuk diperiksa guru besok paginya.Kalau guru mau memeriksa kuku,kedua tangan kami letakkkan di atas meja,lalu guru memeriksa satu-satu sambil membawa penggaris kayu.Jadi kalau ada yang lupa memotong kuku,siap-siap aja meringis karena jari tangan pasti dipukul oleh guru saya dengan penggaris kayu tersebut.Walaupun tidak keras,tapi untuk anak umur 7 tahunan,lumayan juga lho penggaris kayu itu dipukulkan ke jari-jari kami waktu itu.Yang kena ya,terpaksa nyengir,plus bonusnya diketawai teman sekelas.Saya juga pernah merasakan dipukul beberapa kali.Herannya,walau lumayan sakit,tidak pernah ada yang nangis lho,apalagi ngadu ke orang tua lalu orang tuanya datang ke sekolah untuk memarahi gurunya,ngga pernah ada sekalipun.

Ada juga guru SD saya yang "hobinya" menarik/menjambak kuncir rambut ekor kuda murid perempuan dan menjewer telinga murid laki-laki yang berisik,tidak mengerjakan pe er atau tidak bisa mengerjakan soal di papan tulis.Dijambak atau dijewer itu ga ada apa-apanya dibandingkan malunya diketawain teman sekelas,hehehe.Dan seingat saya dulu juga tidak pernah ada yang menangis atau lapor orang tuanya,lalu datang dan mencak-mencak di sekolah.

Pada saat SMP,guru saya banyak yang galak.Ada yang "hobinya" memberikan hukuman dengan "menjemur" siswanya di halaman basket hingga jam pelajaran berakhir bagi siswa yang tidak mengerjakan pe er atau terlambat masuk kelas,ada yang hobi menyuruh siswanya tidak boleh mengikuti pelajaran,dan saya sendiri pernah dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran olah raga hanya karena saya terlambat ke halaman sekolah karena ganti baju olah raganya kelamaan,hehehe.Dan kayaknya hukuman fisik seperti dijemur di lapangan,dipukul dengan penggaris kayu,dilempar penghapus atau kapur,jaman dulu itu biasa banget,dan bisa dibilang ga pernah ada masalah atau kasus karena hal ini.

Jaman SMU lain lagi,hukuman fisik sepertinya sudah sangat jarang waktu itu,kalau ada murid yang bandel,paling guru hanya menegur dengan kata-kata saja.Dulu waktu SMU saya sering ditegur guru karena suka ngobrol dengan teman sebangku saya pas jam pelajaran.Pernah juga ada teman saya yang waktu itu rambutnya dicat biru,oleh guru langsung disuruh pulang dan di skors 1 minggu kalau tidak salah.Dan setelah itu ya ga ada masalah.
Entah kenapa jaman saya dulu,ketika mendapat teguran atau hukuman guru di sekolah,kami jarang sekali atau bahkan tidak pernah sekalipun melapor ke orang tua.Kenapa?Karena kami tahu,bukannya dibelain,tapi justru malah bakalan tambah diomelin,jadi keep silent is the best pada waktu itu,hehehe.

Apa yang saya alami dulu sangat berbeda dengan apa yang terjadi sekarang.Kasus-kasus kekerasan terhadap guru tadi contohnya,hanya karena hal sepele,siswa menjadi sangat emosi dan melapor kepada orang tuanya.Ya sih,orang tua mana yang gak emosi dapat laporan dari anaknya kalo dia baru saja mendapat hukuman dari gurunya?Wajar sih,tapi kenapa harus dengan kekerasan?Tentu saja guru jaman sekarang dan jaman dulu tidak bisa disamakan.Orang tua jaman sekarang dan jaman dulu tidak bisa disamakan,termasuk anak sekarang tentu saja berbeda dengan anak jaman dulu.Begitu pula kurikulum pendidikan dan cara didikan orang tua dulu dan sekarang sangat jauh berbeda.Kalau dulu mendidik anak ya gitu-gitu aja turun temurun,anak diberi sedikit kesempatan untuk memiliki inisiatif sendiri atau bahkan tidak sama sekali.Semua harus ngikut apa kata ortu,harus nurut,begitu kira-kira.Berbeda dengan jaman sekarang,orang tua sudah lebih banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berinisiatif,berpendapat dan memiliki pilihan sendiri untuk banyak hal menyangkut dirinya.

Guru jaman dulu juga beda dengan jaman sekarang.Kalo dulu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) lebih cenderung satu arah,sekarang murid diharapkan lebih aktif mengikuti KBM.Begitu juga,kalau dulu guru itu adalah orang tua kita di sekolah,sekarang hubungan guru dan murid cenderung lebih santai atau non formal.Banyak guru yang dianggap sebagai teman atau sahabat oleh murid-muridnya.Tak jarang guru dan muridpun aktif di pertemanan sosmed.

Anak jaman sekarang sudah pasti jauh berbeda dengan anak jaman dulu,tidak hanya karena jaman yang sudah berubah,tapi karena perkembangan teknologi.Adanya sosmed membuat semua hal menjadi lebih terbuka dan bergeser.Apa yang dulu dianggap tabu,sekarang ngga tabu lagi.Kalau dulu jaman saya,kalau curhat ya di buku harian,anak sekarang mana ada yang punya buku harian,curhatnya ya di medsos.Bahkan tak jarang kita melihat ada anak sekolah yang nyetatus mengumpat teman atau bahkan gurunya.Disinilah banyak nilai-nilai yang bergeser dan berubah,entah itu lebih baik atau justru merupakan kemunduran,tergantung penilaian masing-masing.


sumber : www.beritaviral.org
Saya menggunakan istilah "lebay".Lebay dapat diartikan melebih-lebihkan sesuatu.Bisa jadi pergeseran nilai-nilai yang ada di masyarakat,tidak hanya karena perkembangan jaman dan teknologi saja,tapi bisa jadi disebabkan karena kita sering lebay dalam menyikapi sesuatu.Coba bayangkan,jaman sekarang hal ga penting pun bisa menjadi sesuatu yang heboh di medsos.Sedikit-sedikit update status di medsos (termasuk saya kayaknya,hehehe),nyari info apa saja tinggal klik google,mulai dari resep masakan,obat-obatan,kosmetik,tips ini itu,termasuk tips cara mendidik anak,yang gawatnya tips-tips tersebut belum tentu bisa dipakai semua orang.Ya,kita memang sering lebay dalam menyikapi sesuatu,dan tentu saja itu diikuti oleh anak-anak kita.Contohnya banyak,termasuk kasus kekerasan orang tua murid terhadap guru tadi.Si anak lebay dalam menyikapi teguran gurunya,orang tua lebay dalam menyikapi laporan anaknya,dan mungkin juga gurunya lebay juga dalam menyikapi muridnya,dan itu saling berpengaruh satu sama lain.Tak ada gunanya saling menyalahkan,sudah seharusnya kita sebagai orang tua introspeksi,apa yang menyebabkan anak-anak sekarang cenderung lebay dalam menyikapi sesuatu,bisa jadi kita sendiri yang membuat mereka menjadi demikian.Have a nice weekend.

Menanggapi Status Pak Zaim Saidi : PNS Parasit

Minggu lalu saya membaca artikel tentang kritik Prof.Fahmi Amhar mengenai status facebook Bapak Zaim Saidi tanggal 3 Agustus lalu.Saya tahu artikel ini setelah membuka link yang dishare oleh seorang teman di sosmed Facebook.Emang dasar saya orangnya kepo,sayapun langsung cek facebook nya Pak Zaim Saidi.Ternyata memang benar,tanggal 3 Agustus lalu Pak Zaim nyetatus yang screenshootnya udah beredar luas itu.Iya bener,status yang menyebut PNS itu parasit bagi warga lain.Menurut Pak Zaim Saidi tiap tahun negara menghabiskan anggaran sekitar Rp 350 triliun (hanya) untuk menggaji 4.5 juta PNS,namun yang diterima warga justru sebaliknya,keribetan,gangguan,pungli,pemerasan dan kesulitan.Begitu lah status facebook Pak Zaim Saidi pada tanggal 3 Agustus lalu.Hemmm...


sumber :www.bringislam.web.id

Jujur saya pribadi kurang mengenal sosok Pak Zaim Saidi,atau emang saya yang kurang update ya?Hehehe.Dari facebooknya ini saya baru tau kalo Pak Zaim sering nyetatus kritik sosial yang cukup "pedas",termasuk kritik terhadap PNS,salah satunya ya yang rame tadi, tentang PNS parasit.Status itu mendapat respon sekitar 1.000 fesbuker,ada yang pro,ada pula yang kontra.

Oke,di sini saya tidak akan bahas tentang Pak Zaim ya,karena saya juga tidak begitu mengenal beliau,tapi saya cukup tersentil dengan status beliau itu,bukan karena saya sendiri seorang PNS,tapi lebih kepada alasan kenapa Pak Zaim menggunakan istilah "parasit" bagi sebagian besar dari 4.5 juta PNS di Indonesia.Sebagai informasi,status ini sempat diedit oleh beliau dengan menambahkan kata "sebagian besar".Istilah "sebagian besar" berarti lebih dari setengah lah ya.Sebenarnya parasit sendiri apa sih artinya?Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) parasit diartikan sebagai benalu; pasilan; 2 organisme yang hidup dan mengisap makanan dari organisme lain yang ditempelinya; 3 ki orang yang hidupnya menjadi beban (membebani) orang lain;-- obligat parasit yang hanya dapat hidup sebagai parasit sehingga sukar ditumbuhkan dalam media buatan (http://kbbi.web.id/parasit).
Jadi kalo menurut Pak Zaim PNS adalah parasit,bisa diartikan sendirilah maksudnya apa,hehehe.

Dari komen-komen di status facebook Pak Zaim yang saya baca,banyak juga yang menyatakan tidak setuju dengan status Pak Zaim,walaupun banyak juga yang mengamini alias setuju.Beberapa teman PNS menganggap kritikan Pak Zaim tidak jelas dasarnya apa.Saya sendiri melihat itu sebagai opini masyarakat.Opini kan berdasarkan penilaian pribadi seseorang,jadi orang mau beropini apapun,ya monggo aja,mau positif atau negatif,pasti ada alasannya.Begitu juga Pak Zaim beropini demikian,bisa jadi Pak Zaim sudah melakukan penelitian atau pengamatan sebelumnya.

Emang sih dibilang parasit itu sesuatu yang ngga enak banget.Tapi itu kan ditujukan bagi "sebagian besar" PNS,jadi sebagian lagi bukan parasit,menurut Pak Zaim.Kalo PNS parasit diartikan sebagai PNS yang hanya makan gaji buta alias magabu,masih banyak kok PNS yang memang melaksanakan tugasnya,dan mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi sebagai PNS.Saya setuju dengan Prof.Fahmi Amhar yang membagi PNS menjadi 5 stereotif,selain 2 jenis PNS yang dimaksud Pak Zaim,termasuk salah satunya adalah PNS profi yang memiliki keahlian istimewa dan dihargai oleh masyarakat.Emang sih PNS jenis ini tidak banyak,seperti dokter spesialis,peneliti,dosen, dan jabatan fungsional tertentu lainnya. http://www.bringislam.web.id/2016/08/kritik-prof-fahmi-amhar-atas-status.html).

Tapi mungkin saya ingin menambahkan 1 jenis PNS lagi,yaitu PNS yang memang benar-benar bekerja dengan sepenuh hati,memberikan kontribusi positif bagi instansi dan melayani masyarakat,karena tidak sedikit PNS yang memang mendedikasikan ilmunya untuk instansi tempatnya bekerja dan melayani masyarakat.Tidak sedikit pula PNS-PNS cerdas berprestasi yang melakukan penelitian-penelitian yang bermanfaat bagi pengambilan kebijakan.Tak sedikit pula PNS yang berusaha meningkatkan kompetensinya dengan melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi,bahkan dengan biaya sendiri (eaaa...curcol nih guweh,hehehe),dan tak sedikit pula PNS yang tidak hanya mengandalkan gaji saja,tapi juga memiliki usaha sampingan untuk meningkatkan taraf hidupnya.Menurut saya,PNS-PNS yang demikian tidak layak disebut parasit.

Memang sih istilah "parasit" gak enak banget di dengar,dengan istilah ini seolah-olah PNS hanya magabu alias makan gaji buta dan membebani negara saja.Tapi daripada kita sibuk ngomel-ngomel karena dibilang parasit,lebih baik kita introspeksi saja,membenahi yang kurang pas,memperbaiki yang kurang baik dan mempertahankan yang sudah baik.Matur nuwun Pak Zaim Saidi atas kritikannya,semoga bisa memacu kami untuk lebih baik lagi dalam melayani masyarakat dan dapat memberikan "sesuatu" kepada negara tercinta. Have a nice weekend,salam hangat untuk keluarga.



Sunday, 7 August 2016

Belajar Dari Miss "S"

Sebelum di instansi tempat saya bekerja sekarang,saya sempat berpindah-pindah di 3 perusahaan swasta,semuanya di Jogja.Waktu itu memang saya tidak berminat untuk bekerja di luar Jogja,karena beberapa alasan,salah satunya karena menjaga orang tua.Dari ketiga perusahaan tersebut,perusahaan ketigalah yang paling berkesan buat saya,walau saya hanya bekerja sekitar 3 tahun di sana,tapi banyak hal yang saya peroleh dan saya pelajari di sana.Perusahaan ini adalah sebuah perusahaan export,produknya handycraft dan furniture,dengan pangsa pasar Eropa,US,beberapa negara di Timur Tengah dan Asia.

Sejak awal diterima sampai akhirnya saya resign pada tahun 2010,saya bekerja sebagai seorang Merchandiser,atau dalam bahasa Indonesianya sales administratif untuk export.Job description saya adalah menghitung harga jual export,membuat photo offer (penawaran produk dengan foto yang dibuat sebagus mungkin supaya buyer tertarik untuk order),membuat bank data produk,menemui buyer ketika berkunjung ke showroom,meeting dengan buyer dan mengikuti pameran-pameran internasional.Tentu saja pekerjaanmengharuskan saya lebih banyak menggunakan bahasa Inggris karena berkomunikasi dengan buyer,baik via email atau lisan.

Pada waktu itu saya memiliki atasan langsung yang seorang General Manager,seorang wanita yang usianya waktu itu sekitar 45 tahun,sebut saja namanya Miss S.Saya menyebutnya Miss S karena memang Miss S ini masih single atau belum menikah.Miss S ini orangnya cantik,of course karena dia blasteran Chinese-Jawa.Miss S ini seorang dokter gigi sebenarnya.Namun entah kenapa,Miss S tidak tertarik untuk praktek, tapi lebih tertarik dengan bisnis export.Miss S ini cukup lama tinggal di US,sudah pastilah Bahasa Inggrisnya jago,pun style nya tipikal wanita-wanita cerdas dan mandiri di luar sana.Kalau ngomongin Miss S,saya jadi ingat sebuah film yang hits beberapa tahun lalu,The Devil Wears Prada,hehehe.

sumber :www.the-toast.net
Pertama kali bertemu saat interview dengan Miss S,menurut saya Miss S adalah seorang yang cerdas,cerewet dan galak.Setelah mulai bekerja,barulah saya benar-benar mengenal Miss S ini,dan ternyata tebakan saya benar.Karena beliau adalah atasan saya langsung,jadi semua pekerjaan saya harus dicek oleh beliau sebelum dikirim ke buyer.Miss S sangat detil,jadi ketika ada yang salah atau kurang sedikit saja,pasti Miss S minta untuk segera direvisi,secepatnya.Miss S tidak suka karyawan yang lambat,kalau ada yang bekerja lambat,sudah pasti deh bakal dicerewetin.

Selain detil,Miss S juga sangat perfeksionis,semua harus perfect,sempurna sesuai dengan keinginan dia,jadi sudah biasa ketika sampel produk tidak sesuai dengan keinginan dia,pengrajin harus membuatnya lagi hingga benar-benar perfect.Entah berapa kali saya diomelin Miss S karena pekerjaan saya yang tidak sesuai dengan harapannya,udah biasa banget,masuk dari kuping kiri,keluar dari kuping kanan,hehehe.

Waktu itu kantor kami punya agenda meeting setiap senin pagi,jadi minggu malam adalah saat-saat paling menyebalkan,karena paginya kami harus berhadapan dengan Miss S,dan harus siap dengan segala laporan dan alasannya,apabila ada yang tidak beres.Dan jangan sekali-kali datang terlambat,terutama hari Senin,bisa habis deh.Meeting Senin pagi selalu menjadi moment yang mengerikan bagi kami semua.Karena pada saat meeting akan selalu ada yang "dihakimi" oleh Miss S dengan kata-kata yang cukup sakit di telinga.

Seingat saya,saya pernah beberapa kali "kena" juga,saya agak lupa alasannya apa saja,kalo ga salah salah satunya karena sampel produk yang belum terkirim pada hari Sabtu minggu sebelumnya,padahal itu sangat urgent.Namun itu bukanlah murni kesalahan saya,karena sampel sudah siap,namun staf bagian sampel sangat overload di hari Sabtu itu,dan saya tidak bisa memaksa untuk mengirimnya saat itu juga.Lalu bagaimana sikap saya ketika dimarahi di depan meeting saat itu?Yang saya lakukan pada waktu itu hanya meminta maaf dan tidak memberikan pembelaan apapun karena pasti akan panjang kemana-mana.

Sudah biasa karyawan cewek yang rata-rata seusia saya waktu dibikin nangis oleh Miss S.Ya,seringkali kata-katanya,kasar,menyakitkan dan to the point.Pernah suatu hari saya membuat proforma invoice untuk buyer,dan saya email ke buyer dengan tak lupa selalu cc ke email Miss S.Begitu dia baca melalui emailnya,begini komennya "siapa ini yang buat?",teman saya menjawab "Heny,Bu".Kata Miss S "pantesan..." Saya yang mendengar hanya nyengir di balik komputer,hehehe.Entah apa maksud Miss S bilang begitu,tapi yang jelas proforma invoice yang saya buat pasti tidak sesuai dengan harapan dia.Pernah juga saya dibuat nangis oleh Miss S,tapi saya lupa kejadiannya apa waktu itu.Tak jarang Miss S memarahi stafnya di depan staf yang lain atau bahkan buyer.Hemmm...bener-bener deh.

Saya pernah beberapa kali meeting dengan buyer di Bali bersama Miss S.Mungkin bagi sebagian orang,meeting di luar kota,apalagi di Bali merupakan hal yang menyenangkan,tapi tidak bagi kami.Meeting dengan Miss S di Bali merupakan hal yang paling dihindari oleh kami stafnya,hehehe.Kenapa?Karena Miss S sangat workaholic,jadi mau meeting di manapun,meeting ya meeting.Setelah meeting selesai biasanya sampai sore atau malam,Miss S akan mengajak kita mencari sampel produk di daerah pelosok Bali,sampai malam,dan setelah itu masih harus mengerjakan product offer dan balesin email buyer.Jadi jangan harap deh bisa jalan-jalan ke Kuta atau Sanur,malamnya siap-siap begadang sampai dini hari,menemani Miss S yang sibuk di depan laptopnya.Begitu juga ketika kami mengikuti pameran bersama Miss S,pameran ya pameran aja,setelah itu tetap lanjut kerja lagi.Hadehh..

Pernah saya merasa malu banget ketika di Bali dengan Miss S,seperti biasa kami menyewa mobil untuk transportasi,tanpa driver,karena Miss S sudah hapal daerah Bali,jadi dia yang nyetir sendiri.Tapi karena waktu itu sedang high season,tidak ada mobil yang avalable.Miss S marah-marah deh waktu itu sama mas pegawai rental.Pada akhirnya kami mendapat mobil di rental yang lain,namun karena sudah kesorean Miss S pun kesel dan nyetir ke tempat seorang pengrajin di Ubud dengan kecepatan tinggi,hujan-hujan pula,dan sayapun yang disebelahnya jantungan.ckckck

Jangan pernah menceritakan tentang urusan pribadi,seperti masalah keluarga atau pacar kepada Miss S,karena dia tidak bakal suka,bahkan menjadikan alasan pacaran atau masalah pribadi,menyebabkan kinerja kita turun.Pernah teman saya ditegur pada waktu meeting senin pagi karena ada pekerjaan yang menurut dia tidak beres,begini katanya "kamu tu kecapekan karena pacaran mulu,jadi kerjamu berantakan" gubrakk..helloo..emang ada ya hubungannya pacaran dan kinerja?hehehe..ada-ada aja Miss S ini.

Ya begitulah Miss S yang cerdas,detil,arogan,perfeksionis dan tak suka basa basi,yang tak jarang bikin kami nangis waktu itu.Mirip sekali dengan tokoh Miranda yang diperankan oleh Meryl Streep di Film The Devil Wears Prada.Tapi di balik sikapnya yang arogan,dia juga memiliki banyak kebaikan.Waktu itu pernah sekali dia berpesan kepada saya untuk tidak buru-buru menikah sebelum bertemu dengan orang yang tepat.Hingga saat ini saya sendiri tidak mengetahui secara pasti kenapa Miss S masih sendiri.Kami hanya menerka-nerka saja,kemungkinan dulu Miss S ini pernah dikecewakan seseorang.Mungkin lho ya.

Miss S memang arogan,tapi dia juga mengajari saya banyak hal,bagaimana rasanya bekerja di bawah tekanan,dan bagaimana kita harus bekerja detil dan hati-hati.Bekerja dengan orang luar itu harus sangat hati-hati lho,sekali kita bikin salah,sudah pasti next mereka ga akan order produk kita lagi,belum lagi risiko kena klaim ribuan dolar.Begitu pula kalo saya salah hitung harga export,kalo masih untung sih ga papa ya,tapi kalo rugi,wahh perusahaan bisa tutup.Di balik sikapnya yang arogan,banyak hal yang saya pelajari dari Miss S.Whereever you are,thank you Miss S,it was great to work with you.







Saturday, 6 August 2016

Jangan Sentuh Hapeku!

Hemmm...judulnya cukup provokatif ya,maksudnya apa ya?Belasan tahun yang lalu,hape bisa dibilang termasuk barang mewah,tidak hanya karena harganya yang masih berkisar jutaan,namun harga pulsa isi ulangnyapun tergolong mahal.Masih ingat sekali jaman saya kuliah dulu,harga pulsa isi ulang yang paling murah adalah 100rb.Tentu saja bagi mahasiswa seperti saya waktu itu,punya hape belum tentu ada pulsanya,jadi selain cuma buat terima telpon atau sms,ya sekedar buat gaya-gayaan aja.

Berbeda dengan sekarang,dimana hape sudah bukan lagi barang mewah,tapi hape sudah menjadi barang publik,yang bisa dimiliki oleh siapapun,ngga cuma orang tua,anak muda,bahkan anak kecil.Anak SD pun sekarang pake hape,bahkan ada juga sekolah yang tidak mempermasalahkan jika anak didiknya membawa hape ke sekolah.

Lalu apa hubungan judul di atas ya?Masih ingatkah dengan lagu dangdut yang beberapa tahun lalu sempat ngehits?Kira-kira reffnya begini Bang sms siapa ini bang?Bang pesannya pake sayang-sayang?Cuma itu yang saya ingat,pun saya ngga tau juga siapa penyanyinya,bukan gaya atau gimana ya,tapi saya memang bukan penggemar musik dangdut.

Lagu tersebut sempat ngehits beberapa tahun lalu,tidak hanya karena easy listening tapi juga karena liriknya yang cukup menggelitik.Lagu itu merupakan bentuk kegalauan seorang istri karena menemukan sms mesra dari seorang wanita lain di hape suaminya.Hemmm...
Tentu saja si pencipta lagu bukan tanpa alasan menciptakan lagu tersebut.Bisa saja si pencipta lagu terispirasi oleh banyaknya kasus perselingkuhan yang terjadi dimulai dari komunikasi melalui hape.Banyaknya fitur social media (sosmed) dan fitur chatting yang ada,memberikan banyak kemudahan dan kesempatan bagi siapa saja,termasuk orang yang sudah berkeluarga,untuk bertemu dan berkomunikasi dengan banyak orang dari manapun.Tak jarang orang berkenalan dengan seseorang di dunia maya,kemudian saling bertukar nomor hape,WhatsApp (WA),atau Blackberry Messenger (BBM),lalu komunikasipun berlanjut,ketemuan dan...selanjutnya terserah anda,hehehe.

Ya itulah yang banyak terjadi saat ini.Ada cerita dari seorang teman saya,laki-laki,dia sudah menikah dan memiliki 2 anak.Kejadiannya beberapa tahun lalu.Waktu itu dia bercerita di depan saya dan beberapa teman lain.Kira-kira begini ceritanya,suatu hari di sebuah acara,secara tidak sengaja dia bertemu dengan mantan pacarnya waktu sekolah dulu.Akhirnya merekapun saling bertukar nomor hape,dan komunikasipun berlanjut.Hampir setiap saat mereka saling bertelpon dan berkabar.Terlihat sekali ketika bercerita,teman saya itu sedang berbunga-bunga karena ketemu dengan mantan pacarnya yang (maaf) saat ini berstatus janda dengan 1 anak.Komunikasipun berlanjut hingga akhirnya semakin jauh,jauh,dan jauh,tak perlu saya ceritakan di sini.

Cerita lain lagi dari seorang teman saya,wanita yang sebel dengan tingkah suaminya yang kemana-kemana hape selalu dalam genggaman,termasuk ketika di rumah dan sering sekali suaminya itu asik sendiri dengan hape nya.Teman saya menceritakan kegalauannya,sebenanya dia ingin sekali mengecek hape suaminya dan mengetahui siapa saja yang berkomunikasi dengannya.Wajar dong namanya istri,cemburu atau kuatir suaminya diam-diam "dekat" dengan wanita lain.Tapi boro-boro mau mengecek hape suaminya,mau nyentuh aja,suaminya udah manyun alias melarang.Hemmm...

Ada juga teman saya diam-diam mengecek hape suaminya,dan ternyata dia mendapati suaminya sering berkomunikasi dengan teman-teman wanitanya.Memang sih,tidak ada indikasi yang menunjukkan suaminya itu menjalin hubungan dengan wanita lain,tapi sepertinya suaminya hoby flirting alias tebar pesona,tak jarang dia mengirim rayuan maut kepada teman-teman wanitanya itu,seperti "pagi cantik" atau "Makin cantik aja".Istri mana sih yang ngga cemburu suaminya bilang gitu ke wanita lain.

Contohnya kok cowok semua ya?Oke biar fair,saya kasih contoh yang cewek juga ya.Cerita dari seorang teman saya,wanita,sudah menikah,yang tiba-tiba dia menjadi berbunga-bunga ketika dia berkenalan dengan seorang laki-laki ganteng yang juga sudah menikah,dan bisa dibilang cukup mapan.Merekapun bertukar nomor hape dan saling berkomunikasi.Beberapa kali si cowok mengajaknya makan siang,dan hubunganpun berlanjut,tentu saja tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing.

Itu hanya beberapa contoh saja,sebenarnya banyak sekali kasus perselingkuhan yang terjadi karena diawali dengan komunikasi lewat hape atau medsos.Lalu sebenarnya boleh ngga sih istri atau suami mengecek hape pasangannya?Hape termasuk barang pribadi,artinya itu adalah privacy pemiliknya,lalu bagaimana kalo suami atau istrinya ingin tau siapa saja yang berkomunikasi dengan pasangannya,apakah boleh?Saya pernah bertanya ke beberapa teman soal ini.Ada yang menjawab,bolehlah,karena suami istri kan harus terbuka satu sama lain,jadi jangan ada dusta di antara kita.Cieee...teman saya yang ini wise banget ya.

Teman saya yang lain tidak setuju dengan jawaban teman saja yang pertama tadi.Menurut teman saya ini hape adalah barang pribadi,isinya adalah privacy pemiliknya,siapapun termasuk pasangannya tidak berhak tahu apalagi ngepoin secara diam-diam.Hemm..galak juga ya teman saya yang satu ini.

Jawaban berbeda dari teman saya yang satu lagi.Menurut dia,boleh sesekali pasangan kita tau isi hape kita,tapi sesekali aja lho ya.Karena memang ada hal-hal yang privacy dan pasangan ngga perlu tau,misalnya urusan kerjaan.Jadi suami istri harusnya saling percaya ajalah dasarnya,begitu katanya.Oke-oke..noted.

www.merdeka.com
Kalo saya sendiri gimana?Dulu jaman pacaran,saya dan mantan pacar yang sekarang jadi papi Juno,biasa saling kepoin hape atau medsos pasangan itu,bahkan hingga tahun awal pernikahan.Saya sering buka hape dia untuk cek siapa aja yang telpon,yang sms,bbm atau yang lain-lain.Lalu apa yang saya temukan?Penasaran ya?hehehe.Saya fine-fine aja suami saya berkomunikasi dengan siapapun,selama itu urusan pekerjaan, atau urusan urgent lainnya.Tapi ketika komunikasinya udah di luar konteks pekerjaan,of course saya ngga suka dan akan saya tegur,begitu pula sebaliknya.Ribut-ribut karena hal ini biasalah..tapi itu dulu,ketika masih pacaran dan di awal pernikahan.Maklum masih ababil alias abege labil,hehehe.

Kalo sekarang,setelah hampir 5 tahun pernikahan,kami berdua justru malah sama sekali tidak pernah membuka hape pasangan.Saya tidak pernah buka hape dia,begitu pula sebaliknya.Apa karena ada passwordnya?Hape saya memang berpassword,tapi suami saya tau passwordnya,dan kalo dia mau cek pun bisa saja sebenarnya,toh hape nya selalu saya taruh di tempat yang mudah dijangkau kok.Alasan saya mempassword adalah karena alasan keamanan,aman secara umum atau aman dari tangan Juno.Ya,Juno sekarang lagi senang-senangnya nonton video anak-anak di youtube,jadi kalo hape saya gak dikasih password,repot kalo udah dipegang Juno.

Sebaliknya suami saya tidak pakai password,jadi saya bisa saja buka hape dia kapan saja.Tapi apa saya cek hapenya?Tidak.Apakah kami tidak saling curiga?Of course sebagai pasangan pasti ada dong rasa curiga dan cemburu,ketika pasangan kita sedang tidak berada bersama kita.Bukankah cemburu itu tanda sayang?Bener banget.Apalagi saat ini apa sih yang ngga mungkin,apa aja mungkin,ibarat kata orang alim aja bisa selingkuh kok.Jadi wajar aja kalo kita curiga atau kepo dengan pasangan kita,tapi mungkin dengan cara yang pas ya.Kalo memang mau tau isi hape pasangan,ya bilang aja,ga usah diam-diam ngecek,karena kalo pasangan tau bisa ribet tuh,hehehe.

Ga perlu lah menginterogasi pasangan kita kayak penyidik kepada tersangka.Kamu dari mana,ngapain aja,sama siapa?Siapa yang ngga sebel ditanyain begitu,saya aja pasti sebel,hehehe.Dan konon katanya cowok kalo dicurigai yang berlebihan,justru dia malah makin menjadi.Entah bener atau ngga,saya belum pernah melakukan penelitian tentang ini.Mungkin next bisa dilakukan survey ya,hehehe.

Ga perlu jugalah menghubungi pasangan setiap saat,selain mengganggu aktivitas pasangan kita,itu juga bisa bikin ga nyaman lho.Bayangkan pas lagi meeting atau kumpul sama teman-temannya,tiba-tiba kita nelpon,kamu dimana,lagi ngapain,sama siapa?Gubrakkk.Bukan hanya yang ditelpon yang sebel,yang denger juga sebel.
Jujur,ketika sedang beraktivitas,kerja maksudnya,saya dan suami jarang sekali bertelpon kecuali urgent,paling WA aja,itupun bisa dihitung.Selain emang ga perlu,bingung juga mau ngobrolin apa wong nanti di rumah juga ketemu.

Keterbukaan sepertinya emang sangat penting ya.Pasangan kita adalah orang yang ditakdirkan Tuhan untuk menemani kita dalam suka maupun duka,sudah seharusnya kita berbagi perasaan dengannya,bukan dengan orang lain,medsos,orang lain apalagi mantan,bisa ribet nanti,hehehe.Kalo emang kita curiga,cemburu,tidak nyaman dengan apa yang dilakukan pasangan kita,sampaikan saja,termasuk kalo kita ga nyaman dengan tingkah pasangan yang selalu asik dengan hapenya sendiri atau melarang kita untuk "menyentuh" hapenya.

Sampaikan juga kepada pasangan kita hal-hal yang memang harus diketahui pasangan kita,supaya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,misalnya saja ketika suatu hari mantan dari jaman majapahit (saking lamanya sampai lupa) tiba-tiba menghubungi kita,atau ketika ada teman lawan jenis mulai ngajak ngobrol di luar konteks.Tapi sampaikan dengan cara yang tepat juga,biar "aman terkendali".

Jadi intinya apapun sikap kita terhadap hape pasangan,mau kepoin isinya,mau ngecek diam-diam,mau cuek,mau percaya 100%,itu ga penting,yang penting adalah saling percaya,saling menjaga kepercayaan dan jangan saling cuek.Ini sekedar share pengalaman saja,semoga bermanfaat.Have a nice weekend,salam hangat untuk keluarga.






Wednesday, 3 August 2016

Kegalauan Seorang Teman,Apa Hubungannya Dengan MEA?

Beberapa hari lalu saya mendapat pesan text dari seorang teman.Teman saya ini,sebut saja si X,cowok usia 28 tahun,lulusan S2.Kami memang berteman baik,kadang kalo lagi "galau",dia sering curhat sama saya terutama soal cewek atau hal lain.Oiya,si X ini masih single.Kemarin lewat pesan yang dikirim ke saya,dia curhat,tapi kali ini bukan soal cewek,tapi dia lagi galau karena keluarganya saat ini sering menanyai soal pekerjaan.Ya,si X ini memang belum pernah bekerja.Belum pernah sama sekali,sejak lulus S1,pun sejak lulus S2.Pernah dia mendapat beberapa panggilan tes atau interview kerja,tapi hingga sekarang belum ada yang "nyantol".

Saat ini teman saya ini baru galau,karena keluarganya,terutama ibu nya sering sekali menanyakan kapan dia bekerja,apalagi sudah lulus S2.Sudah pastilah pertanyaan ini sangat sensitif bagi si X,dan alhasil membuat dia sedih,dan merasa bersalah kepada orang tuanya karena merasa telah mengecewakan mereka.Si X pernah mendapat tawaran bekerja sebagai dosen,namun dia tidak mengambil tawaran itu dengan alasan di luar Jawa,sementara orang tuanya berharap dia menjadi dosen.Nahh..di sinilah semuanya berawal.Orang tua si X sangat berharap anaknya menjadi dosen,sementara anaknya tidak ingin menjadi dosen namun ingin bekerja di perusahaan,manajer apa gitu,begitu katanya.Dan sayapun bingung mau jawab apa curhatan dia kali ini.

Siang tadi saat makan siang saya sempat melihat berita di televisi tentang penangkapan 70 orang buruh asal Cina di Banten.Mereka dibawa ke Mapolda Banten karena tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian.Para buruh Cina tersebut bekerja di proyek pembangunan pabrik semen,dengan komposisi pekerja,30% tenaga kerja lokal dan 70% tenaga kerja asing.Anehnya gaji buruh Cina tersebut jauh lebih besar dari gaji tenaga kerja lokal,untuk ukuran pekerja kasar.Menurut data dari Polda Banten,buruh Cina ini mendapat gaji 15 juta/bulan,sangat jauh dibandingkan gaji pekerja lokal yang hanya sekitar 2 juta/bulan.Selain pekerja kasar,di sana ditemukan pula tenaga kerja Cina yang ditempatkan di kantor,dengan gaji yang cukup fantastis,20-25juta/bulan.Woww...(https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2016/08/01/parah-polisi-tangkap-70-buruh-cina-ilegal-di-banten-gajinya-super-besar-dibanding-buruh-lokal/)


Cerita tentang teman saya tadi,dan penangkapan buruh Cina di Banten ,sebenarnya merupakan dua fenomena yang ada kaitannya dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),yang telah aktif dilaksanakan sejak tanggal 31 Desember 2015.MEA itu apa sih sebenarnya?MEA bisa diartikan sebagai suatu masyarakat yang saling terintegrasi satu sama lain, adanya perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN,dan usaha-usaha untuk menjadikan kawasan ASEAN menjadi lebih kompetitif,stabil,dan maju.


sumber : www.askrida.com
Tentu saja,dengan adanya MEA kita harus siap memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan-tantangannya.Nah,ngomongin peluang,apa saja sih peluang yang ditawarkan oleh MEA?Dengan adanya integrasi ekonomi, tentu saja pasar dunia menjadi lebih terbuka lebar.Selain itu membuka kesempatan Indonesia menjadi negara tujuan investor,dan semakin terbukanya sektor jasa,selain sektor perdagangan tentu saja.Selain memberikan peluang,MEA juga memberikan tantangan kepada kita.Lalu apa aja sih tantangan di era MEA?Dengan makin terbukanya pasar dunia,tentu saja akan meningkatkan ekspor,daya saing produk, dan daya saing Sumber Daya Manusia atau SDM.

Yang akan saya bahas di sini adalah tantangan yang ketiga,yaitu SDM.Ya,dengan adanya MEA,tentu saja SDM menjadi salah satu tantangan besar yang harus dihadapi.Dengan pasar dunia yang makin terbuka lebar,arus tenaga kerja akan semakin "deras",baik tenaga kerja yang masuk dan tenaga kerja yang keluar,dari segi kuantitas maupun kualitas.Artinya akan semakin banyak tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia,demikian pula akan semakin banyak tenaga kerja Indonesia yang bekerja di 12 sektor yang menjadi prioritas MEA.Ya,ada 12 sektor yang menjadi prioritas MEA.Dari 12 sektor itu 8 adalah sektor perdagangan yang terdiri dari sektor pertanian,perikanan,industri karet,kayu,tekstil dan pakaian,otomotif,elektronik,teknologi informasi dan komunikasi.Dan 4 sektor jasa terdiri dari sektor kesehatan,pariwisata,perhubungan udara dan logistik.

Dengan adanya 12 sektor prioritas tersebut,sudah pasti profesi di sektor-sektor tersebut mempunyai peluang yang besar untuk masuk,sehingga perlu adanya Mutual Recognition Arrangement (MRA).MRA adalah kesepakatan antara 2 negara atau lebih mengenai suatu hal yang berhubungan dengan kepentingan negara-negara tersebut,misalnya kesepakatan mengenai impor barang dan bea cukai.Selain itu MRA juga digunakan untuk mengatur tentang profesi atau tenaga profesional tertentu.Nah,profesi apa saja sih yang sudah ada MRAnya?

Ada 8 profesi yang sudah memiliki MRA,yaitu insinyur,tenaga pariwisata,akuntan,arsitek,dokter gigi,tenaga survey,praktisi medis,dan perawat.Sudah pasti dengan adanya MRA,profesi-profesi tersebut akan menjadi "most wanted" di era MEA,namun bukannya tidak mungkin untuk masa mendatang akan makin banyak lagi profesi yang memiliki MRA.

Lalu apa bedanya SDM di era MEA dan sebelum MEA?Sudah pasti beda dong.Di era MEA peluang SDM profesional semakin terbuka lebar,baik di dalam maupun di luar negeri.Kalau sebelum era MEA,kualitas SDM lebih banyak ditentukan oleh background pendidikan dan pengalaman kerja,di era MEA kualitas SDM ditentukan oleh 4 hal,yaitu : (1)Kompetensi kerja yang didukung oleh Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) (2)Kemampuan Berbahasa asing (3)Etos Kerja dan (4)Kualifikasi kompetensi yang sesuai dengan pasar kerja Asean.

Nah,yang menjadi permasalahan di Indonesia saat ini adalah tingkat kompetensi tenaga kerja masih di bawah standar dan tenaga kerja yang sudah kompeten belum mendapat pengakuan secara resmi dalam bentuk sertifikat kompetensi.Sebagai contoh,Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri masih didominasi oleh tenaga kerja unskilled atau low skilled.Saat ini,orang melamar pekerjaan hanya berbekal ijazah,syukur-syukur yang sudah punya pengalaman bekerja,kesempatan untuk memperoleh pekerjaan lebih besar,namun bagaimana dengan yang belum punya pengalaman bekerja?Ya tentu saja harus bersabar,karena perusahaan biasanya lebih mengutamakan yang berpengalaman kerja.

Saya teringat bulan Maret lalu ketika Gubernur DIY,yaitu Sri Sultan HB X di sebuah acara resmi menyampaikan pengalaman beliau waktu berkunjung di salah satu negara di Eropa.Waktu itu beliau membawa rombongan penari dari Institut Seni Indonesia (ISI.Perdana Menteri bertanya kepada Sultan mengenai sertifikat kompetensi yang dimiliki oleh para penari-penari tersebut.Tentu saja penari-penari tersebut hanya memiliki ijazah dan belum memiliki sertifikat kompetensi.

Contoh yang lain adalah ketika saya mengikuti sebuah seminar,dimana narasumber menceritakan pengalaman putranya yang sedang menempuh study di Belanja.Suatu hari,putranya membeli buku tentang teknik memijat,dan di waktu senggang dia membaca dan dipraktekkan dengan memijat teman-temannya.Ternyata banyak teman yang cocok dengan pijatannya.Diapun iseng memasang iklan online jasa memijat,dan ternyata peminatnya banyak.Hingga suatu hari dia mendapatkan seorang pelanggan yang merupakan pejabat di Belanda.Pelanggannya tersebut menanyakan sertifikat memijat yang dia miliki,dan karena dia tidak memiliki sertifikat,si pelanggan menyarankan untuk mengurus sertifikat kompentensi memijat.Diapun segera mengurus sertifikat memijat,dan setelah dia memiliki sertifikat,pelanggannya semakin banyak,dengan tarif yang berlipat-lipat.


Selain kompetensi,yang tak kalah penting,yang wajib dimiliki oleh SDM di era MEA ini adalah kemampuan bahasa asing.Akan banyak tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia,begitu juga sebaliknya,tenaga kerja Indonesia profesional juga memiliki kesempatan besar untuk mengisi posisi-posisi strategis di sektor perdagangan dan jasa di Asean.Namun bukan berarti semua tenaga kerja asing bisa masuk ke Indonesia lho ya,semua ada prosedurnya,dan hanya jabatan-jabatan tertentu saja,yaitu tenaga profesional,tidak seperti buruh Cina di Banten tadi,kalau itu sih sudah pasti nggak bener alias ilegal.Dengan adanya arus tenaga kerja profesional,baik masuk maupun keluar,bahasa asing,terutama Bahasa Inggris menjadi sangat penting karena sudah pasti menjadi bahasa yang utama.

Kegalauan teman saya tadi adalah salah satu contoh fenomena yang banyak terjadi di era MEA.SDM di era MEA beda dengan era sebelum MEA.Kalau dulu ijazah plus pengalaman kerja sudah cukup,tapi di era MEA,itu saja tidak cukup.Banyak hal lain yang harus dipersiapkan untuk menghadapi MEA,terutama kualifikasi kompetensi yang ditunjukkan dengan sertifikat kompetensi dan kemampuan bahasa asing juga harus dimiliki.Have a nice day,salam hangat untuk keluarga.







Tuesday, 2 August 2016

Srikandi Belia,Semangatmu Luar Biasa Dek..

Sejak 2 bulan terakhir ini saya berkesempatan untuk menyampaikan salah satu materi pembekalan bagi calon TKI yang akan berangkat ke luar negeri.Pertama kali saya menyampaikan materi,sekitar 2 bulan lalu,saya dibuat makjleb.Kenapa?Begitu saya masuk ruangan,di sana ada sekitar 40an calon TKI yang hampir semuanya adalah gadis berusia belasan tahun yang akan berangkat berangkat bekerja ke Malaysia.Mereka akan bekerja di beberapa kilang (pabrik) elektronik di Malaysia sebagai operator produksi.

Saya bertanya kepada mereka,berapa usia mereka.Sebagian besar dari mereka berusia 19-20an tahun,ada beberapa sih yang lebih dari itu,tapi kebanyakan adalah gadis belia yang baru saja lulus SMU atau SMK,jadi usianya rata-rata 18-19 tahun.Saat bertemu mereka saat itu, tenggorokan saya sakit seperti tercekat,saya terharu sekaligus malu.Betapa tidak,mereka dengan usia semuda itu,memiliki keberanian yang luar biasa,memutuskan untuk bekerja jauh dari keluarga,bukan main-main,tidak hanya di luar kota atau luar pulau,tapi di luar negeri,ya di luar negeri.

Saya teringat ketika saya seusia mereka,baru lulus SMU,jangankan kepikiran cari kerja,yang ada di pikiran ya cuma belajar,main sama teman dan minta uang pada orang tua,itu saja.Saya malu dengan mereka yang masih belia ini,yang dengan semangat dan keberanian luar bisa rela meninggalkan keluarga,teman dan mungkin pacar,untuk mencari nafkah di negeri orang,di saat remaja seusianya melanjutkan study di bangku kuliah atau bersenang-senang.Luar biasa sekali ya mereka ini.

Sebelum menyampaikan materi,saya selalu ngobrol dulu dengan mereka,salah satunya tentang alasan mereka bekerja di luar negeri.Ada banyak alasan yang mendasari tekad gadis-gadis muda ini untuk menjadi TKI,sebagian besar adalah faktor ekonomi.Ya,bisa dibilang sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga yang tidak cukup beruntung secara finansial.Bahkan ada beberapa dari mereka yang berangkat,untuk yang kedua kalinya,artinya sebelumnya mereka sudah pernah bekerja di sana selama 2 tahun,kontrak habis,lalu pulang ke Indonesia dan sekarang ingin berangkat lagi.Alasannya?Karena betah?Belum tentu.Ada yang harus menanggung pengobatan orang tua yang sakit,ada yang harus membayar hutang keluarga,ada yang ingin mengumpulkan modal usaha,dan ada juga yang putus asa karena kesulitan mendapatkan pekerjaan di Indonesia.

sumber : pebisnismuslim.com
Dan sekarang minimal 1-2 minggu sekali saya bertemu dengan srikandi-srikandi belia yang akan bekerja ke luar negeri,yang juga mempunyai semangat dan tekad yang sama dengan srikandi-srikandi yang sudah berangkat sebelumnya.Di sini saya menyebut mereka Srikandi.Srikandi adalah tokoh dalam pewayangan Jawa,yang menjadi suri teladan prajurit wanita.Menurut saya,Srikandi adalah sebutan yang pas bagi gadis-gadis belia yang juga pahlawan devisa ini.

Saat bulan puasa lalu saya juga bertemu dengan mereka yang akan berangkat ke Malaysia,beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri.Kembali tenggorokan saya tercekat.Selama ini saya belum pernah sekalipun merayakan lebaran jauh dari keluarga.Dan mereka,yang masih belia,dan rata-rata belum berkeluarga ini akan merayakan lebaran di tempat baru,tanpa ada keluarga.Sekali lagi hati saya rasanya makjleb,terharu dan malu.Tak bisa saya bayangkan,gadis-gadis belia ini berlebaran di tempat baru dan jauh dari keluarga.

Untuk memotivasi mereka,biasanya saya lebih banyak bercerita tentang success story para TKI yang saya kenal,termasuk cerita tentang TKI yang saya temui saat liburan di Malaysia bulan Mei lalu.Ya,bulan Mei lalu saya berkunjung ke Malaysia bersama suami,dan secara tidak sengaja saya bertemu dan ngobrol dengan seorang TKI asal Jawa Timur yang sudah belasan tahun bekerja di Malaysia,dan bisa dibilang lumayan sukses.Cerita tentang TKI yang saya temui di Malaysia ini selalu saya ceritakan kepada calon TKI yang akan berangkat bekerja untuk memotivasi mereka,supaya mereka di sana fokus bekerja,dan syukur-syukur bisa mengumpulkan modal usaha,supaya kelak tidak perlu berangkat untuk bekerja di sana lagi,syukur-syukur lagi bisa buat biaya melanjutkan kuliah.Saya akan ceritakan pengalaman saya bertemu dengan TKI di Malaysia ini pada postingan saya yang lain.

Saya bersyukur berkesempatan bertemu srikandi-srikandi belia ini.Banyak hal yang saya pelajari dari mereka.Seringkali kita mengeluhkan tentang pekerjaan kita,yang overload lah,unfair lah,yang ga habis-habislah,yang inilah,itulah,tapi pernahkah kita berpikir di luar sana banyak sekali adek-adek kita,teman-teman kita yang harus rela jauh dari keluarga untuk mencari nafkah di negeri orang?Pernah tidak kita berpikir di luar sana masih banyak adek-adek dan saudara kita yang sudah berusaha melamar pekerjaan sana sini tapi belum juga beruntung mendapatkan pekerjaan yang diinginkan?Srikandi-srikandi belia inilah contohnya.Mereka harus bersaing dengan pencari kerja lainnya yang berijazah sarjana,dan jika tidak beruntung mendapatkan pekerjaan di Indonesia,tidak ada pilihan lain selain mencoba peruntungan di negeri tetangga.

Srikandi-srikandi belia tadi merupakan salah satu potret sosial ,mereka harus fight dan rela meninggalkan keluarganya untuk mencari nafkah di negeri tetangga.Ya,ini merupakan salah satu pe er besar pemerintah,tapi bercermin dari itu,seharusnya kita yang bekerja di sini lebih bersyukur.Terima kasih dek,sudah mengajarkan banyak hal.Semoga Tuhan selalu menjaga kalian dan mewujudkan mimpi kalian semua.